Basis dan Pendekatan Dakwah Multikultural
|
|
Menjalankan aktivitas dakwah pada kalangan masyarakat yang multikultur memerlukan cara dan strategi tersendiri. Komunikasi yang baik dan tidak menyudutkan salah satu pihak yang berbeda dapat menjadikan dakwah diterima oleh masyarakat yang heterogen. Tulisan ini mengkaji tentang cara yang digunakan dalam melakukan dakwah pada masyarakat yang berbeda-beda. Kesimpulan dari tulisan ini menjelaskan bahwasannya komunikasi dakwah yang digunakan dalam masyarakat yang multikultural dengan cara pendekatan multikulturalisme dalam dakwah, yakni berusaha untuk mencapai dua hal, yaitu titik temu dalam keragaman, dan toleransi dalam perbedaan.
Gerakan dakwah dituntut untuk mampu berinovasi dan berkreasi dalam rangka adaptasi pada situasi social masyarakat yang kompleks tersebut. Inovasi dan kreasi menjadikan dakwah tumbuh dalam wilayah dan kelembagaan yang beragam
A. Pengertian pendekatan dakwah
Pendekatan dakwah merupakan titik tolak atau sudut pandang kita terhadap dakwah. Pada umumnya, penentuan pendekatan dakwah didasarkan pada mitra dakwah dan suasana yang melingkupinya. Dalam bahasa lain, pendekatan dakwah harus tertumpu pada pandangan human oriented, dengan menempatkan pandangan yang mulia atas diri manusia sebagai mitra dakwah
Sebagaimana dikutip Ali Aziz mengemukakan tiga pendekatan dakwah, yaitu pendekatan budaya dan bahasa, pendekatan pendidikan, dan pendekatan psikologis.
a. Pendekatan budaya dan bahasa dalam dakwah adalah penggunaan budaya dan bahasa sebagai alat atau media untuk menyampaikan pesan dakwah, misalnya penggunaan wayang kulit dan bahasa Jawa untuk dakwah pada komunitas Suku Jawa, penggunaan bahasa Betawi dan lenong untuk komunitas Suku Betawi, dan seterusnya.
b. Pendekatan pendidikan adalah penggunaan pendidikan (ta’lim) sebagai sarana untuk mencerdaskan, mencerahkan masyarakat dari kebodohan dalam bidang ilmu agama dan pengetahuan lainnya. Sarananya bisa melalui mimbar jum’at, majelis ta’lim, penataran, pelatihan, pendidikan formal dan non formal.
c. Pendekatan psikologis adalah pendekatan dakwah dengan sentuhan psikologis kepada mad’u melalui bimbingan konseling, kunsultasi dalam urusan keluarga, agama, dan lainnya.
B. Basis Dan Pendekatan Dakwah Multikultural
Multikultural merujuk kepada konsep kebinekaan yang bersifat multi dimensi yang meliputi aspek bahasa, warna kulit, budaya, suku, etnis, bangsa, dan agama. Bila merujuk kepada Al-Qur’an, kita akan menemukan bahwa fakta multikultural umat manusia merupakan kehendak sekaligus sunnatullah bagi kehidupan umat manusia sepanjang sejarah.
Dalam pendekatan terdapat perselisihan dan perbedaan yang terjadi pada masyarakat manusia dapat menimbulkan kelemahan serta ketegangan antar mereka, tetapi dalam kehidupan ini ada perbedaan yang tidak dapat dihindari, yaitu ciri dan tabiat manusia yang pada gilirannya menimbulkan perbedaan-perbedaan dalam banyak hal. Belum lagi perbedaan lingkungan dan perkembangan ilmu yang juga memperluas perbedaan mereka. Ini semua merupakan kehendak Allah Swt. dan tentu diperlukan oleh manusia bukan saja sebagai makhluk sosial, tetapi juga sebagai hamba Allah yang harus mengabdi kepada-Nya dan menjadi khalifah di bumi
Ketika terjadi perbedaan dan ketegangan diantara sesama umat manusia, harus dilakukan dialog untuk mencari kebenaran universal yang memiliki tujuan antara lain: untuk saling mengenal (al-ta’aruf), saling mengerti (al-tafahum), saling mengasihi (al-tarahum) , membangun solidaritas (al-tadhamun), hidup bersama secara damai (al-ta’ayusy al-silmi)
Pendekatan dakwah multikultural mengajukan lima macam aspek antara lain :
1. Berbeda dengan dakwah konvensional yang menempatkan konversi iman
sebagai bagian inti dari dakwah, pendekatan dakwah multikultural menilai bahwa
dakwah tidak lagi secara eksplisit dimaksudkan untuk mengislamkan umat non
muslim.
2. Dalam ranah kebijakan publik dan politik, dakwah multikultural
menggagas ide tentang kesetaraan hak-hak warga negara (civil right),
termasuk hak-hak kelompok minoritas.
3. Dalam ranah sosial, dakwah multikultural memilih untuk mengambil
pendekatan kultural ketimbang harakah (salafi jahidy)
4. Keempat, dalam konteks pergaulan global, dakwah multikultural
menggagas ide dialog antar-budaya dan keyakinan (intercultur-faith
understanding).
5. Kelima, terkait dengan program seperti ini dalam poin keempat, para
penggagas dakwah multikultural, merasa perlu untuk menyegarkan kembali
pehamaman doktrin - doktrin Islam klasik, dengan cara melakukan reinterpretasi
dan rekonstruksi paham Islam, sesuai dengan perkembangan masyarakat
global-multikultural.
Kesimpulan
Basis dakwah
multikultural sebenarnya terdapat dalam kitab suci Al-Qur’an itu sendiri yang
menegaskan bahwa fakta multikultural umat manusia yang beragam dan berbeda satu
sama lain merupakan kehendak sekaligus sunatullah bagi kehidupan umat manusia
sepanjang sejarah. Dengan kesadaran tentang adanya keragaman dan perbedaan itu,
umat manusia dituntut untuk berlomba-lomba dalam kebajikan, sehingga akan
terjadi kreativitas dan peningkatan kualitas kehidupan umat manusia dalam
berbagai aspeknya demi kemaslahatan hidup bersama.
Daftar Pustaka
Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, (Surabaya :PT. Kencana, 2004) hlm, 347
Abdurraham Wahid, dkk, Islam Nusantara (Bandung: Mizan, 2015), hlm. 85.
Hotman, Filsafat Dakwah: Rekayasa, hlm. 274-80.
Toto Tasmara, Komunikasi Dakwah (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997), hlm. 43-44.

