Selasa, 01 Oktober 2019


Makkiyah dan Madaniyah




Makalah
Study al-Quran

Dosen Pembimbing:
Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Asisten Dosen :
Ati’ Nursyafa’ ah, M.Kom.i

Disusun oleh:
Widya Meilis Rusandi   (B0121953)

Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel
Surabaya
2019























KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirobbil ‘Alamin segala puji bagi Allah untuk segala nikmat yang direngkuh, yakni keindahan dan kesejukan islam. Segala puji bagi memamapukan hati untuk berusaha istiqomah berada di jalan islam yang lurus meski halangan menentang di depan jalan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah kami dengan judul ‘Ayat – Ayat Makkah dan Ayat – Ayat Madinah ini dengan waktu yang sesingkat-singkatnya.
     Saya ucapkan terimakasih kepada dosen pengampuh mata kuliah Study Al Qur’an yang telah membimbing saya. Dan saya sadar akan kekurangan dalam makalah saya, maka saya mohon maaf sebesar-besarnya. Semoga makalah saya dapat bermanfaat bagi para pembaca semua.                              
Surabaya, 21 Agustus 2019

















DAFTAR ISI



















                                                                                                                                    
                                                 


BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Al-Qur’an merupakan wahyu yang di turunkan oleh Allah untuk umat islam yang di jadikan sebagai pedoman yang wajib di pelajari umat islam. Dalam mempelajari al-Qur’an tidak akan luput dengan mempelajari ilmu al-Qur’an itu sendiri, pembelajaran tentang al-Qur’an itu sendiri akan mencakup berbagai pembahasan. Seperti: tajwid, sejarah penulisan al-Qur’an dan tahap-tahap al-Qur’an di turunkan yang akan membuat kita mengenal istilah Makiyyah dan Madaniyyah
Seperti yang kita ketahui al-Qur’an di turunkan di tempat yang berbeda-beda.Turunnya al-Qur’an di bedakan menjadi dua : Makkiyah dan Maddaniyah.
Oleh sebab itu pada pembahasan ini, kita akan membahas tentang ayat-ayat Makkah dan Madinah dari mulai pengertian, perbedaan agar kita memahami lebih dalam tentang ayat-ayat Makkah dan Madinah.

B. Rumusan Masalah

1.      Apa pengertian tentang ayat Makkah dan Madinah ?
2.      Apa pedoman penentuan ayat Makkah dan Madinah?
3.      Bagaimana ciri-ciri ayat Makkah dan Madinah?
4.      Apa manfaat pengetahuan tentang ayat-ayat Makkah dan Madinah?

C. Tujuan Penulisan

1.     Mengetahui  pengertian ayat Mekkah dan Madinah.

2.      Mengethaui pedoman ayat Makkah dan Madinah.
3.      Mengetahui ciri-ciri ayat Makkah dan Madinah.
4.      Mengethaui manfaat pengetahuan ayat ayat Makkah dan Madinah.

















BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian ayat Makkah dan madinah

