Masyarakat Indonesia memiliki
berbagai macam keberagaman seperti agama, bangsa ras, bahasa, adat istiadat dan
sebagainya. Indonesia terkenal dengan keberagaman budayanya. Budaya adalah
suatu konsep yang membangkitkan minat. Secara formal budaya didefinisikan
sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, makna dan
diwariskan dari generasi ke generasi, melalui usaha individu dan kelompok.
Komunikasi diperlukan untuk mengenal
budaya yang satu dengan budaya yang lainnya. Dengan berkomunikasi seseorang
dapat memahami perbedaan antar budaya yang satu dengan yang lainnya. Komunikasi
dan budaya mempunyai hubungan timbal balik. Budaya menjadi bagian dari perilaku
komunikasi, dan komunikasi pun selalu menentukan budaya. Komunikasi antar
budaya terjadi jika bagian yang terlibat dalam kegiatan komunikasi membawa
latar belakang budaya pengalaman yang berbeda dan mencerminkan nilai yang
dianut oleh kelompoknya.
Berkomunikasi merupakan kebutuhan
yang fundamental bagi seseorang yang hidup bermasyarakat, tanpa komunikasi
tidak mungkin masyarakat terbentuk, sebaliknya tanpa masyarakat, maka manusia
tidak mungkin dapat mengembangkan komunikasi. Manusia adalah makhluk sosial
yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam hidup manusia selalu berinteraksi dengan
sesama serta dengan lingkungan. Manusia hidup berkelompok baik dalam kelompok
besar maupun kelompok kecil.
A.
Pengertian
Dakwah Antar budaya Dakwah
Pada hakikatnya adalah upaya aktualisasi iman yang dimanifestasikan
dalam suatu sistem kehidupan manusia beriman dalam bidang kemasyarakatan yang
dilaksanakan secara teratur untuk mempengaruhi cara berpikir, merasa, bersikap
dan berperilaku manusia pada dataran individual maupun sosiokultural dalam
rangka mewujudkan ajaran Islam dalam semua segi kehidupan dengan menggunakan
cara tertentu (Rozi, 2007. 34).
Dalam dakwah, unsur dakwah meliputi dai, mad’u, metode, materi,
media. Dan dalam komunikasi, unsurnya dalah komunikator, komunikan, pesan,
media, dan efek. Keduanya hampir sama maknanya, hanya saja dalam unsur dakwah,
efek tidak dicantumkan. Namun pasti setiap komunikasi baik dilakukan dengan
kemasan dakwah, akan tetap meberikan efek tersendiri. Seorang da’i, dituntut
untuk bisa menyampaikan materi kepada mad’u secara gamblang dan dapat diterima
oleh mad’u, ini merupakan keharusan. Karena seorang da’i dianggap berhasil
apabila ia telah mampu memahamkan mad’u-nya. Dalam komunikasi, hal ini disebut
komunikasi efektif. Untuk memenuhi tuntutan tersebut, seorang dai harus bisa
memahami kondisi mad’u.
Di sinilah letak pentingnya komunikasi lintas budaya, karena dengan
memahami budaya yang ada, maka dakwah dapat dilaksanakan dengan baik. Salah
satu metode yang digunakan dalam berdakwah adalah dakwah bil hikmah, dakwah bil
hikmah dilakukan dengan cara yang arif dan bijaksana, yaitu melalui pendekatan
sedemikian rupa sehingga pihak obyek dakwah mampu melaksanakan dakwah atas
kemauannya sendiri, tidak merasa ada paksaan, tekanan, mapun konflik. Inilah
yang bisa diterapkan dalam konsep dakwah lintas budaya
B.
Dakwah
Kultural dan Perubahan Sosial
Dakwah Islam menghendaki perubahan masyarakat baik secara individu
maupun secara kolektif, untuk mewujudkan perubahan tersebut dibutuhkan upaya
yang sungguh-sungguh dan profesional oleh para aktivis dakwah.
Perubahan sosial adalah proses sosial yang dialami oleh anggota
masyarakat serta semua unsur-unsur budaya dan sistem-sistem sosial, dimana
semua tingkat kehidupan masyarakat secara sukarela atau dipengaruhi oleh
unsurunsur eksternal meninggalkan pola-pola kehidupan, budaya dan sistem sosial.
