Makkiyah dan Madaniyah
Makalah
Study al-Qur’an
Dosen
Pembimbing:
Prof. Dr. Moh.
Ali Aziz, M.Ag
Asisten
Dosen :
Ati’
Nursyafa’ ah, M.Kom.i
Disusun oleh:
Widya Meilis
Rusandi (B0121953)
Program Studi
Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas
Dakwah dan Komunikasi
Universitas
Islam Negeri Sunan Ampel
Surabaya
2019
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirobbil
‘Alamin segala puji bagi Allah untuk segala nikmat yang direngkuh, yakni
keindahan dan kesejukan islam. Segala puji bagi memamapukan hati untuk berusaha
istiqomah berada di jalan islam yang lurus meski halangan menentang di depan
jalan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah kami dengan judul ‘Ayat – Ayat Makkah dan Ayat – Ayat Madinah
ini dengan waktu yang sesingkat-singkatnya.
Saya ucapkan
terimakasih kepada dosen pengampuh mata kuliah Study Al Qur’an yang
telah membimbing saya. Dan saya sadar
akan kekurangan dalam makalah saya, maka saya
mohon maaf sebesar-besarnya. Semoga makalah saya dapat
bermanfaat bagi para pembaca semua.
Surabaya,
21 Agustus 2019
BAB I
A. Latar Belakang
Al-Qur’an merupakan wahyu yang di turunkan oleh Allah
untuk umat islam yang di jadikan sebagai pedoman yang wajib di pelajari umat islam.
Dalam mempelajari al-Qur’an tidak akan luput dengan mempelajari ilmu al-Qur’an
itu sendiri, pembelajaran tentang al-Qur’an itu sendiri akan mencakup berbagai
pembahasan. Seperti: tajwid, sejarah
penulisan al-Qur’an dan tahap-tahap al-Qur’an di
turunkan yang akan membuat kita mengenal istilah Makiyyah dan Madaniyyah
Seperti yang kita ketahui al-Qur’an di turunkan di tempat
yang berbeda-beda.Turunnya al-Qur’an di bedakan menjadi dua : Makkiyah dan Maddaniyah.
Oleh sebab itu pada pembahasan ini, kita akan membahas
tentang ayat-ayat Makkah dan Madinah dari mulai pengertian, perbedaan
agar kita memahami lebih dalam tentang ayat-ayat Makkah dan Madinah.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian tentang ayat Makkah dan Madinah ?
2.
Apa pedoman penentuan ayat Makkah dan Madinah?
3.
Bagaimana ciri-ciri ayat Makkah dan Madinah?
4.
Apa manfaat pengetahuan tentang ayat-ayat Makkah dan Madinah?
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui pengertian ayat Mekkah dan Madinah.
2.
Mengethaui pedoman ayat Makkah dan Madinah.
3.
Mengetahui ciri-ciri ayat Makkah dan Madinah.
4.
Mengethaui manfaat pengetahuan ayat ayat Makkah dan Madinah.
BAB II
A. Pengertian ayat Makkah dan madinah
Pengertian ayat Makkah dan Madinah
terdapat 4 teori
:
1.
Teori Mulahazah
Makan an-nuzul
Dalam teori ini pengertian makiyyah
adalah ayat atau surah yang di turunkan di Mekkah atau di sekitarnya baik waktu
turunya sebelum Nabi saw melakukan hijrah atau sesudahnya Sedangkan Madaniyyah
adalah ayat atau surah yang turun di Madinah atau di sekitarnya, baik waktu
turunnya sebelum Nabi saw berhijrah maupun sesudahnya.
2.
Teori Mulahazah zaman an-nuzul
Dalam teori ini berdasarkan turunnya sejarah al-Qur’an. Ayat Makkiyah
adalah ayat atau surah yang turun sebelum Nabi SAW berhijrah. Sedangkan
Madaniyyah ayat atau surah yang di turunkan setelah Nabi berhijrah.
