Minggu, 16 Mei 2021

Mengenal Unsur-Unsur Komunikasi Lintas Budaya Dalam Berdakwah.



Mengenal Unsur-Unsur Komunikasi Lintas Budaya Dalam Berdakwah.





oleh : Widya Meilis Rusandi (B01219053)

Mahasiswi KPI A2 Semester 4 2021


link journal dan artikel : 

 http://journal.unpad.ac.id ( JURNAL MANAJEMEN KOMUNIKASI KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA DALAM PERSPEKTIF ANTROPOLOGI Oleh: Khoiruddin Muchtar, Iwan Koswara, Agus Setiaman)


https://media.neliti.com/media/publications/244405-prinsip-prinsip-dakwah-antarbudaya-341b4138.pdf

 link artikel dengan judul: JURNAL BERITA SOSIAL Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI)/Kessos Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar Edisi I. Desember 2013/ISSN. 23392584 PRINSIP-PRINSIP DAKWAH ANTARBUDAYA Oleh : H. Baharuddin Ali


Link Youtobe : 

https://youtu.be/M7opMPkPPps 

Komunikasi Antar Budaya, channel caecellia ayu, di upload di tanggal 03 mei 2020


 

Dalam dakwah, unsur dakwah meliputi dai, mad’u, metode, materi, media. Dan dalam komunikasi, unsurnya dalah komunikator, komunikan, pesan, media, dan efek. Keduanya hampir sama maknanya, hanya saja dalam unsur dakwah, efek tidak dicantumkan. Namun pasti setiap komunikasi baik dilakukan dengan kemasan dakwah, akan tetap meberikan efek tersendiri. Seorang da’i, dituntut untuk bisa menyampaikan materi kepada mad’u secara gamblang dan dapat diterima oleh mad’u, ini merupakan keharusan. Karena seorang da’i dianggap berhasil apabila ia telah mampu memahamkan mad’u-nya. Dalam komunikasi, hal ini disebut komunikasi efektif. Untuk memenuhi tuntutan tersebut, seorang dai harus bisa memahami kondisi mad’u.

Di sinilah letak pentingnya komunikasi lintas budaya, karena dengan memahami budaya yang ada, maka dakwah dapat dilaksanakan dengan baik. Salah satu metode yang digunakan dalam berdakwah adalah dakwah bil hikmah, dakwah bil hikmah dilakukan dengan cara yang arif dan bijaksana, yaitu melalui pendekatan sedemikian rupa sehingga pihak obyek dakwah mampu melaksanakan dakwah atas kemauannya sendiri, tidak merasa ada paksaan, tekanan, mapun konflik. Inilah yang bisa diterapkan dalam konsep dakwah lintas budaya

Senin, 10 Mei 2021

Dakwah Dalam kajian Pola Komunikasi Lintas Budaya

 

Dakwah Dalam kajian Pola Komunikasi Lintas Budaya



oleh : Widya Meilis Rusandi (B01219053)

Mahasiswi KPI A2 Semester 4 2021

Masyarakat Indonesia memiliki berbagai macam keberagaman seperti agama, bangsa ras, bahasa, adat istiadat dan sebagainya. Indonesia terkenal dengan keberagaman budayanya. Budaya adalah suatu konsep yang membangkitkan minat. Secara formal budaya didefinisikan sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, makna dan diwariskan dari generasi ke generasi, melalui usaha individu dan kelompok.

Komunikasi diperlukan untuk mengenal budaya yang satu dengan budaya yang lainnya. Dengan berkomunikasi seseorang dapat memahami perbedaan antar budaya yang satu dengan yang lainnya. Komunikasi dan budaya mempunyai hubungan timbal balik. Budaya menjadi bagian dari perilaku komunikasi, dan komunikasi pun selalu menentukan budaya. Komunikasi antar budaya terjadi jika bagian yang terlibat dalam kegiatan komunikasi membawa latar belakang budaya pengalaman yang berbeda dan mencerminkan nilai yang dianut oleh kelompoknya.

