Senin, 29 Maret 2021

Basis dan Pendekatan Dakwah Multikultural

 

Basis dan Pendekatan Dakwah Multikultural


oleh : Widya Meilis Rusandi (B01219053)

Mahasiswi KPI A2 Semester 4 2021



    Menjalankan aktivitas dakwah pada kalangan masyarakat yang multikultur memerlukan cara dan strategi tersendiri. Komunikasi yang baik dan tidak menyudutkan salah satu pihak yang berbeda dapat menjadikan dakwah diterima oleh masyarakat yang heterogen. Tulisan ini mengkaji tentang cara yang digunakan dalam melakukan dakwah pada masyarakat yang berbeda-beda. Kesimpulan dari tulisan ini menjelaskan bahwasannya komunikasi dakwah yang digunakan dalam masyarakat yang multikultural dengan cara pendekatan multikulturalisme dalam dakwah, yakni berusaha untuk mencapai dua hal, yaitu titik temu dalam keragaman, dan toleransi dalam perbedaan.

    Gerakan dakwah dituntut untuk mampu berinovasi dan berkreasi dalam rangka adaptasi pada situasi social masyarakat yang kompleks tersebut. Inovasi dan kreasi menjadikan dakwah tumbuh dalam wilayah dan kelembagaan yang beragam

A. Pengertian pendekatan dakwah

  Pendekatan dakwah merupakan titik tolak atau sudut pandang kita terhadap dakwah. Pada umumnya, penentuan pendekatan dakwah didasarkan pada mitra dakwah dan suasana yang melingkupinya. Dalam bahasa lain, pendekatan dakwah harus tertumpu pada pandangan human oriented, dengan menempatkan pandangan yang mulia atas diri manusia sebagai mitra dakwah

    Sebagaimana dikutip Ali Aziz mengemukakan tiga pendekatan dakwah, yaitu pendekatan budaya dan bahasa, pendekatan pendidikan, dan pendekatan psikologis.

a.  Pendekatan budaya dan bahasa dalam dakwah adalah penggunaan budaya dan bahasa sebagai alat atau media untuk menyampaikan pesan dakwah, misalnya penggunaan wayang kulit dan bahasa Jawa untuk dakwah pada komunitas Suku Jawa, penggunaan bahasa Betawi dan lenong untuk komunitas Suku Betawi, dan seterusnya.

b. Pendekatan pendidikan adalah penggunaan pendidikan (ta’lim) sebagai sarana untuk mencerdaskan, mencerahkan masyarakat dari kebodohan dalam bidang ilmu agama dan pengetahuan lainnya. Sarananya bisa melalui mimbar jum’at, majelis ta’lim, penataran, pelatihan, pendidikan formal dan non formal.

c.   Pendekatan psikologis adalah pendekatan dakwah dengan sentuhan psikologis kepada mad’u melalui bimbingan konseling, kunsultasi dalam urusan keluarga, agama, dan lainnya.

B. Basis Dan Pendekatan Dakwah Multikultural

    Multikultural merujuk kepada konsep kebinekaan yang bersifat multi dimensi yang meliputi aspek bahasa, warna kulit, budaya, suku, etnis, bangsa, dan agama. Bila merujuk kepada Al-Qur’an, kita akan menemukan bahwa fakta multikultural umat manusia merupakan kehendak sekaligus sunnatullah bagi kehidupan umat manusia sepanjang sejarah.

    Dalam pendekatan terdapat perselisihan dan perbedaan yang terjadi pada masyarakat manusia dapat menimbulkan kelemahan serta ketegangan antar mereka, tetapi dalam kehidupan ini ada perbedaan yang tidak dapat dihindari, yaitu ciri dan tabiat manusia yang pada gilirannya menimbulkan perbedaan-perbedaan dalam banyak hal. Belum lagi perbedaan lingkungan dan perkembangan ilmu yang juga memperluas perbedaan mereka. Ini semua merupakan kehendak Allah Swt. dan tentu diperlukan oleh manusia bukan saja sebagai makhluk sosial, tetapi juga sebagai hamba Allah yang harus mengabdi kepada-Nya dan menjadi khalifah di bumi

    Ketika terjadi perbedaan dan ketegangan diantara sesama umat manusia, harus dilakukan dialog untuk mencari kebenaran universal yang memiliki tujuan antara lain: untuk saling mengenal (al-ta’aruf), saling mengerti (al-tafahum), saling mengasihi (al-tarahum) , membangun solidaritas (al-tadhamun), hidup bersama secara damai (al-ta’ayusy al-silmi)

    Pendekatan dakwah multikultural mengajukan lima macam aspek antara lain :

1.       Berbeda dengan dakwah konvensional yang menempatkan konversi iman sebagai bagian inti dari dakwah, pendekatan dakwah multikultural menilai bahwa dakwah tidak lagi secara eksplisit dimaksudkan untuk mengislamkan umat non muslim.