Teori ini berpegang pada hadist Raiwayat Abu Amr Uthman bin Sa’id ad- Darimi yang
disandarkan pada Yahya bin Salam
3. Teori Muahazah Mukhatabin
Fi An-Nuzul
Didalam teori ini
berdasarkan siapa yang di
undang dalam ayat ini, jika subjeknya adalah orang-orang Mekkah yang biasa dipakai
“Ya ayyuhannass (wahai manusia), “Ya Ayyuhal Kafirun “ (wahai orang-orang
kafir) atau “Ya Bani Adama (wahai anak adam) maka ayat terdsebut dinamakan Makkiyah,
begitu juga jika yang diundang adalah orang madinah yang biasanya menggunakan
kata “Ya Ayyuhalladziina Amanu” (wahai orang-orang yang beriman) maka ayat
tersebut dinamakan Madaniyah.
4.
Teori Mulahazah Ma Tadammanat an- Nuzul
Didalam teori ini ayat atau surah Makiyyah adalah ayat atau surah yang
menceritakan ummat terdahulu dan para nabi. Sedangkan Madaniyah berisi tentang hudud,
faraid dan hukum-hukum
lainnya.[1]
B.
Pedoman Penentuan Ayat Mekkah dan Madinah
Dasar penetapan ayat-ayat Makkah dan Madaniyyah
yakni : Simai’iy dan Qiyasiy. Untuk mengenal cara Sima’iy yaitu dengan cara mengetahui ayat dan surah Makkiyah yang diperoleh
berdasarkan riwayat. Riwayat- riwayat yang mereka lihat dari. Dan juga riwayat dari para sahabat Nabi yang mereka
lihat, menyaksikan dan mengetahui secara jelas kapan, dimana, mengapa, dan
bagaimana ayat-ayat al-Qur’an turun. Dan juga riwayat para tabi’in yang mereka
bertemu dan berguru pada sahabat dan mendapatkan informasi tentang al-Qur’an
dari para sahabat.dan cara inilah yang menjadi pedoman utama untuk mengetahui
Makkiyah dan Madaniyyah .
Sedangkan menegtahui cara qiyasi yaitu dengan cara mengetahui ayat dan surah Makkiyah dan Madaniyah berdasarkan dengan kriteria yang terlihat. Antara lain : dengan cara mengetahui melalui ciri kitabnya, isinya atau kandungan, redaksinya.[2]
Sedangkan menegtahui cara qiyasi yaitu dengan cara mengetahui ayat dan surah Makkiyah dan Madaniyah berdasarkan dengan kriteria yang terlihat. Antara lain : dengan cara mengetahui melalui ciri kitabnya, isinya atau kandungan, redaksinya.[2]
Cara untuk mengetahui dasar penetapan suatu surah masuk dalam kategori Makkiyah dan Madaniyah
menurut qiyasi adalah sebagai berikut:[3]
1. Dasar Aglabiyah ( Mayoritas )
1. Dasar Aglabiyah ( Mayoritas )
Suatu surah akan tergolong dalam surat Makkiyah jika mayoritas ayat-ayatnya adalah Makkiyah maka surah tersebut tergolong Makkiyah begitupun sebaliknya. Dan jika surat itu
mayoritas ayat-ayatnya Madaniyah maka
disebut Madaniyah.
2.
Dasar Tabi’iyah ( kontuinitas )
Suatu surah akan tergolong Makkiyah jika didahului dengan
ayat-ayat yang turun di Makkah (sebelum hijrah) maka surah tersebut disebut Makkiyah,
begitupun sebaliknya. Jika didahului dengan ayat-ayat yang turun di madina (sesudah hijrah) maka disebut dengan Madaniyah.
Adapun
beberapa objek yang menjadi kajian para ulama Seperti : [4]
1.
Ayat-ayat Makkiyah dalam surat -surat
Madaniyah.