Pengertian ayat Makkah dan Madinah terdapat 4 teori :
1.     Teori Mulahazah Makan an-nuzul
          Dalam teori ini pengertian makiyyah adalah ayat atau surah yang di turunkan di Mekkah atau di sekitarnya baik waktu turunya sebelum Nabi saw melakukan hijrah atau sesudahnya Sedangkan Madaniyyah adalah ayat atau surah yang turun di Madinah atau di sekitarnya, baik waktu turunnya sebelum Nabi saw berhijrah maupun sesudahnya.
2.     Teori Mulahazah zaman an-nuzul
                  Dalam teori ini  berdasarkan turunnya sejarah al-Qur’an. Ayat Makkiyah adalah ayat atau surah yang turun sebelum Nabi SAW berhijrah. Sedangkan Madaniyyah ayat atau surah yang di turunkan setelah Nabi berhijrah.
 Teori ini berpegang pada hadist Raiwayat Abu Amr Uthman bin Sa’id ad- Darimi yang disandarkan pada Yahya bin Salam
3.     Teori Muahazah Mukhatabin Fi An-Nuzul
 Didalam teori ini berdasarkan siapa yang di undang dalam ayat ini, jika subjeknya adalah orang-orang Mekkah yang biasa dipakai “Ya ayyuhannass (wahai manusia), “Ya Ayyuhal Kafirun “ (wahai orang-orang kafir) atau “Ya Bani Adama (wahai anak adam) maka ayat terdsebut dinamakan Makkiyah, begitu juga jika yang diundang adalah orang madinah yang biasanya menggunakan kata “Ya Ayyuhalladziina Amanu” (wahai orang-orang yang beriman) maka ayat tersebut dinamakan Madaniyah.
4.    Teori Mulahazah Ma Tadammanat an-  Nuzul
Didalam teori ini ayat atau surah Makiyyah adalah ayat atau surah yang menceritakan ummat terdahulu dan para nabi. Sedangkan Madaniyah berisi tentang hudud, faraid dan hukum-hukum lainnya.[1]


 B.       Pedoman Penentuan Ayat Mekkah dan Madinah

Dasar penetapan ayat-ayat Makkah dan Madaniyyah yakni : Simai’iy dan Qiyasiy. Untuk mengenal cara Sima’iy yaitu dengan cara mengetahui ayat dan surah Makkiyah yang diperoleh berdasarkan riwayat. Riwayat- riwayat yang mereka lihat dari. Dan juga riwayat dari para sahabat Nabi yang mereka lihat, menyaksikan dan mengetahui secara jelas kapan, dimana, mengapa, dan bagaimana ayat-ayat al-Qur’an turun. Dan juga riwayat para tabi’in yang mereka bertemu dan berguru pada sahabat dan mendapatkan informasi tentang al-Qur’an dari para sahabat.dan cara inilah yang menjadi pedoman utama untuk mengetahui Makkiyah dan Madaniyyah .
       Sedangkan menegtahui cara qiyasi yaitu dengan cara mengetahui ayat dan surah Makkiyah dan Madaniyah berdasarkan dengan kriteria yang terlihat. Antara lain : dengan cara mengetahui melalui ciri kitabnya, isinya atau kandungan, redaksinya.[2]
Cara untuk mengetahui dasar penetapan suatu surah masuk dalam kategori Makkiyah dan Madaniyah menurut qiyasi adalah sebagai berikut:[3]
1.    Dasar Aglabiyah ( Mayoritas )
         Suatu surah akan tergolong dalam surat Makkiyah jika mayoritas ayat-ayatnya adalah Makkiyah maka surah tersebut tergolong Makkiyah begitupun sebaliknya. Dan jika surat itu mayoritas ayat-ayatnya Madaniyah maka disebut Madaniyah.
2.    Dasar Tabi’iyah ( kontuinitas )
Suatu surah akan tergolong Makkiyah jika didahului dengan ayat-ayat yang turun di Makkah (sebelum hijrah) maka surah tersebut disebut Makkiyah, begitupun sebaliknya. Jika didahului dengan ayat-ayat yang turun di madina (sesudah hijrah) maka disebut dengan Madaniyah.