Dakwah Dalam Pendekatan Nilai-nilai Kearifan LokalPerubahan sosial terjadi
ketika ada kesediaan anggota masyarakat untuk meninggalkan sistem sosial lama
dan mulai memilih serta menggunakan pola dan sistem sosial yang baru. Perubahan
sosial dipandang sebagai konsep yang mencakup seluruh kehidupan individu,
kelompok, masyarakat, negara dan dunia yang mengalami perubahan.
Berangkat dari pemahan di atas, maka dakwah kultural setidaknya
dapat diklasifikasi dengan tiga tahap yakni:
a.
Pertama,
Islam harus disebarkan kepada umat manusia selalu berbasis bil-Hikmah. Artinya
bahwa dakwah yang selalu berusaha memahami realitas umat secara totalitas, sehingga
da‟i ini akan berusaha menampilkan dakwah yang gemar merangkul bukan memukul,
terutama yang terkait dengan nilai-nilai kearifan lokal. Walhasil dengan
pendekatan al-Hikmah ini, kemudian seorang da‟i akan mampu menyesuaikan
strategi serta model dakwah yang akan dikembangkan kepada umat tersebut.
b.
Kedua,
Mengamalkan ajaran Islam secara konkrit. Sebagai langkah kedua dalam mendorong
peran dakwah terhadap perubahan sosial adalah dengan berusaha mengamalkan
ajaran Islam dalam kehidupan nyata di masyarakat secara konsisten. Sebab selama
ini ada kesan bahwa semangat untuk mengetahui ajaran agama di masyarakat tidak
berbanding lurus dengan semangat mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan ril.
bahwa
hakikat dakwah menghendaki adanya perubahan sosial di tengah masyarakat,
terkait dengan perubahan sosial tersebut oleh para ahli sosiologi memberikan klasifikasi
perubahan yaitu:
a.
Perubahan
pola pikir (kognitif). Perubahan pola pikir masyarakat terhadap berbagai
persoalan sosial dan budaya akan melahirkan pola pikir baru yang dianut oleh
masyarakat di era modern.
b.
Perubahan
sikap (afektif). Perubahan sikap masyarakat menyangkut perubahan sistem-sistem
sosial dimana masyarakat meninggalkan sistem yang lama dan beralih kepada
sistem yang baru.
c.
Perubahan
perilaku (psikomotorik), perubahan ini terkait dengan kebiasaan atau budaya
menyangkut perubahan artefak budaya yang digunakan oleh masyarakat seperti
model pakaian, karya fotografi dan seterunsnya
C.
Pengertian Komunikasi
Lintas Budaya
Komunikasi
lintas budaya adalah proses pertukaran pikiran dan makna antara orang-orang
yang berbeda budaya. Ketika komunikasi tersebut terjadi antara orang-orang
berbeda bangsa(international), antaretnik(interethnical), kelompok
ras(interracial), atau komunikasi bahasa(intercommunal), disebut komunikasi
lintas budaya.
Menurut
Liliweri (2003:9), dalam bukunya yang berjudul Komunikasi Antarbudaya,
memberikan definisi komunikasi antarbudaya atau komunikasi lintas budaya
sebagai pernyataan diri antarpribadi yang paling efektif antar dua orang yang
saling berbeda latar belakang budayanya.
Komunikasi
Lintas Budaya dalam pengertian yang lebih luas lagi, merupakan pertukaran pesan
yang disampaikan secara lisan, tertulis, bahkan secara imajiner antara dua
orang yang berbeda latar belakang budaya.
D.
Fungsi Komunikasi Lintas Budaya
Komunikasi lintas budaya memiliki fungsi
penting, terutama ketika seseorang mulai menjalin hubungan bilateral,
trilateral, atau multilateral. Secara khusus, komunikasi lintas budaya
berfungsi untuk mengurangi ketidakpastian komunikasi antarorang, antarsuku, dan
antarbangsa yang berbeda budayanya. Ketika memasuki wilayah(daerah) orang lain,
seseorang dihadapkan dengan orang-orang yang sedikit atau banyak berbeda,
ditinjau dari aspek sosial, budaya, ekonomi dan status lainnya.