Dalam surat Makkiyah atau madaniyah tidak seluruhnya berisikan ayat-ayat Makkiyah atau Madaniyah. Karena dalam surat Makkiyah terdapat Ayat – ayat
Madaniyah begitupun sebaliknya. Penamaan surat berhubungan dengan banyaknya
ayat yang terkandung didalamnya. Contoh
jika ayat yang terkandung dalam sebuah
surat itu banyak dari Madaniyah, maka itu Madaniyah. tetapi bila terdapat
beberapa ayat Makkiyah didalamnya, maka
akan disebutkan seperti : bahwa surat
itu Madaniyah kecuali ayat di ayat ‘ini’
adalah Makkiyah
Seperti surat Al-Anfal
adalah ayat Madaniyah tetapi banyak para ulama
mengecualikannya.
وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ
الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ ۚ
وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ
Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan
daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau
mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu.
Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya. (QS.
Al-Anfal[8]: 30)
2.
Ayat – ayat Madaniyah dalam surat Makkiyah
Misalnya surat Al-An’am, Ibnu Abbas berkata “surat ini
diturunkan sekaligus di Makkah, maka ia adalah Makkiyah namun kecuali tiga ayat
didadalmnya yang diturunkan di Madinah seperti ayat 151-153.Dan juga pada surat
Al-Hajj terdapat 3 ayat yang diturunkan di Madinah yaitu ayat 19-21.
هَٰذَانِ خَصْمَانِ اخْتَصَمُوا فِي رَبِّهِمْ ۖ فَالَّذِينَ
كَفَرُوا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِنْ نَارٍ يُصَبُّ مِنْ فَوْقِ رُءُوسِهِمُ
الْحَمِيمُ
“Inilah
dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka
saling bertengkar mengenai Tuhan mereka. Maka orang kafir akan dibuatkan untuk
mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke
atas kepala mereka. (QS. Al-Hajj[22]: 19-21)
3. Yang turun di Makkah namun hukumnya Madaniyah
3. Yang turun di Makkah namun hukumnya Madaniyah
Ayat ini
diturunkan di Makkah di massa penakulan
kota Makkah tetepi ayat ini tergolong Madaniyah karena diturunkan selepas hijrah dan perintahnya pun bersifat umum. Para ulama pun mengatakan bahwa surat ini adalah Makkiyah namun hukumnya Madaniyah seperti pada surat Al- Hujurat[49] ayat13
يَا أَيُّهَا
النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا
وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ
إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. Al-Hujurat[49]: 19).
4.
Ayat – Ayat yang Diturunkan di Madinah
namun Hukumnya Makkiyah.
Para ulama memberikan contoh pada permulaan surat Bara’ah (At-Taubah) yang
seruanya ditunjukkan
pada orang-orang musyrik di kota Makkah namun ayat ini
diturunkan di
Madinah. Juga seperti pada surat Al-Mumtahanah yang sama
juga seruannya ditunjukan pada orang musyrik di kota Makkah namun diturunkan di
Madinah
5.
Yang serupa dengan yang diturunkan
di Makkah dalam kelompok Madaniyah
Pada surat Al- Anfal[8]
ayat 32 ialah ayat yang terdapat pada surat Madaniyah tetapi terdapat ciri–ciri umum seperti Makkiyah. Ayat ini turun dikarenakan kaum
musyrikin untuk disegerakan adzab dan itu berada di Makkah .
6.
Yang serupa dengan yang diturunkan di Madinah dalam
kelompok Makkiyah
Didalam
surat An-Najm[53] ayat 32.
الَّذِينَ
يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ ۚ إِنَّ
رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ ۚ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ
الْأَرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ ۖ فَلَا
تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ
“(Yaitu) mereka yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan
keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil”. Sesungguhnya Tuhanmu
maha luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia
menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu, maka
janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang
yang bertakwa(QS. An-Najm[53]: 32)
7.