2.       Dalam ranah kebijakan publik dan politik, dakwah multikultural menggagas ide tentang kesetaraan hak-hak warga negara (civil right), termasuk hak-hak kelompok minoritas.

3.       Dalam ranah sosial, dakwah multikultural memilih untuk mengambil pendekatan kultural ketimbang harakah (salafi jahidy)

4.       Keempat, dalam konteks pergaulan global, dakwah multikultural menggagas ide dialog antar-budaya dan keyakinan (intercultur-faith understanding).

5.       Kelima, terkait dengan program seperti ini dalam poin keempat, para penggagas dakwah multikultural, merasa perlu untuk menyegarkan kembali pehamaman doktrin - doktrin Islam klasik, dengan cara melakukan reinterpretasi dan rekonstruksi paham Islam, sesuai dengan perkembangan masyarakat global-multikultural.

Kesimpulan

       Basis dakwah multikultural sebenarnya terdapat dalam kitab suci Al-Qur’an itu sendiri yang menegaskan bahwa fakta multikultural umat manusia yang beragam dan berbeda satu sama lain merupakan kehendak sekaligus sunatullah bagi kehidupan umat manusia sepanjang sejarah. Dengan kesadaran tentang adanya keragaman dan perbedaan itu, umat manusia dituntut untuk berlomba-lomba dalam kebajikan, sehingga akan terjadi kreativitas dan peningkatan kualitas kehidupan umat manusia dalam berbagai aspeknya demi kemaslahatan hidup bersama.

Daftar Pustaka

Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, (Surabaya :PT. Kencana, 2004) hlm, 347

 Abdurraham Wahid, dkk, Islam Nusantara (Bandung: Mizan, 2015), hlm. 85. 

Hotman, Filsafat Dakwah: Rekayasa, hlm. 274-80.

Toto Tasmara, Komunikasi Dakwah (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997), hlm. 43-44.

Senin, 15 Maret 2021

Ruang Lingkup Dakwah Antar Budaya




  Ruang Lingkup Dakwah Antar Budaya


 

oleh : Widya Meilis Rusandi (B01219053)

Mahasiswi KPI A2 Semester 4 2021



Manusia adalah makhluk yang berbudaya. Manusia secara fisik hampir tak memiliki perbedaan yang mencolok antara satu dengan yang lainnya. Kemudian dakwah merupakan kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus terhadap objek dakwah. Dari masa ke masa kegiatan  dakwah selalu mengalami perubahan dengan kondisi budaya dan situasi lingkungan. Munculnya permasalahan dalam dakwah semakin efektif, apalagi pada zaman yang modern seperti sekarang ini. Para da’i dituntut harus bisa mengetahui gambaran dakwah atau materi yang mengandung berbagai keterangan, informasi, dan data yang dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk menyusun suatu rencana kegiatan dakwah secara sistematis dan terperinci tentang daerah yang  nantinya  akan  mewujudkan  dakwah antar budaya oleh sang da’i. 

A. Pengertian Dakwah Antar Budaya

     Dakwah antar budaya merupakan proses dakwah yang mempertimbangkan keragaman budaya antar da’i (subjek dakwah) dan mad’u (objek dakwah) , dan keragaman penyebab terjadinya gangguan interaksi pada tingkat antar budaya, agar pesan dakwah dapat tersalurkan, dengan tetap terciptanya situasi damai.

   Sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari- hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda benda diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku, bahasa, pearlatan hidup, organisasi sosial, religi, seni dan lain lain, yang kesemuanya ditunjukkan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan masyarakat sehingga dakwah kita walaupun berbeda budaya akan selalu tetap terjaga.

    Seseorang atau sekelompok orang akan berubah pikiran, keyakinan, sikap dan perilakunya ke arah yang lebih positif yaitu ke arah yang sesuai dengan ajaran atau nilai-nilai Islam. Misalnya dari tidak mengenal tuhan ke mengenal Tuhan, dari bertuhan banyak ke Tuhan satu, dari tidak shalat menjadi shalat, dari berperilaku jelek menjadi berperilaku baik, dari kondisi miskin yang pasrah terhadap nasib menjadi sadar dan mau merubah nasib dan sebagainya. Oleh karena itu, dakwah hendaklah dikemas dengan baik sehingga mampu menarik perhatian mad’u, misalnya dengan mendiskusikan nilai-nilai atau ajaran Islam dengan nilai-nilai tradisi atau budaya lokal. Oleh karenanya dibutuhkan aktivitas dakwah agar senantiasa mampu mewujudkan dakwah antar budaya saling rukun, saling menghormati dan menghargai diantara sesama serta mampu menjalin hidup yang toleran dengan kearifan budaya yang ada. Dakwah antar budaya merupakan sebagai proses dakwah yang mempertimbangkan keragaman budaya antar subjek, objek dakwah serta keragaman penyebab terjadinya gangguan interaksi pada tingkat intra dan antar budaya agar pesan dakwah dapat tersampaikan dengan tetap terpelihara situasi dan kondisi dengan damai. 