Berkomunikasi merupakan kebutuhan yang fundamental bagi seseorang yang hidup bermasyarakat, tanpa komunikasi tidak mungkin masyarakat terbentuk, sebaliknya tanpa masyarakat, maka manusia tidak mungkin dapat mengembangkan komunikasi. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam hidup manusia selalu berinteraksi dengan sesama serta dengan lingkungan. Manusia hidup berkelompok baik dalam kelompok besar maupun kelompok kecil.

A.    Pengertian Dakwah Antar budaya Dakwah

Pada hakikatnya adalah upaya aktualisasi iman yang dimanifestasikan dalam suatu sistem kehidupan manusia beriman dalam bidang kemasyarakatan yang dilaksanakan secara teratur untuk mempengaruhi cara berpikir, merasa, bersikap dan berperilaku manusia pada dataran individual maupun sosiokultural dalam rangka mewujudkan ajaran Islam dalam semua segi kehidupan dengan menggunakan cara tertentu (Rozi, 2007. 34).

Dalam dakwah, unsur dakwah meliputi dai, mad’u, metode, materi, media. Dan dalam komunikasi, unsurnya dalah komunikator, komunikan, pesan, media, dan efek. Keduanya hampir sama maknanya, hanya saja dalam unsur dakwah, efek tidak dicantumkan. Namun pasti setiap komunikasi baik dilakukan dengan kemasan dakwah, akan tetap meberikan efek tersendiri. Seorang da’i, dituntut untuk bisa menyampaikan materi kepada mad’u secara gamblang dan dapat diterima oleh mad’u, ini merupakan keharusan. Karena seorang da’i dianggap berhasil apabila ia telah mampu memahamkan mad’u-nya. Dalam komunikasi, hal ini disebut komunikasi efektif. Untuk memenuhi tuntutan tersebut, seorang dai harus bisa memahami kondisi mad’u.

Di sinilah letak pentingnya komunikasi lintas budaya, karena dengan memahami budaya yang ada, maka dakwah dapat dilaksanakan dengan baik. Salah satu metode yang digunakan dalam berdakwah adalah dakwah bil hikmah, dakwah bil hikmah dilakukan dengan cara yang arif dan bijaksana, yaitu melalui pendekatan sedemikian rupa sehingga pihak obyek dakwah mampu melaksanakan dakwah atas kemauannya sendiri, tidak merasa ada paksaan, tekanan, mapun konflik. Inilah yang bisa diterapkan dalam konsep dakwah lintas budaya[1]

B.     Dakwah Kultural dan Perubahan Sosial

Dakwah Islam menghendaki perubahan masyarakat baik secara individu maupun secara kolektif, untuk mewujudkan perubahan tersebut dibutuhkan upaya yang sungguh-sungguh dan profesional oleh para aktivis dakwah.

Perubahan sosial adalah proses sosial yang dialami oleh anggota masyarakat serta semua unsur-unsur budaya dan sistem-sistem sosial, dimana semua tingkat kehidupan masyarakat secara sukarela atau dipengaruhi oleh unsurunsur eksternal meninggalkan pola-pola kehidupan, budaya dan sistem sosial. Dakwah Dalam Pendekatan Nilai-nilai Kearifan LokalPerubahan sosial terjadi ketika ada kesediaan anggota masyarakat untuk meninggalkan sistem sosial lama dan mulai memilih serta menggunakan pola dan sistem sosial yang baru. Perubahan sosial dipandang sebagai konsep yang mencakup seluruh kehidupan individu, kelompok, masyarakat, negara dan dunia yang mengalami perubahan.[2]