Ayat yang dibawah ke Makkah dan Madinah
Dalam hal ini dicontohkan dengan surah Al–A’ala[87]. Diriwayatkan Oleh Bukhori dari
Al-Barra bin ‘azib yang mengatakan “orang yang pertama kali datang pada kami
dari para sahabat adalah mus’ab bin umair dan Ibn Ummi Maktum. Keduaya
membacakan Quran pada kami. Sesudah itu datanglah Amar, Bilal dan Sa’ad.
Kemudian datang pula Ummar Bin Khatab sebagai orang yang kedua puluh. Baru
datanglah nabi. Aku melihat penduduk madinah bergembira setelah aku membacakan
Sabbihisma rabbikal a’ala dari antara surah yang semisal dengannya. Pengertian
ini cocok dengan quran yang dibaca oleh golongan Muhajirin lalu
diajarkan kepada kaum anshar”.
8.
Ayat yang dibawah dari Mainah ke Makkah.
Ketika awal surah
Al-Bara’ah turun,
Rasulullah SAW memerintahkan Ali bin Abu Thalib untuk membawa ayat tersebut
kepada Abu Bakar agar ia sampaikan kepada orang musyrik. Setelah itu
Abu Bakar pun membaca dan mengumumungkan kepada kaum musyrik bahwa setelah
tahun ini tidak seorang musyrik pun diperbolehkan haji.
9.
Ayat yang turun dimalam hari dan siang hari.
Pada ayat
suci al-Qur’an terdapat banyak ayat yang di turunkan di siang hari dan hanya
beberapa yang turun di malam hari contohnya adalah di awwal surah Al-Fath[48],
terdapat dalam, shokhi bukhori dari hadist.
Umar:”Telah
diturunkan padaku pada malam ini sebuah surah yang lebih aku sukai dari apa
yang telah di sinari oleh matahari”. Kemudian beliau membacakan “sesungguhnya
kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata”.
10.
Ayat yang turun di musim panas dan dingin
pada ulama telah memberikan contoh ayat yang
turun di musim panas ialah pada akhir surah An-Nisa[4] pada akhir surah dalam
shosih muslim dari Ummar:”tidak ada yang sering ku tanyakan pada rasulullah saw
tentang sesuatu seperti pertanyaanku tentang kalalah. Dan Ia pun tidak pernah
bersifat kasar tentang suatu urusan seperti sikapnya kepadaku mengenai kalalah
itu”. Sampai-sampai Ia menekan dadaku dengan jarinya sambil beliau berkata “Ummar belum cukupkah bagimu satu Ayat yang di
turunkan pada musim panas yang terdapat di akhir surah An nisa[4]”.
Sedang yang turun di musim dingin di contohkan dengan ayat-ayat yang mengenai tuduhan bohong yaitu terdapat
dalam surah An-Nur[24] : “Sesungguhnya orang-orang yang membawa cerita bohong itu
adalah bagian dari segolongan kamu juga. Sampai dengan bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia” [An-Nur].
11.
Yang turun di waktu menetap dan turun di waktu perjalanan
Dalam al-Qur’an mayoritas ayat-ayat dalam suatu Surah diturunkan pada saat Rasulullah
pada keadaan menetap akan tetapi Imam As-Sayuthi menyebutkan banyak contoh ayat
yang diturunkan ada saat perjalanan diantaranya surah Al Anfal yang turun di
Badr setelah selesai perang.
C. Ciri-ciri Ayat Makkah dan Madinah
1.
Makkiyah.
a. Dimulai dengan ya Ayyuhannas (Wahai manusia),
Ya Ayyuhal Kafirun (Wahai orang-orsang kafir),Ya Bani Adam (Wahai keturunan
adam) terdapat 292 jenis ayat ini.
b. Terdapat
kata Kalla (sekali-kali tidak, atau jangan begitu).
c. Ayat-ayat sajdah (disunatkan bersujud ketika membacanya).
d. Diawali huruf terpotong seperti Alif-lam-Mim, Nun. Ya-Sin
e. Berisi kisah-kisah, akhlak dan keimanan.
f. Pendek-pendek
g .Berisi sumpah, misalnya : “Demi masa dan sebagainya
”.