Adapun beberapa objek yang menjadi kajian para ulama Seperti : [4]
1.      Ayat-ayat Makkiyah dalam surat  -surat Madaniyah.
Dalam surat Makkiyah atau madaniyah tidak seluruhnya berisikan ayat-ayat Makkiyah atau Madaniyah. Karena dalam surat Makkiyah terdapat Ayat – ayat Madaniyah begitupun sebaliknya. Penamaan surat berhubungan dengan banyaknya ayat yang terkandung didalamnya.  Contoh jika  ayat yang terkandung dalam sebuah surat itu banyak dari Madaniyah, maka itu Madaniyah. tetapi bila terdapat beberapa ayat Makkiyah didalamnya,  maka akan disebutkan  seperti : bahwa surat itu Madaniyah kecuali ayat  di ayat ‘ini’ adalah Makkiyah
 Seperti surat Al-Anfal adalah ayat Madaniyah tetapi banyak para ulama mengecualikannya.
وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ ۚ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ
Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya. (QS. Al-Anfal[8]: 30)
2.    Ayat – ayat Madaniyah dalam surat Makkiyah
Misalnya surat Al-An’am, Ibnu Abbas berkata “surat ini diturunkan sekaligus di Makkah, maka ia adalah Makkiyah namun kecuali tiga ayat didadalmnya yang diturunkan di Madinah seperti ayat 151-153.Dan juga pada surat Al-Hajj terdapat 3 ayat yang diturunkan di Madinah yaitu ayat 19-21.

هَٰذَانِ خَصْمَانِ اخْتَصَمُوا فِي رَبِّهِمْ ۖ فَالَّذِينَ كَفَرُوا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِنْ نَارٍ يُصَبُّ مِنْ فَوْقِ رُءُوسِهِمُ الْحَمِيمُ 

Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Tuhan mereka. Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka(QS. Al-Hajj[22]: 19-21)

3.    Yang turun di Makkah namun hukumnya Madaniyah
Ayat ini diturunkan di Makkah di massa penakulan kota Makkah tetepi ayat ini tergolong Madaniyah karena diturunkan selepas hijrah dan perintahnya pun bersifat umum. Para ulama pun mengatakan bahwa surat ini adalah Makkiyah namun hukumnya Madaniyah seperti pada surat Al- Hujurat[49] ayat13
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ 

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Mengenal (QS. Al-Hujurat[49]: 19).


              4.    Ayat – Ayat yang Diturunkan di Madinah namun Hukumnya Makkiyah.
Para ulama memberikan contoh pada permulaan surat Bara’ah (At-Taubah) yang seruanya ditunjukkan pada orang-orang musyrik di kota Makkah namun ayat ini diturunkan di Madinah. Juga seperti pada surat Al-Mumtahanah yang sama juga seruannya ditunjukan pada orang musyrik di kota Makkah namun diturunkan di Madinah

        5.      Yang serupa dengan yang diturunkan di Makkah dalam kelompok Madaniyah
Pada surat Al- Anfal[8] ayat 32  ialah ayat yang terdapat pada surat Madaniyah tetapi terdapat ciri–ciri umum seperti Makkiyah. Ayat ini turun dikarenakan kaum musyrikin untuk disegerakan adzab dan itu berada di Makkah .
        6.    Yang serupa dengan yang diturunkan di Madinah dalam kelompok Makkiyah
Didalam surat An-Najm[53] ayat 32.

الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ ۚ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ ۖ فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ 
“(Yaitu) mereka yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil”. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu, maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa(QS. An-Najm[53]: 32)
     7.    Ayat yang dibawah ke Makkah dan Madinah
Dalam hal ini dicontohkan dengan surah Al–A’ala[87]. Diriwayatkan Oleh Bukhori dari Al-Barra bin ‘azib yang mengatakan “orang yang pertama kali datang pada kami dari para sahabat adalah mus’ab bin umair dan Ibn Ummi Maktum. Keduaya membacakan Quran pada kami. Sesudah itu datanglah Amar, Bilal dan Sa’ad. Kemudian datang pula Ummar Bin Khatab sebagai orang yang kedua puluh. Baru datanglah nabi. Aku melihat penduduk madinah bergembira setelah aku membacakan Sabbihisma rabbikal a’ala dari antara surah yang semisal dengannya. Pengertian ini cocok dengan quran yang dibaca oleh golongan Muhajirin lalu diajarkan kepada kaum anshar.