Berangkat dari pemahan di atas, maka dakwah kultural setidaknya dapat diklasifikasi dengan tiga tahap yakni:

a.       Pertama, Islam harus disebarkan kepada umat manusia selalu berbasis bil-Hikmah. Artinya bahwa dakwah yang selalu berusaha memahami realitas umat secara totalitas, sehingga da‟i ini akan berusaha menampilkan dakwah yang gemar merangkul bukan memukul, terutama yang terkait dengan nilai-nilai kearifan lokal. Walhasil dengan pendekatan al-Hikmah ini, kemudian seorang da‟i akan mampu menyesuaikan strategi serta model dakwah yang akan dikembangkan kepada umat tersebut.[3]

b.      Kedua, Mengamalkan ajaran Islam secara konkrit. Sebagai langkah kedua dalam mendorong peran dakwah terhadap perubahan sosial adalah dengan berusaha mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan nyata di masyarakat secara konsisten. Sebab selama ini ada kesan bahwa semangat untuk mengetahui ajaran agama di masyarakat tidak berbanding lurus dengan semangat mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan ril.[4]

bahwa hakikat dakwah menghendaki adanya perubahan sosial di tengah masyarakat, terkait dengan perubahan sosial tersebut oleh para ahli sosiologi memberikan klasifikasi perubahan yaitu:

a.       Perubahan pola pikir (kognitif). Perubahan pola pikir masyarakat terhadap berbagai persoalan sosial dan budaya akan melahirkan pola pikir baru yang dianut oleh masyarakat di era modern.

b.      Perubahan sikap (afektif). Perubahan sikap masyarakat menyangkut perubahan sistem-sistem sosial dimana masyarakat meninggalkan sistem yang lama dan beralih kepada sistem yang baru.

c.       Perubahan perilaku (psikomotorik), perubahan ini terkait dengan kebiasaan atau budaya menyangkut perubahan artefak budaya yang digunakan oleh masyarakat seperti model pakaian, karya fotografi dan seterunsnya

C.     Pengertian Komunikasi Lintas Budaya

Komunikasi lintas budaya adalah proses pertukaran pikiran dan makna antara orang-orang yang berbeda budaya. Ketika komunikasi tersebut terjadi antara orang-orang berbeda bangsa(international), antaretnik(interethnical), kelompok ras(interracial), atau komunikasi bahasa(intercommunal), disebut komunikasi lintas budaya.

Menurut Liliweri (2003:9), dalam bukunya yang berjudul Komunikasi Antarbudaya, memberikan definisi komunikasi antarbudaya atau komunikasi lintas budaya sebagai pernyataan diri antarpribadi yang paling efektif antar dua orang yang saling berbeda latar belakang budayanya.

Komunikasi Lintas Budaya dalam pengertian yang lebih luas lagi, merupakan pertukaran pesan yang disampaikan secara lisan, tertulis, bahkan secara imajiner antara dua orang yang berbeda latar belakang budaya.[5]

D.    Fungsi Komunikasi Lintas Budaya

Komunikasi lintas budaya memiliki fungsi penting, terutama ketika seseorang mulai menjalin hubungan bilateral, trilateral, atau multilateral. Secara khusus, komunikasi lintas budaya berfungsi untuk mengurangi ketidakpastian komunikasi antarorang, antarsuku, dan antarbangsa yang berbeda budayanya. Ketika memasuki wilayah(daerah) orang lain, seseorang dihadapkan dengan orang-orang yang sedikit atau banyak berbeda, ditinjau dari aspek sosial, budaya, ekonomi dan status lainnya.[6]

E.     Prinsip- Prinsip Komunikasi antar Budaya

1.      Relativitas Bahasa

Gagasan umum bahwa bahasa mempengaruhi pemikiran dan perilaku paling banyak disuarakan oleh para antropologis linguistik. Pada akhir tahun 1920-an dan disepanjang tahun 1930-an, dirumuskan bahwa karakteristik bahasa mempengaruhi proses kognitif kita. Dan karena bahasa-bahasa di dunia sangat berbeda-beda dalam hal karakteristik semantik dan strukturnya, tampaknya masuk akal untuk mengatakan bahwa orang yang menggunakan bahasa yang berbeda juga akan berbeda dalam cara mereka memandang dan berpikir tentang dunia.