2 . Madinah
a. Ya
ayyuhalladzina Amanu (Wahai orang-orang yang beriman). Terdapat 219 ayat jenis ini.
b. Berisihukum, kemasyarakatan, perang, sifat orang-orang munafik, pemeluk agama Kristen dan Yahudi.
Contoh surat Makkiyah dan Madaniyah :
1.
Al-An’am
2.
Al-A’raf
3.
Yunus
5.
Hud
6.
Yusuf
7.
Ibrahim
8.
Al-Hijr
9.
An-Nahl
10. Al Isro’
11. Al Kahfi
12. Maryam
13. Ta ha
14. Al-Anbiya
15. Al-Mu’minuun
16. Al furqon
17. Asy-Syu’aro’
18. An-Naml
19. Al-Qashash
20. Al-Ankabuut
21. Ar-Ruum
22. Luqman
23. As-Sajdah
24. Sabaa’
25. Al-Fatir
26. Ya
sin
27. As-Saffat
28. Sad
29. Az-Zumar
30. Ghafir
31. Fusilat
32. Asy-Syauroo
33. Az-Zhukhruf
34. Ad-Dukhan
35. Al-Jasiyah
36. Al-Ahqaf
37. Qaf
38. Adz-zariyaat
39. At-Tur
40. An-Najm
41. Al-Qamar
42. Al-Waqi’ah
43. Al-Mulk
44. Al-Qalam
45. Al-Haqqah
46. Al-Ma’arij
47. Nuh
48. Al-Jinn
49. Al Muzzammil
50. Al-Muddassir
51. Al-Qiyamah
52. Al-Murasalat
53. An-Naba’
54. An-Naziat
55. ‘Abasa
56. At-Takwiir
57. Al-Infitar
58. Al-Insyiqaq
59. Al-Buruj
60. Ath-Taariq
61. Al-A’laa
62. Al-Ghaasyiyah
63. Al-Fajr
64. Al-Balad
65. Asy-Syam
66. Al-Lail
67. Ad-Dhuha
68. Al-Ashr
69. At-Tin
70. Al-‘Alaq
71. Al-‘Adiyat
72. Al-Qari’ah
73. At-Takatsur
74. Al-Ashr
75. Al Humazah
76. Al-Fiil
77. Quraisy
78. Al-Ma’un
79. Al-Kausar
80. Al kafirun
81. Al-Masad[6]
Surat Madaniyah :
1.
Al-
Baqarah
2.
Ali’Imran
3.
An-Nisa’
4.
Al-Ma’idah
5.
Al-Anfal
6.
At-Taubah
7.
Al-Hajj
8.
An-Nur
9.
Al-Ahzab
10.
Muhammad
11.
Al-Fath
12.
Al-Hujurat
13.
Al-Hadid
14.
Al- Mujadila
15.
Al-Hasyr
16.
Al -Mumtahanah
17.
Al-Munafiquun
18.
At-Talaq
19.
Al Insan
20.
An-Nashr
Sedangkan yang diperselisihkan ada 12 surah yaitu :
1.
Al-Fatihah
2.
Ar-Ra’d
3.
Ar-Rahman
4.
As-Shaff
5.
At-Taghobun
6.
Al-Muthofifin
7.
Al-Qadr
8.
Al-Bayyinah
9.
Az-Zalzalah
10.
Al-Ikhlas
11.
Al-
Falaq
D. Manfaat Pengetahuan Tentang Ayat-Ayat Makkah dan Madinah
1.
Dengan ilmu ini kita dapat mengetahui sejarah turunnya hukum islam, perkembangannya dan penurunanan al-Quran secara berangsur-angsur.
2.