B. Ruang Lingkup Dakwah Antar Budaya

    Dakwah antar budaya merupakan kajian proses berdakwah mengajak seseorang manusia untuk menyampaikan pesan pesan agama islam dan perilaku Islam sesuai dengan konsep dan budaya yang berkembang di masyarakat. 

 Kajian dakwah antar budaya memiliki ruang lingkup kajian ilmu dakwah yang meliputi :

a. Mengkaji dasar-dasar tentang adanya interaksi simbolik da’i dengan mad’u yang berbeda latarbelakang budaya yang dimilikinya dalam perjalanan dakwah para da’i.

b. Menelaah unsur-unsur dakwah dengan mempertimbangkan aspek budaya yang berhubungan dengan unsur da’i, pesan dakwah, metode, media, mad’u dan dimensi ruang dan waktu dalam keberlangsungan interaksi berbagai unsur dakwah

c.   Mengkaji tentang karakteristik-karakteristik manusia baik posisinya yang menjadi da’i maupun yang menjadi mad’u melalui kerangka metodologi dalam antropologi.

d.      Mengkaji tentang upaya-upaya dakwah yang dilakukan oleh masing-masing etnis 

e.  Mengkaji problem yang ditimbulkan oleh pertukaran antar budayadan upaya-upaya solusi yang dilakukan dalam rangka mempertahankan eksistensi jati diri budaya masing-masing

    C. Strategi Dakwah Antar Budaya 

        Mengenali tempat, situasi dan kondisi masyarakat terlebih dahulu merupakan langkah awal yang harus dilakukan seorang penceramah (da’i). Hal ini untuk memudahkan strategi yang akan digunakan serta materi dakwah yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Sebab, dalam menentukan sebuah strategi dakwah seorang da’i harus jeli dalam melihat kondisi mad’u, sehingga aktivitas dakwah akan lebih mantap, efisien, dan mengenai sasaran. Dakwah seperti ini akan lebih efektif. Strategi dakwah litas budaya dapat kita lihat pada sejarah Wali Songo (9 wali) dalam menyebarkan ajaran-ajaran Islam dan mentransformasikan nilai-nilai keislaman kepada masyarakat. Seperti Sunan Kalijaga dalam berdakwah beliau tidak memangkas budaya-budaya yang telah berkembang di tengah-tengah masyarakat. Justru budaya tersebut dijadikan sebagai media penyebaran Islam. Pada masa itu, kultur yang paling diminati masyarakat adalah wayang kulit. Hanya saja pesan-pesan yang terkandung dalam pergelaran wayang kulit tersebut masih kental dengan ajaran-ajaran Hindu. Maka sunan Kalijaga memasukkan nilai-nilai Islami ke dalam cerita wayang kulit tersebut. Sehingga disadari ataupun tidak, masyarakat mulai tertarik dengan ajaran yang dibawa sunan Kalijaga. Dari situlah Islam melebarkan sayapnya.  

        Dari proses pelaksanaan dakwah sunan Kalijaga di atas, mengindikasikan kepada kita bahwa tidak semua budaya yang bersumber dari non Islam itu jelek sehingga harus dipangkas sampai habis tapi bagaimana seorang da’i menyelipkan nilai-nilai keislaman di dalamnya. Di sini dibutuhkan kecerdikan seorang da’i. Justru sikap semena-mena terhadap budaya-budaya warisan nenek moyang akan membangkitkan kobaran amarah dari masyarakat setempat yang kemudian mengerucut pada kekacauan dan kehancuran peradaban.

Kesimpulan 

         Dakwah dengan pendekatan dakwah antar budaya mampu mewujudkan suatu tatanan kehidupan yang lebih baik yaitu proses dakwah yang mempertimbangkan keragaman budaya antar budaya orang lain. Dengan pendekatan antar budaya ini sebagai salah satu watak dasar Islam sebagai dakwah yang mempertimbangkan keragaman budaya antar subjek, objek dakwah serta keragaman penyebab terjadi gangguan interaksi pada tingkat inttra dan antar budaya agar pesan dakwah dapat tersampaikan dengan terpilahara situasi dan kondisi.

Ahmad, Nur. Mewujudkan Dakwah Antar Budaya dalam Perspektif Islam. AT-TABSYIR: Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam, [S.l., v.3 n.1,p.21-40, januari. 2016

Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, Surabaya :PT. Kencana, 2004

Suranto, Komunikasi Antar Budaya, Yogyakarta:Graha Ilmu, 2010

Fachrur.Rozi,“Kontroversi Dakwah Inklusif”dalam Jurnal Ilmu Dakwah, Vol. 27, No.1, Januari-Juni , Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang, 2007

Acep Aripudin, Dakwah Antarbudaya, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2012.