      8.    Ayat yang dibawah dari Mainah ke Makkah.
  Ketika awal surah Al-Bara’ah turun, Rasulullah SAW memerintahkan Ali bin Abu Thalib untuk membawa ayat tersebut kepada Abu Bakar agar ia sampaikan kepada orang musyrik. Setelah itu Abu Bakar pun membaca dan mengumumungkan kepada kaum musyrik bahwa setelah tahun ini tidak seorang musyrik pun diperbolehkan haji.

      9.    Ayat yang turun dimalam hari dan siang hari.
Pada ayat suci al-Qur’an terdapat banyak ayat yang di turunkan di siang hari dan hanya beberapa yang turun di malam hari contohnya adalah di awwal surah Al-Fath[48], terdapat dalam, shokhi bukhori dari hadist.
Umar:”Telah diturunkan padaku pada malam ini sebuah surah yang lebih aku sukai dari apa yang telah di sinari oleh matahari”. Kemudian beliau membacakan “sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata”.

      10.    Ayat yang turun di musim panas dan dingin
    pada ulama telah memberikan contoh ayat yang turun di musim panas ialah pada akhir surah An-Nisa[4] pada akhir surah dalam shosih muslim dari Ummar:”tidak ada yang sering ku tanyakan pada rasulullah saw tentang sesuatu seperti pertanyaanku tentang kalalah. Dan Ia pun tidak pernah bersifat kasar tentang suatu urusan seperti sikapnya kepadaku mengenai kalalah itu. Sampai-sampai Ia menekan dadaku dengan jarinya sambil beliau berkata “Ummar belum cukupkah bagimu satu Ayat yang di turunkan pada musim panas yang terdapat di akhir surah An nisa[4]”.
Sedang yang turun di musim dingin di contohkan dengan ayat-ayat yang mengenai tuduhan bohong yaitu terdapat dalam surah An-Nur[24] : Sesungguhnya orang-orang yang membawa cerita bohong itu adalah bagian dari segolongan kamu juga. Sampai dengan bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia” [An-Nur].

       11.    Yang turun di waktu menetap dan turun di waktu perjalanan
Dalam al-Qur’an mayoritas ayat-ayat dalam suatu Surah diturunkan pada saat Rasulullah pada keadaan menetap akan tetapi Imam As-Sayuthi menyebutkan banyak contoh ayat yang diturunkan ada saat perjalanan diantaranya surah Al Anfal yang turun di Badr setelah selesai perang.

C. Ciri-ciri Ayat Makkah dan Madinah

1.      Makkiyah.
a.  Dimulai dengan ya Ayyuhannas (Wahai manusia), Ya Ayyuhal Kafirun (Wahai orang-orsang kafir),Ya Bani Adam (Wahai keturunan adam) terdapat 292 jenis ayat ini.
b. Terdapat kata Kalla (sekali-kali tidak, atau jangan begitu).
c. Ayat-ayat sajdah (disunatkan bersujud ketika membacanya).
d. Diawali huruf terpotong seperti Alif-lam-Mim, Nun. Ya-Sin
e. Berisi kisah-kisah, akhlak dan keimanan.
f. Pendek-pendek
g .Berisi sumpah, misalnya : “Demi masa dan sebagainya .
2 . Madinah
a. Ya ayyuhalladzina Amanu (Wahai orang-orang yang beriman). Terdapat 219 ayat jenis ini.
b. Berisihukum,  kemasyarakatan, perang, sifat orang-orang munafik, pemeluk agama Kristen dan Yahudi.
c. Panjang-panjang.[5]