E.
Prinsip-
Prinsip Komunikasi antar Budaya
1.
Relativitas
Bahasa
Gagasan
umum bahwa bahasa mempengaruhi pemikiran dan perilaku paling banyak disuarakan
oleh para antropologis linguistik. Pada akhir tahun 1920-an dan disepanjang
tahun 1930-an, dirumuskan bahwa karakteristik bahasa mempengaruhi proses
kognitif kita. Dan karena bahasa-bahasa di dunia sangat berbeda-beda dalam hal
karakteristik semantik dan strukturnya, tampaknya masuk akal untuk mengatakan
bahwa orang yang menggunakan bahasa yang berbeda juga akan berbeda dalam cara
mereka memandang dan berpikir tentang dunia.
2.
Bahasa
sebagai cermin budaya
Bahasa
mencerminkan budaya. Makin besar perbedaan budaya, makin perbedaan komunikasi
baik dalam bahasa maupun dalam isyarat-isyarat nonverbal. Makin besar perbedaan
antara budaya (dan, karenanya, makin besar perbedaan komunikasi), makin sulit
komunikasi dilakukan. Kesulitan ini dapat mengakibatkan, misalnya, lebih banyak
kesalahankomunikasi, lebih banyak kesalahan kalimat, lebih besar kemungkinan
salah paham, makin banyak salah persepsi, dan makin banyak potong kompas (bypassing).
3.
Mengurangi
Ketidakpastian
Makin
besar perbedaan antarbudaya, makin besarlah ketidak-pastian dam ambiguitas
dalam komunikasi. Banyak dari komunikasi kita berusaha mengurangi
ketidak-pastian ini sehingga kita dapat lebih baik menguraikan, memprediksi,
dan menjelaskan perilaku orang lain. Karena letidak-pasrtian dan ambiguitas
yang lebih besar ini, diperlukan lebih banyak waktu dan upaya untuk mengurangi
ketidak-pastian dan untuk berkomunikasi secara lebih bermakna.
4.
kesadaran
diri dan perbedaan antar budaya
Makin
besar perbedaan antarbudaya, makin besar kesadaran diri (mindfulness)
para partisipan selama komunikasi. Ini mempunyai konsekuensi positif dan
negatif. Positifnya, kesadaran diri ini barangkali membuat kita lebih waspada.
ini mencegah kita mengatakan hal-hal yang mungkin terasa tidak peka atau tidak
patut. Negatifnya, ini membuat kita terlalu berhati-hati, tidak spontan, dan
kurang percaya diri.
5.
Interaksi
awal dan perbedaan antar budaya
Perbedaan
antarbudaya terutama penting dalam interaksi awal dan secara berangsur
berkurang tingkat kepentingannya ketika hubungan menjadi lebih akrab. Walaupun
selalu terdapat kemungkinan salah persepsi dansalah menilai orang lain,
kemungkinan ini khususnya besar dalam situasi komunikasi antarbudaya.
6.
Memaksimalkan
hasil interaksi
Dalam
komunikasi antarbudaya terdapat tindakan-tindakan yang berusaha memaksimalkan
hasil interaksi. Tiga konsekuensi mengisyaratkan implikasi yang penting bagi
komunikasi antarbudaya. Pertama, orang akan berintraksi dengan orang lain yang
mereka perkirakan akan memberikan hasil positif. Kedua, bila mendapatkan hasil
yang positif, maka pelaku komunikasi terus melibatkan diri dan meningkatkan
komunikasi. Bila memperoleh hasil negatif, maka pelaku mulai menarik diri dan
mengurangi komunikasi. Ketiga, pelaku membuat prediksi tentang perilaku mana
yang akan menghasilkan hasil positif. Pelaku akan mencoba memprediksi hasil
dari, misalnya, pilihan topik, posisi yang diambil, perilaku nonverbal yang
ditunjukkan, dan sebagainya. Pelaku komunikasi kemudian melakukan apa yang
menurutnya akan memberikan hasil positif dan berusaha tidak melakkan apa yang
menurutnya akan memberikan hasil negatif.
