Senin, 19 April 2021

Dakwah dalam Komunikasi antar Etnik, Ras dan Bangsa

 

Dakwah dalam Komunikasi antar Etnik, Ras dan Bangsa














oleh : Widya Meilis Rusandi (B01219053)

Mahasiswi KPI A2 Semester 4 202


Faktanya, Indonesia adalah bangsa yang memiliki keragaman suku, bahasa, golongan, warna kulit, dan agama yang menjadi aset bangsa dalam membentuk kerukunan sosial. Dalam studi tentang Teori politik kontemporer disebut juga keanekaragaman masyarakat manusia dalam segala aspeknya masyarakat multikultural. Dalam konteks agama, sebagian umat beragama selalu mensosialisasikannya ajaran agama untuk masyarakat majemuk dengan mengabaikan kemajemukan kehidupan masyarakat dalam segala nya aspek. Di sinilah pentingnya perspektif multikultural perlu dimiliki oleh siapapun yang ingin menyampaikan pesan agama dalam masyarakat multikultural. Dari perspektif multikultural, penyampaian pesan agama atau dakwah membutuhkan seorang da'I untuk memahami keragaman budaya masyarakat dan bersikap positif tentang keragaman.

Dakwah multikultural berarti mengupayakan terciptanya keharmonisan di tengah masyarakat yang majemuk dan tetap bisa mengendalikan diri segala macam perbedaan yang tidak setara  Islam adalah agama dakwah. Islam berkembang di tengah-tengah umat di seluruh dunia melalui khotbah. Keberhasilan dakwah Islam dalam mengajak orang ke jalan yang benar, sebagian karena Islam tidak mendiskriminasi ras, bangsa, etnis dan budaya. Islam berdakwah dalam menghadapi budaya manusia yang beragam, tidak hanya berupa undangan, tetapi memiliki asas yang merupakan pedoman dasar yang mengacu pada kewajiban, tanggapan manusia terhadap panggilan Tuhan, tidak ada unsur paksaan, itu rasional dan penegakan etika dalam menilai hal-hal baik dan buruk menurut ajaran agama (Islam)

A.    Pluralitas Budaya

Pluralitas budaya kadang digunakan dengan istilah multikultural, artinya secara harpiah dengan banyak budaya. Atau kata multikulturalisme yaitu sebagai paham banyak budaya. Suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa bumi ini hanya ada satu (only one world), sementara manusia yang mendiaminya terdiri dari berbagai bangsa, suku, etnis, agama dan budaya. Itulah sebabnya agama, budaya sering muncul dalam bentuk plural. Sebagai implikasinya, maka praktek keberagaman dan budaya seseorang atau masyarakat senantiasa melahirkan pengelompokan-penglompokan.

Era sekarang adalah era pluralism. Hal ini dapat dilihat fenomena yang ada : budaya, agama, keluarga, ras, ekonomi, sosial, suku, pendidikan, bangsa, negara, belum lagi apresiasi politik, semuanya menampakkan wajah yang pluralistis. Samuel P. Hungtinton menyebutkan bahwa pada abad ke-21 akan terjadi sebuah bentuk keanekaragaman yang belum pernah terjadi sebelumnya, dia menyebutkan benturan antara budaya timur dan barat, antara Islam dan Kristen, serta antara modern dan tradisional, hal ini tentunya berpotensi menimbulkan benturan fisik (peperangan).

Jadi hakikat pluralis atau keanekaragaman adalah sebagai fitrah (sifat yang melekat secara alamiah) bagi manusia. Karena Tuhan telah menciptakan manusia dalam keadaan berbeda-beda. Atau dengan kata lain, bahwa sifat alamiah manusia adalah berbeda, baik dalam bentuk fisik, pemikiran dan perbuatan. Maka agama dan budaya manusia tentu juga menjadi berbeda-beda. Oleh sebab itu tidak mengherankan jika sikap saling membela dalam mempertahankan budaya dan tradisi suatu masyarakat tidak hanya pada masyarakat. Primitif yang hidup di hutan, jauh dari keramaian kota seperti suku-suku di Papua dan Kalimantan, tetapi hampir setiap masyarakat menyatu dengan budayanya berhak untuk melestarikannya.