Contoh surat Makkiyah dan Madaniyah :
1.      Al-An’am
2.      Al-A’raf
3.      Yunus
5.      Hud
6.      Yusuf
7.      Ibrahim
8.      Al-Hijr
9.      An-Nahl
10.   Al Isro’
11.   Al Kahfi
12.   Maryam
13.   Ta ha
14.  Al-Anbiya
15.  Al-Mu’minuun
16.  Al furqon
17.  Asy-Syu’aro’
18.  An-Naml
19.  Al-Qashash
20.  Al-Ankabuut
21.  Ar-Ruum
22.  Luqman
23.  As-Sajdah
24.  Sabaa’
25.  Al-Fatir
26.  Ya sin
27.  As-Saffat
28.  Sad
29.  Az-Zumar
30.  Ghafir
31.  Fusilat
32.  Asy-Syauroo
33.  Az-Zhukhruf
34.  Ad-Dukhan
35.  Al-Jasiyah
36.  Al-Ahqaf
37.  Qaf
38.  Adz-zariyaat
39.  At-Tur
40.  An-Najm
41.  Al-Qamar
42.  Al-Waqi’ah
43.  Al-Mulk
44.  Al-Qalam
45.  Al-Haqqah
46.  Al-Ma’arij
47.  Nuh
48.  Al-Jinn
49.  Al Muzzammil
50.  Al-Muddassir
51.  Al-Qiyamah
52.  Al-Murasalat
53.  An-Naba’
54.  An-Naziat
55.  Abasa
56.  At-Takwiir
57.  Al-Infitar
58.  Al-Insyiqaq
59.  Al-Buruj
60.  Ath-Taariq
61.  Al-A’laa
62.  Al-Ghaasyiyah
63.  Al-Fajr
64.  Al-Balad
65.  Asy-Syam
66.  Al-Lail
67.  Ad-Dhuha
68.  Al-Ashr
69.  At-Tin
70.  Al-‘Alaq
71.  Al-Adiyat
72.  Al-Qari’ah
73.  At-Takatsur
74.  Al-Ashr
75.  Al Humazah
76.  Al-Fiil
77.  Quraisy
78.  Al-Ma’un
79.  Al-Kausar
80.  Al kafirun
81.  Al-Masad[6]



Surat Madaniyah :
1.      Al- Baqarah
2.      Ali’Imran
3.      An-Nisa’
4.      Al-Ma’idah
5.      Al-Anfal
6.      At-Taubah
7.      Al-Hajj
8.      An-Nur
9.      Al-Ahzab
10.  Muhammad
11.  Al-Fath
12.  Al-Hujurat
13.  Al-Hadid
14.  Al- Mujadila
15.  Al-Hasyr
16.  Al -Mumtahanah
17.  Al-Munafiquun
18.  At-Talaq
19.  Al Insan
20.  An-Nashr

Sedangkan yang diperselisihkan ada 12 surah yaitu :
1.        Al-Fatihah
2.        Ar-Ra’d
3.        Ar-Rahman
4.        As-Shaff
5.        At-Taghobun
6.        Al-Muthofifin
7.        Al-Qadr
8.        Al-Bayyinah
9.        Az-Zalzalah
10.    Al-Ikhlas
11.    Al- Falaq
12.    An-Naas[7]





        D. Manfaat Pengetahuan Tentang Ayat-Ayat Makkah dan Madinah

1.    Dengan ilmu ini kita dapat mengetahui sejarah turunnya hukum islam, perkembangannya  dan penurunanan al-Quran secara berangsur-angsur.
2.    Dengan ilmu ini kita dapat mengetahui sejarah kondisi orang makkah dan madani dijaman dahulu kala.
3.    Kita dapat membedakan atau dapat mengetahui mana ayat yang nasikh (ayat yang menghapus) dan  mansukh (ayat yang dihapus).
4.    Mengetahui sejarah rasulullah saw melalui ayat-ayat al-Qur’an[8].