2.      Bahasa sebagai cermin budaya

Bahasa mencerminkan budaya. Makin besar perbedaan budaya, makin perbedaan komunikasi baik dalam bahasa maupun dalam isyarat-isyarat nonverbal. Makin besar perbedaan antara budaya (dan, karenanya, makin besar perbedaan komunikasi), makin sulit komunikasi dilakukan. Kesulitan ini dapat mengakibatkan, misalnya, lebih banyak kesalahankomunikasi, lebih banyak kesalahan kalimat, lebih besar kemungkinan salah paham, makin banyak salah persepsi, dan makin banyak potong kompas (bypassing).

3.      Mengurangi Ketidakpastian

Makin besar perbedaan antarbudaya, makin besarlah ketidak-pastian dam ambiguitas dalam komunikasi. Banyak dari komunikasi kita berusaha mengurangi ketidak-pastian ini sehingga kita dapat lebih baik menguraikan, memprediksi, dan menjelaskan perilaku orang lain. Karena letidak-pasrtian dan ambiguitas yang lebih besar ini, diperlukan lebih banyak waktu dan upaya untuk mengurangi ketidak-pastian dan untuk berkomunikasi secara lebih bermakna.

4.      kesadaran diri dan perbedaan antar budaya

Makin besar perbedaan antarbudaya, makin besar kesadaran diri (mindfulness) para partisipan selama komunikasi. Ini mempunyai konsekuensi positif dan negatif. Positifnya, kesadaran diri ini barangkali membuat kita lebih waspada. ini mencegah kita mengatakan hal-hal yang mungkin terasa tidak peka atau tidak patut. Negatifnya, ini membuat kita terlalu berhati-hati, tidak spontan, dan kurang percaya diri.

5.       Interaksi awal dan perbedaan antar budaya

Perbedaan antarbudaya terutama penting dalam interaksi awal dan secara berangsur berkurang tingkat kepentingannya ketika hubungan menjadi lebih akrab. Walaupun selalu terdapat kemungkinan salah persepsi dansalah menilai orang lain, kemungkinan ini khususnya besar dalam situasi komunikasi antarbudaya.

6.      Memaksimalkan hasil interaksi

Dalam komunikasi antarbudaya terdapat tindakan-tindakan yang berusaha memaksimalkan hasil interaksi. Tiga konsekuensi mengisyaratkan implikasi yang penting bagi komunikasi antarbudaya. Pertama, orang akan berintraksi dengan orang lain yang mereka perkirakan akan memberikan hasil positif. Kedua, bila mendapatkan hasil yang positif, maka pelaku komunikasi terus melibatkan diri dan meningkatkan komunikasi. Bila memperoleh hasil negatif, maka pelaku mulai menarik diri dan mengurangi komunikasi. Ketiga, pelaku membuat prediksi tentang perilaku mana yang akan menghasilkan hasil positif. Pelaku akan mencoba memprediksi hasil dari, misalnya, pilihan topik, posisi yang diambil, perilaku nonverbal yang ditunjukkan, dan sebagainya. Pelaku komunikasi kemudian melakukan apa yang menurutnya akan memberikan hasil positif dan berusaha tidak melakkan apa yang menurutnya akan memberikan hasil negatif.

F.      Karakteristik Budaya dan Komunikasi

Ada tiga karakteristik penting dari kebudayaan, yaitu kebudayaan itu dapat dipelajari, kebudayaan itu dapat dipertukarkan, dan kebudayaan itu tumbuh serta berubah (Hebding dan Glick, 1991, hlm. 45).

1.      Kebudayaan itu Dipelajari

Kita sebut kebudayaan itu dapat dipelajari karena interaksi antarmanusia ditentukan oleh penggunaan simbol, bahasa verbal maupun nonverbal. Tradisi budaya, nilai-nilai, kepercayaan, dan standar perilaku semuanya diciptakan oleh kreasi manusia dan bukan sekadar diwarisi secara instink, melainkan melalui proses pendidikan dengan cara-cara tertentu menurut kebudayaan. Setiap manusia lahir dalam suatu keluarga, kelompok sosial tertentu yang telah memiliki nilai, kepercayaan, dan standar perilaku yang ditransmisikan melalui interaksi di antara meraka (sosialisasi).