Dengan kemajuan di era teknologi informasi sekarang, batas-batas budaya, baik secara sosiologis maupun geografis sudah sulit untuk dibatasi dan memudahkan untuk berkomunikasi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kenyataan tersebut jelas dapat menimbulkan situasi dan suasana yang kurang menguntungkan bagi sebagian orang, terutama bagi mereka yang terbiasa hidup di lingkungan budaya yang lebih homogen dan mengandalkan mental interaksi hidupnya pada tradisi hegemoni mayoritas. Perbedaan budaya dan pandangan subyektivitas terhadap budaya dan kepentingan yang berbeda-beda sering memicu terjadinya konflik. Karena semakin besar perbedaan budaya antara dua orang semakin besar pula perbedaan persepsi mereka terhadap suatu realitas. Salah satu jalan untuk menyikapinya atas kenyataan pluralitas ini adalah dengan cara dan sikap mengakui perbedaan, kemudian saling mengenal.

B.     Komunikasi antar Budaya

Komunikasi adalah hubungan aktif yang dibangun antara orang melalui bahasa, dan sarana antarbudaya bahwa hubungan komunikatif adalah antara orang-orang dari budaya yang berbeda, di mana budaya merupakan manifestasi terstruktur perilaku manusia dalam kehidupan sosial dalam nasional spesifik dan konteks lokal, misalnya politik, linguistik, ekonomi, kelembagaan, dan profesional.

Adaptasi merupakan hal yang sangat perlu untuk dilakukan dalam kehidupan antarbangsa, antarnegara, maupun antarbudaya. Seseorang dikatakan berhasil berkomunikasi dengan orang yang memiliki budaya berbeda sangat diperlukan suatu adaptasi yang berguna untuk keharmonisan hidup dalam masyarakat.

Seseorang yang hidup dalam masyarakat yang berbeda budaya sangat diperlukan yang namanya adaptasi. Ini berarti, perubahan budaya dari seseorang yang melakukan adaptasi mempunyai perubahan-perubahan budaya dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan budaya yang baru. Adaptasi merupakan sesuatu yang harus bagi seorang pendatang terhadap budaya yang baru. Dengan sebab itu dalam beradaptasi seseorang selain membutuhkan kesiapan mental dan juga memerlukan kesabaran dalam menghadapi keadaan budaya baru untuk bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Akulturasi hanya sebuah bentuk perubahan budaya, yang disebabkan kontak dengan budaya-budaya lain

C.    Interaksi Sosial

Pengertian Interaksi Sosial Manusia terlahir sebagai makhluk sosial, kenyataan tersebut menyebabkan manusia tidak akan dapat hidup normal tanpa kehadiran manusia yang lain. Hubungan tersebut dapat dikategorikan sebagai interaksi sosial. Interaksi sosial adalah hubungan yang terjadi antara manusia dengan manusia yang lain, baik secara individu maupun dengan kelompok

1.      Ciri-Ciri Interaksi Sosial Proses interaksi sosial dalam masyarakat memiliki ciri sebagai berikut

a.       Adanya dua orang pelaku atau lebih\

b.      Adanya hubungan timbale balik antar pelaku

c.       Diawali dengan adanya kontak sosial, baik secara langsung.

d.      Mempunyai maksud dan tujuan yang jelas.

2.      Syarat Terjadinya Interaksi Sosial Proses interaksi sosial dalam masyarakat terjadi apabila terpenuhi dua syarat sebagai berikut:

a.       Kontak sosial, yaitu hubungan sosial antara individu satu dengan individu lain yang bersifat langsung, seperti dengan sentuhan, percakapn, maupun tatap muka sebagai wujud aksi dan reaksi.

b.      Komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari seseorang kepada orang lain yang dilakukan secara langsung maupun dengan alat bantu agar orang lain memberikan tanggapan atau tindakan tertentu

D.    Prinsip Dakwah Antar Budaya

Prinsip dakwah antarbudaya dalam tulisan ini dimaksudkan ialah sesuatu yang menjadi pegangan atau acuan prediktif kebenaran yang menjadi dasar berpikir dan bertindak merealisasikan bidang dakwah dengan mempertimbangkan aspek budaya dan keragamannya ketika berinteraksi. Mayoritas atau hampir semua manusia menyadari bahwa keragaman dan perbedaan merupakan sebuah keniscayaan yang harus diterima dan dihadapi, walaupun terkadang sikap yang kurang tepat terhadap keragaman yang ada sering menjadi sumber konflik, jika bukan permusuhan dan peperangan.