 E. Dasar-Dasar Untuk Mengetahui Makkiyah dan Madaniyah.

Para Ulama’ telah memberikan batasan dalam membedakkan Makiyyah dan Madaniyyah dalam al-Qur’an. Di antara mereka ada yang menjadikan Khitabah (sasaran pembicara) yang ada di dalam ayat sebagai dasar utuk membedakan keduanya sebagai berikut:
1.      Perbedaan berdasarkan karakterisitik personal ayat dan surah
para ulama mengatakan bahwa surah Makiyyah di dalamnya terdapat kalamia Ya ayyuha al-nas, sebab ayat tersebut merupakan khitab bagi penduduk Makkah. Adapun Madaniyyah yang di dalamnya tetdapat kalimat Ya Ayyuha al- ladzina Amanu.
2.      Perbedaan berdasarkan tempat
para ulama menjadikan tempat Rasulullah SAW dalam menerima wahyu sebgai dasar pembeda, Apabila Rasulullah SAW berada di Makkah saat diturunkan, maka surat itu termasuk golongan Makkiyah dan sedangkan jika Rasulullah berada di Madinah saat beliau menerima wahyu, maka surat itu dinamakan Madaniyyah
3.       Perbedaan Berdasarkan Waktu
Para ulama menjadikan hijrah adalah dasar pembeda. Maka ayat – ayat Makkiyah adalah ayat yang turun sebelum nabi hijrah ke Madinah. Meskipun turunnya bukan di Makkah. Begitupun sebaliknya.[9]




























  BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan

1.      Terdapat 4 teori dalam pengertian Makkiyah dan Madaniyah :
a.    Teori Mulahazah Makan An-Nuzul
            b.    Teori Geografis
c.    Teori Malahazah Zaman An-Nuzul (Teori Historis)
d.   Teori Mulahazah Mukhtabin fi An Nuzul (Teori Subjektif)
e.    Teori Mulahazah Ma Tadammanat an- Nuzul (Teori Analisis)

2.      Pedoman penetapan ayat Makkiyah dan Madaniyah ada 2 :

a.    Mengenal cara Sima’iy yaitu dengan cara mengetahui ayat dan surah Makkiyah yang diperoleh berdasarkan riwayat. Riwayat- riwayat yang mereka lihat. Dan juga riwayat dari para sahabat Nabi yang meereka lihat, menyaksikan dan mengetahui secara jelas kapan, dimana, mengapa, dan bagaimana ayat ayat al-Qur’an turun. Dan juga riwayat para tabi’in yang mereka bertemu dan berguru pada sahabat dan mendapatkan informasi tentang al-Qur’an dari para sahabat. Dan cara inilah yang menjadi pedoman utama untuk mengetahui Makkiyah dan Madaniyyah .
b.    Sedangkan mengetahui cara qiyasi yaitu dengan cara mengetahui ayat dan surah Makkiyah dan Madaniyah berdasarkan dengan kriteria yang terlihat. Antara lain : dengan cara mengetahui melalui ciri kitabnya, isinya atau kandungan, redaksinya. Perbedaan bahasa manusia dan bahasa hewan.
3.            Dasar yang dapat menentukan suatu surah masuk dalam kategori Makkiyah dan Madaniyah                 menurut cara qiyasiy antara lain;
a.       Dasar Aghlabiyah (mayoritas)
b.       Dasar Tabi’iyah (kontunitas)

4.        Ciri – Ciri Ayat Makiyyah dan Madaniyah:

a.    Makkiyah
1)   Dimulai dengan ya Ayyuhannas (Wahai manusia), Ya Ayyuhal Kafirun (Wahai orang-orsang kafir),Ya Bani Adam (Wahai keturunan adam) terdapat 292 jenis ayat ini.
2)   Terdapat kata Kalla (sekali-kali tidak, atau jangan begitu).
3)   Ayat-ayat sajdah (disunatkan bersujud ketika membacanya).
4)   Diawali huruf terpotong seperti Alif-lam-Mim, Nun. Ya-Sin
5)   Berisi kisah-kisah, akhlak dan keimanan.
6)   Pendek-pendek
Berisi sumpah ,misalnya
       “Demi masa dan sebagainya

b.    Madinah
1)     Ya ayyuhalladzina Amanu (Wahai orang-orang yang   beriman). Terdapat 219 Ayat jenis ini.
2)   munafik, pemeluk agama Kristen dan Yahudi.
3)   Panjang-panjang