Dengan ilmu ini kita dapat mengetahui sejarah kondisi orang makkah dan madani dijaman dahulu kala.
3.
Kita dapat membedakan atau dapat mengetahui mana ayat yang nasikh (ayat yang
menghapus) dan mansukh (ayat yang
dihapus).
E. Dasar-Dasar Untuk Mengetahui Makkiyah dan Madaniyah.
Para
Ulama’ telah memberikan batasan dalam membedakkan Makiyyah dan Madaniyyah dalam
al-Qur’an. Di antara mereka ada yang menjadikan Khitabah (sasaran pembicara)
yang ada di dalam ayat sebagai dasar utuk membedakan keduanya sebagai berikut:
1.
Perbedaan berdasarkan
karakterisitik personal ayat dan surah
para ulama mengatakan bahwa
surah Makiyyah di dalamnya terdapat kalamia Ya ayyuha al-nas, sebab ayat
tersebut merupakan khitab bagi penduduk Makkah. Adapun Madaniyyah yang di dalamnya
tetdapat kalimat Ya Ayyuha al- ladzina Amanu.
2.
Perbedaan berdasarkan tempat
para
ulama menjadikan tempat Rasulullah SAW dalam menerima wahyu sebgai dasar
pembeda, Apabila Rasulullah SAW berada di Makkah saat diturunkan, maka surat
itu termasuk golongan Makkiyah dan sedangkan jika Rasulullah berada di Madinah
saat beliau menerima wahyu, maka surat itu dinamakan Madaniyyah
3.
Perbedaan Berdasarkan Waktu
Para
ulama menjadikan hijrah adalah dasar pembeda. Maka ayat – ayat Makkiyah adalah
ayat yang turun sebelum nabi hijrah ke Madinah. Meskipun turunnya bukan di Makkah.
Begitupun sebaliknya.[9]
BAB III
A.
Kesimpulan
1.
Terdapat 4 teori dalam pengertian Makkiyah dan Madaniyah :
a.
Teori Mulahazah Makan An-Nuzul
b.
Teori Geografis
c.
Teori Malahazah Zaman An-Nuzul (Teori
Historis)
d.
Teori Mulahazah Mukhtabin fi An Nuzul
(Teori Subjektif)
e.
Teori Mulahazah Ma Tadammanat an-
Nuzul (Teori Analisis)
2.
Pedoman penetapan ayat Makkiyah dan Madaniyah ada 2 :
a.
Mengenal cara Sima’iy yaitu
dengan cara mengetahui ayat dan surah Makkiyah yang diperoleh berdasarkan
riwayat. Riwayat- riwayat yang mereka lihat. Dan juga riwayat dari para
sahabat Nabi yang meereka lihat, menyaksikan dan mengetahui secara jelas kapan,
dimana, mengapa, dan bagaimana ayat ayat al-Qur’an turun. Dan juga riwayat para
tabi’in yang mereka bertemu dan berguru pada sahabat dan mendapatkan informasi
tentang al-Qur’an dari para sahabat. Dan cara inilah yang menjadi pedoman utama
untuk mengetahui Makkiyah dan Madaniyyah .
b. Sedangkan mengetahui cara
qiyasi yaitu dengan cara mengetahui ayat dan surah Makkiyah dan Madaniyah
berdasarkan dengan kriteria yang terlihat. Antara lain : dengan cara mengetahui melalui ciri
kitabnya,
isinya atau kandungan, redaksinya. Perbedaan bahasa manusia dan bahasa hewan.
3. Dasar yang dapat menentukan suatu
surah masuk dalam kategori Makkiyah dan Madaniyah menurut cara qiyasiy antara
lain;
a.
Dasar Aghlabiyah (mayoritas)
b.
Dasar Tabi’iyah (kontunitas)
4.
Ciri – Ciri Ayat Makiyyah dan Madaniyah:
a.