Berhenti pada tampakan keragaman dan perbedaan tertentu membuka peluang untuk terjadinya ragam konflik kemanusiaan. Oleh karenanya, manusia dituntut untuk mencari titik-titik tertentu yang memungkinkan adanya titik temu atau paling tidak kebersamaan, sehingga terbuka peluang untuk tumbuhnya sikap toleran dalam menyikapi pluralitas. Dengan demikian, penghayatan dan pengalaman agama yang benar merupakan daya tangkal paling ampuh terhadap provokasi konflik antar agama, etnis dan budaya. Pengamalan agama dalam masyarakat unsur budaya dapat tumbuh dan berkembang melalui dakwah dengan mempertimbangkan aspek budaya.

E.     Kesimpulan

Dari uraian pada tulisan ini, dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip dakwah antarbudaya adalah pedoman dasar dalam menyampaikan dakwah pada masyarakat yang terdiri dari berbagai macam budaya, sehingga dakwah yang disampaikan kepada mereka dapat diterima. Pluralitas budaya adalah merupakan keniscayaan yang tidak bisa dielakkan. Perbedaan yang ada dalam kehidupan manusia seperti perbedaan budaya bukan menjadi penghalang dalam pelaksanaan dakwah, bahkan bisa menjadi bahan materi dakwah dengan mengupayakan agar budaya yang berkembang di tengah-tengah masyarakat tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam, dengan berpedoman pada prinsip-prinsip dakwah yang telah diuraikan.

 

Daftar Pustaka

Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah,Jakarta : Prenada Media, 2004

Harahap, Syahrin, Teologi Kerukunan Jakarta : Prenada Media Group, 2011

Mulyana, Deddy & Jalaluddin Rakhmat (ed), Komunikasi Antar Budaya, Panduan Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda Budaya, Bandung : Remaja Rosdakarya, 2005

Eko Saputro, Komunikasi Antarbudaya Etnis Lokal Dengan Etnis Pendatang: Studi Pada Mahasiswa/I Fakultas Adab Dan Ilmu Budaya Uin Sunan Kalijaga Yogyakarta Jurnal Ilmu Komunikasi Vol. 8, No. 2, Desember 2019

Zaprulkhan, Dakwah Multikultural, Jurnal Dakwah dan Pengembangan Sosial Kemanusiaan Vol. 8, no. 1 (2017)

Heryadi, Hedi dan Hana Silvana. 2013. Komunikasi Antar Budaya dalam Masyarakat Multikultural. Kajian Komunikasi. Volume 1. Nomor 1

H. Baharuddin Ali, PRINSIP-PRINSIP DAKWAH ANTARBUDAYA . dalam Jurnal Berita Sosial. Edisi I. Desember 2013

 


Senin, 05 April 2021

Tujuan, Fungsi Dan Peranan Dakwah Dalam Komunikasi Antarbudaya

 

Tujuan, Fungsi Dan Peranan Dakwah Dalam Komunikasi

 Antarbudaya



oleh : Widya Meilis Rusandi (B01219053)

Mahasiswi KPI A2 Semester 4 2021


Kegiatan dakwah di masyarakat, dan di media massa selama ini, relatif telah responsif, terhadap kondisi masyarakat yang modern. Setidaknya telah berupaya agar pesan-pesan keagamaan yang disampaikan bisa diterima secara baik. Mereka biasa menggunakan berbagai metode dalam berdakwah. Namun masih menjadi pertanyaan besar: apakah substansi dakwah telah menyesuaikan dengan kemajemukan dan  keperbedaan kultur di masyarakat; Apakah kebijakan dakwah multikultur telah terformulasi dengan baik. Demikian juga para da’i sebagai nara sumber atau aktor, supaya mempunyai kemampuan meramu kemajemukan tersebut dengan memperhatikan; isi atau pesan-pesan yang disampaikan, metode penyampaian, narasumber atau da’i yang berperan serta media yang digunakan.

 Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, kini telah diwarnai oleh mobilitas sosial yang sangat tinggi. Terjadi akulturasi (percampuran budaya) dan transkulturasi (tarik menarik antar budaya), sejalan dengan kemajuan tekonologi dan perkembangan ilmu pengetahuan. Perkembangan yang spektakuler adalah pada teknologi komunikasi, yang kemudian sangat mempengaruhi pola dakwah masa kini. Secara tematik, ada beberapa jenis kegiatan dakwah di masyarakat. Sebagian adalah pendalaman pengetahuan agama yang dilakukan secara rutin dan terjadwal. Sebagian lagi adalah mengusung tema tertentu yang melekat dengan pelaksanaan peringatan hari besar Islam, menyongsong event nasional dan lainya.