F.
Karakteristik Budaya dan Komunikasi
Ada tiga karakteristik penting dari kebudayaan, yaitu kebudayaan itu dapat
dipelajari, kebudayaan itu dapat dipertukarkan, dan kebudayaan itu tumbuh serta
berubah (Hebding dan Glick, 1991, hlm. 45).
1.
Kebudayaan itu Dipelajari
Kita sebut
kebudayaan itu dapat dipelajari karena interaksi antarmanusia ditentukan oleh
penggunaan simbol, bahasa verbal maupun nonverbal. Tradisi budaya, nilai-nilai,
kepercayaan, dan standar perilaku semuanya diciptakan oleh kreasi manusia dan
bukan sekadar diwarisi secara instink, melainkan melalui proses pendidikan
dengan cara-cara tertentu menurut kebudayaan. Setiap manusia lahir dalam suatu
keluarga, kelompok sosial tertentu yang telah memiliki nilai, kepercayaan, dan
standar perilaku yang ditransmisikan melalui interaksi di antara meraka
(sosialisasi).
2.
Kebudayaan itu Dipertukarkan
Di samping
dipelajari, kebudayaan itu juga dipertukarkan. Istilah pertukaran merujuk pada
kebiasaan individu atau kelompok untuk menunjukkan kualitas kelompok budayanya.
Dalam interaksi atau pergaulan antarmanusia setiap orang mewakili kelompoknya
lalu menunjukkan kelebihan-kelebihan budayanya dan membiarkan orang lain untuk
mempelajarinya. Proses pertukaran budaya dilakukan melalui mekanisme belajar
budaya yang mengakibatkan para ibu yang berasal dari Sunda dan Jawa dapat
belajar memasak jagung bose (masakan jagung yang bercampur
santan kelapa) dan sebaliknya para ibu dari Timor dan Flores belajar
membuat oncom dan bajigur dari Sunda.
3.
Kebudayaan Tumbuh dan Berkembang
Setiap kebudayaan terus ditumbuhkembangkan oleh para pemilik kebudayaannya,
oleh karena itu ada yang mengatakan bahwa kebudayaan ituterus mengalami
perubahan. Oleh
karena itu, kita menyebut kebudayaan itu berbuah semakin rinci (kompleks) dan
kemudian dikomunikasikan dari satu generasi ke generasi lain. Tenun ikat dari
Ended an Lio di Flores mula-mula di tenun dengan benang yang di celupkan ke
dalam nila. Akibat perkembangan teknologi industri maka lama kelamaan nila
mulai ditinggalkan dan para penenun memakai benang sutera sehingga dapat
menghasilkan tenun ikat berkualitas ekspor
G.
Kesimpulan
Pada prinsipnya Islam dan budaya tidak bertentangan, sebab keduanya
sama-sama mengajarkan nilai-nilai kebaikan yang tujuannya membuat keteraturan
bagi sekelompok manusia. Karena itu, dalam konteks dakwah maka yang terpenting
adalah bagaimana seorang da‟i harus mampu memahami nilai-nilai historis dan
filosofis dari budaya yang berkembang di masyarakat, kemudian diinternalisasi
dengan nilai-nilai keislaman. Walhasil lahirlah model budaya baru yang bisa
disebut “budaya Islami”.
Islam mengajarkan kepada manusia nilai-nilai normatif untuk
menerapkan keadilan, kejujuran, persamaan, kebebasan, persaudaraan, kebebasan
dan musyawarah, yang kesemuanya itu dalam rangka mewujudkan suatu tata
kehidupan masyarakat dan negara yang sebaik-baiknya untuk kemaslahatan hidup
yang berkesinambungan, baik kehidupan individual maupun kehidupan sosial. Dan
bahwa “pada dasarnya universalisme ajaran (agama) Islam telah memuat
prinsip-prinsip dasar mengenai hubungan-hubungan individu dan hubunganhubungan
sosial yang kemudian pengejawantahan nilai-nilai kemanusiaan tersebut secara
subtansial.