Makkiyah
1)
Dimulai dengan ya Ayyuhannas (Wahai manusia), Ya Ayyuhal Kafirun (Wahai
orang-orsang kafir),Ya Bani Adam (Wahai keturunan adam) terdapat 292 jenis ayat
ini.
2)
Terdapat kata Kalla (sekali-kali
tidak, atau jangan begitu).
3)
Ayat-ayat sajdah (disunatkan
bersujud ketika membacanya).
4)
Diawali huruf terpotong seperti Alif-lam-Mim,
Nun. Ya-Sin
5)
Berisi kisah-kisah, akhlak dan keimanan.
6)
Pendek-pendek
Berisi sumpah ,misalnya
“Demi masa dan sebagainya”
b.
Madinah
1)
Ya ayyuhalladzina Amanu (Wahai orang-orang
yang beriman). Terdapat 219 Ayat jenis
ini.
2)
munafik, pemeluk agama Kristen dan Yahudi.
3)
Panjang-panjang
5.
Manfaat mengetahui tentang Makkiyah
dan Madaniyah
a.
Dengan ilmu ini kita dapat mengetahui sejarah turunnya hukum islam, perkembangannya dan penurunann al-Quran secara berangsur angsur.
b.
Dengan ilmu ini kita dapat mengetahui sejarah kondisi orang Makkah dan Madinah di
zaman dahulu
kala.
c.
Kita
dapat membedak
an atau dapat mengetahui mana ayat yang nasikh wa mansukh.
an atau dapat mengetahui mana ayat yang nasikh wa mansukh.
6.
Dasar Membedakan Antara Makkiyah
dan Madaniyyahh
a.
Perbedaan berdasarkan
karakteristik personal ayat dan surah.
b.
Perbedaan berdasarkan tempat.
c.
Perbedaan berdasarkan waktu.
Daftar Pustaka
Al-Qathan, Manna, Pengantar Studi Ilmu Al-Quran.2015
Aunur Rafiq EL-Mazni Jakarta :
Pustaka AlKautsar
Anwar, Rosihon, 2013. Ulumul Al qur’an, Bandung
: CV Pustaka Setia.
Ash-Shiddieqy, Muhammad Hasbhi, Ilmu Ilmu Al qur’an.2015
Semarang : PT PustakA Rizky Putra.
As-Shalih, Subhi, 2018. Membahas Ilmu-Ilmu AL
qur’an, Jakarta : Firdaus.
Aziz, Mohammad Ali, 2018. Mengenal
Tuntas Al quran, Surabaya
: Imtiyaz.
Eldebb, Ibrahim, 2009. Be A Living Qur’an.
Faruq Zaini Tangerang : Lentera Hati.
Muhammad, 2008. Pengantar Ilmu Tafsir, Jakarta
Timur : Darruh Sunnah Press.
Shihab, M Quraish, 2013. Sejarah & Ulumul
Qur’an, Jakarta : Pustaka Firdaus.
UIN Sunan Ampel, 2013. Studi Qur’an, Surabaya : UIN Sunan Ampel Press.
UIN Sunan Ampel. 2014. Studi Qur’an, Surabaya : UIN Sunan Ampel Press.
Yusuf, Kadar M,2012. Studi Al qur’an, Jakarta :
Amzah.
[4]
Manna Al-Qathan, Pengantar
Studi Ilmu Al-Quran. Aunur Rafiq EL-Mazni (Jakarta: Pustaka
AlKautsar,2015 ), hlm 64-70
[5] Moh.Ali Aziz, Mengenal Tuntas Al quran,
(Surabaya : Imtiyaz, 2018), hlm 97
[6] Rosihon
Anwar, Ulumul Qur’an, (Bandung:CV Pustaka Setia), hlm 109-110
[7]
Manna Al-Qathan, Pengantar Studi
Ilmu Al-Quran. Aunur Rafiq EL-Mazni (Jakarta: Pustaka AlKautsar,2015 ),
hlm 156-165