A.     Pengertian Dakwah

Dakwah merupakan sebuah proses transformasi nilai-nilai ajaran Islam kedalam masyarakat, oleh karena itu dakwah tidak akan pernah berhenti untuk berinteraksi dengan budaya dari masyarakat itu sendiri. Terdapat konsep dakwah yang mengedepankan cara-cara simpatik, bijaksana dan lebih humanis Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, kini telah diwarnai oleh mobilitas sosial yang sangat tinggi. Terjadi akulturasi (percampuran budaya) dan transkulturasi (tarik menarik antar budaya), sejalan dengan kemajuan tekonologi dan perkembangan ilmu pengetahuan. Perkembangan yang spektakuler adalah pada teknologi komunikasi, yang kemudian sangat mempengaruhi pola dakwah masa kini. Secara tematik, ada beberapa jenis kegiatan dakwah di masyarakat. Sebagian adalah pendalaman pengetahuan agama yang dilakukan secara rutin dan terjadwal. Sebagian lagi adalah mengusung tema tertentu yang melekat dengan pelaksanaan peringatan hari besar Islam, menyongsong event nasional dan lainya. Seperti pendekatan sosial dan budaya yang diterima oleh masyarakat luas. Memperhatikan ruang dan waktu, topik-topiknya aktual, menyentuh kebutuhan dasar mad’u dan isu-isu terkini dalam masyarakat.

B.     Peranan Dakwah dalam Komunikais Antar Budaya

Komunikasi antarbudaya artinya suatu proses interaksi antar seorang individu lainnya, dimana kedua belah pihak memiliki latar belakang budaya yang berbeda. Dan pada saat yang sama keduanya saling mempengaruhi sehingga membentuk sikap dan perilaku manusia tersebut. Seperti gerakan dakwah yang dilakukan seorang Da’I kepada mad’unya, diman keduanya memiliki latar belakang budaya berbeda. Dari perbedaan inilah sang Da’I berusaha menjadikan keragaman budaya sebagai salah satu media (sarana) dakwah, agar mad’unya dapat mengintergrasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan budaya mereka.

Islam harus didakwahkan dengan pendekatan adaptif sesuai kondisi sosiokultural umat sehingga penentuan metode, pendekatan, pesan dan media dakwah harus dinamis. Ajaran Islam harus disebarkan secara kreatif, tidak dihadirkan dengan cara-cara yang tradisional, monoton dan bahkan terkesan membosankan. Bahwa Islam harus didakwahkan dengan cara inovatif, artinya para da’i harus membuat terobosan baru agar pesan dakwah yang disampaikan dapat diperankan secara maksimal. Salah satunya dengan menerapkan komunikasi antarbudaya dalam pergerakan dakwah di tengah-tengah masyarakat.

Salah satu faktor gagalnya proses dakwah disebabkan karena pendekatan yang digunakan para da’i dalam berdakwah kurang tepat. Akibatnya umat bukannya semakin dekat dengan Islam, malah semakin menjauh. Perspektif dakwah dan komunikasi memiliki objek dan subjek yang sama, yakni manusia. Pemahaman yang komprehensif terhadap keragaman budaya dan adat istiadat masyarakat sebagai objek dakwah ini akan memudahkan para da’i menentukan metode dan pendekatan dakwah yang tepat sesuai kondisi sosiokultural masyarakat agar tidak terjadi gesekan dengan budaya sosiokultural. Manakala seorang da’i (komunikator) menyampaikan pesannya kepada mad’u (komunikan), diperlukan pendekatan yang tepat agar pesan dakwah, misi dakwah dapat diterima oleh mad’u (komunikan) dengan baik. Dengan demikian, posisi da’i sangat penting dan signifikan dalam pergerakan dakwah Islam.

C.     Tujuan dan Fungsi Komunikasi Lintas Budaya Menurut Para Ahli

Menurut Litvin tujuan dan fungsi dari komunikasi lintas budaya bersifat kognitif atau dan efektif yaitu mempelajari keterampilan komunikasi yang membuat seseorang mampu menerima gaya dan isi dari komunikasi itu sendiri dalam segi fungsi dakwah adalah ilmu yang mengkaji tentang mengajak umat manusia kepada jalan Allah yang dibangun dan dikembangkan dengan metode ilmiah sehingga dapat berfungsi dalam rangka memahami memprediksi menjelaskan dan mengontrol berbagai fenomena dan persoalan yang terkait dengan dakwah.