5.      Manfaat mengetahui tentang Makkiyah dan Madaniyah
a.    Dengan ilmu ini kita dapat mengetahui sejarah turunnya hukum islam, perkembangannya  dan penurunann al-Quran secara berangsur angsur.
b.    Dengan ilmu ini kita dapat mengetahui sejarah kondisi orang Makkah dan Madinah di zaman dahulu kala.
c.    Kita dapat membedak
an atau dapat mengetahui mana ayat yang nasikh wa mansukh.

6.      Dasar Membedakan Antara Makkiyah dan Madaniyyahh
a.     Perbedaan berdasarkan karakteristik personal ayat dan surah.
b.    Perbedaan berdasarkan tempat.
c.    Perbedaan berdasarkan waktu.













Daftar Pustaka

Al-Qathan, Manna, Pengantar Studi Ilmu Al-Quran.2015 Aunur Rafiq EL-Mazni Jakarta : Pustaka AlKautsar
Anwar, Rosihon, 2013. Ulumul Al qur’an, Bandung : CV Pustaka Setia.
Ash-Shiddieqy, Muhammad Hasbhi, Ilmu Ilmu Al qur’an.2015 Semarang : PT PustakA Rizky Putra.
As-Shalih, Subhi, 2018. Membahas Ilmu-Ilmu AL qur’an, Jakarta : Firdaus.
Aziz, Mohammad Ali, 2018. Mengenal Tuntas Al quran,     Surabaya : Imtiyaz.
Eldebb, Ibrahim, 2009. Be A Living Qur’an. Faruq Zaini Tangerang : Lentera Hati.
Muhammad, 2008. Pengantar Ilmu Tafsir, Jakarta Timur : Darruh Sunnah Press.
Shihab, M Quraish, 2013. Sejarah & Ulumul Qur’an, Jakarta : Pustaka Firdaus.
UIN Sunan Ampel, 2013. Studi Qur’an, Surabaya : UIN Sunan Ampel Press.
UIN Sunan Ampel.  2014. Studi Qur’an, Surabaya : UIN Sunan Ampel Press.
Yusuf, Kadar M,2012. Studi Al qur’an, Jakarta : Amzah.







[1] UIN Sunan Ampel, Studi Qur’an, (Surabaya : UIN Sunan Ampel Press, 2014), hlm 156-165
[2] UIN Sunan Ampel, Studi Qur’an, (Surabaya : UIN Sunan Ampel Press, 2013), hlm 107-108
[3] UIN Sunan Ampel, Studi Qur’an, (Surabaya : UIN Sunan Ampel Press, 2014), hlm 171-172
[4] Manna Al-Qathan, Pengantar Studi Ilmu Al-Quran. Aunur Rafiq EL-Mazni (Jakarta: Pustaka AlKautsar,2015  ), hlm 64-70
[5] Moh.Ali Aziz, Mengenal Tuntas Al quran, (Surabaya : Imtiyaz, 2018), hlm 97
[6] Rosihon Anwar, Ulumul Qur’an, (Bandung:CV Pustaka Setia), hlm 109-110
[7] Manna Al-Qathan, Pengantar Studi Ilmu Al-Quran. Aunur Rafiq EL-Mazni (Jakarta: Pustaka AlKautsar,2015  ), hlm 156-165
[8] Ibrahim Eldeeb, Be A Living Qur’an, Faruq Zaini (Jakarta:Lentera Hati,2009  ), hlm 32-33
[9] Kadar M. Yusuf, Studi Al- Quran, Faruq Zaini (Jakarta:Amzah,2012  ), hlm 143