D.     Tujuan  Komunikasi Lintas Budaya

Tujuan dakwah komunikasi lintas budaya dengan menggunakan metode dakwah yang tidak menghapus budaya atau tradisi lama menjadikan diterimanya ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat menjadikan Islam lebih fleksibel dan mudah diterima oleh semua lapisan masyarakat meskipun memiliki perbedaan antara satu sama lain komunikasi lintas budaya

E.     Fungsi Komunikasi Lintas Budaya

Fungsi dakwah komunikasi lintas budaya

1.      Mengajarkan dan mengenalkan nilai-nilai ajaran Islam kepada budaya masyarakat

2.       Menjelaskan secara sistematis fenomena yang berkembang berkaitan dengan proses dakwah

3.      Menjadi perantara dalam proses komunikasi antarbudaya

4.      Mengawasi praktik komunikasi antarbudaya yang antara komunikator dan komunikan yang berbeda kebudayaan

 Di dalam komunikasi antarbudaya pun juga terdapat fungsi sosial, di antaranya

1.      Pengawasan: Pada umumnya, kegiatan komunikasi antarbudaya terjadi ketika komunikator dan komunikan yang berbeda kebudayaan. Fungsi ini lebih banyak digunakan oleh media masa

2.      Penghubung: Komunikasi antarbudaya ini dapat juga dijadikan sebagai jembatan bagi setiap individu yang memiliki kebudayaan yang berbeda. Biasanya, Beda individu atau lebih akan menyampaikan presepsi mereka yang berbeda-bedaa

3.      Sosialisasi Nilai: Di sini, fungsi komunikasi antar budaya dapat memberikan ajaran dan perkenalan nilai-nilai dari suatu kebudayaan suatu masyarakat lain

4.      Menghibur: Dalam hiburan pun juga ada kegiatan komunikasi antar budaya. Hal ini dapat ditemukan seperti di saat menonton tarian, nyanyian, bahkan drama sekaligus

F.      Kesimpulan

Komunikasi dan dakwah tidak bisa dipisahkan. Karena dakwah adalah aktifitas berkomunikasi. Namun lebih khusus komunikasi tentang agama Islam, penyebaran Islam, dan juga anjuran baik dan buruk. Disini dakwah dan komunikasi lintas budaya diperlukan. Mengingat majemuknya budaya di Indonesia menuntut seorang da’i untuk bisa menjadi da’i yang profesional. Penggunaan metode dakwah yang benar adalah keharusan. Eksistensi dakwah akan senantiasa bersentuhan dengan realitas sosio-kultural yang mengitarinya, sesuai konsekuensi posisi dakwah, dakwah sebagai satu variabel dan problematika kehidupan sosial sebagai variabel yang lain, maka keberadaan dakwah dalam suatu komunitas dapat dilihat dari fungsi dan perannya dalam mempengaruhi perubahan sosial tersebut, sehingga lahir masyarakat baru yang diidealkan (khoiru ummah). Secara substansial dakwah merupakan pendidikan masyarakat, yang dalam pelaksanaannya tidak jauh berbeda dengan cita-cita pendidikan nasional. Tujuan seperti diamanahkan pendidikan nasional tersebut menempatkan dimenasi moral keagamaan sebagai bagian penting dalam proses berdakwah. Dakwah

Daftar Pustaka

Pimay, Wafiah Awaludin. 2005. Sejarah Dakwah. Semarang: Rosail. Qardhawi, Yusuf. 1996. Fatwa-Fatwa, Kontemporer Jilid 2, Jakarta: Gema Insani Press

Aripudin, Acep. 2011. Pengembagan Metode Dakwah: Respons Da’i Terhadap Dinamika Kehidupan di Kaki Ceremai. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, Jakarta
Qardhawi, Yusuf. 1996. Fatwa-Fatwa, Kontemporer Jilid 2, Jakarta: Gema Insani Press

 Soekanto, Soerjono. 2009. Sosiologi Suatu Pengantar , Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Mulyana, Dedy. Jalaludin Rachmat. 2001. Komunikasi Antar Budaya, Bandung: Rosdakarya