2.      Kebudayaan itu Dipertukarkan

Di samping dipelajari, kebudayaan itu juga dipertukarkan. Istilah pertukaran merujuk pada kebiasaan individu atau kelompok untuk menunjukkan kualitas kelompok budayanya. Dalam interaksi atau pergaulan antarmanusia setiap orang mewakili kelompoknya lalu menunjukkan kelebihan-kelebihan budayanya dan membiarkan orang lain untuk mempelajarinya. Proses pertukaran budaya dilakukan melalui mekanisme belajar budaya yang mengakibatkan para ibu yang berasal dari Sunda dan Jawa dapat belajar memasak jagung bose (masakan jagung yang bercampur santan kelapa) dan sebaliknya para ibu dari Timor dan Flores belajar membuat oncom dan bajigur dari Sunda.

3.      Kebudayaan Tumbuh dan Berkembang

Setiap kebudayaan terus ditumbuhkembangkan oleh para pemilik kebudayaannya, oleh karena itu ada yang mengatakan bahwa kebudayaan ituterus mengalami perubahan. Oleh karena itu, kita menyebut kebudayaan itu berbuah semakin rinci (kompleks) dan kemudian dikomunikasikan dari satu generasi ke generasi lain. Tenun ikat dari Ended an Lio di Flores mula-mula di tenun dengan benang yang di celupkan ke dalam nila. Akibat perkembangan teknologi industri maka lama kelamaan nila mulai ditinggalkan dan para penenun memakai benang sutera sehingga dapat menghasilkan tenun ikat berkualitas ekspor[7]

G.    Kesimpulan

Pada prinsipnya Islam dan budaya tidak bertentangan, sebab keduanya sama-sama mengajarkan nilai-nilai kebaikan yang tujuannya membuat keteraturan bagi sekelompok manusia. Karena itu, dalam konteks dakwah maka yang terpenting adalah bagaimana seorang da‟i harus mampu memahami nilai-nilai historis dan filosofis dari budaya yang berkembang di masyarakat, kemudian diinternalisasi dengan nilai-nilai keislaman. Walhasil lahirlah model budaya baru yang bisa disebut “budaya Islami”.

Islam mengajarkan kepada manusia nilai-nilai normatif untuk menerapkan keadilan, kejujuran, persamaan, kebebasan, persaudaraan, kebebasan dan musyawarah, yang kesemuanya itu dalam rangka mewujudkan suatu tata kehidupan masyarakat dan negara yang sebaik-baiknya untuk kemaslahatan hidup yang berkesinambungan, baik kehidupan individual maupun kehidupan sosial. Dan bahwa “pada dasarnya universalisme ajaran (agama) Islam telah memuat prinsip-prinsip dasar mengenai hubungan-hubungan individu dan hubunganhubungan sosial yang kemudian pengejawantahan nilai-nilai kemanusiaan tersebut secara subtansial.

 



[1] Heryadi, Hedi dan Hana Silvana. 2013. Komunikasi Antar Budaya dalam Masyarakat Multikultural. Kajian Komunikasi. Volume 1. Nomor 1

[2] Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat, (Cet. IV; Jakarta:Kencana Prenada Group, 2009), h. 91.

[3] Sa‟id Bin „Ali bin Wahif al-Qahtani, Al-Hikmah fi al-Da’wah ila Allah Ta’ala, terj. Mansyur Hakim, Dakwah Islam Dakwah Bijak, (Cet. I; Jakarta: Gema Insani Press, 1994), h. 23.

[4] Didin Hafidhuddin, Dakwah Aktual, (Jakarta: Gema Insani, 1998), h. 19.

[5] Mohammad Shoelhi,Komunikasi Lintas Budaya, (Bandung: Simbiosa Rektama Media, 2015),  hlm.2.

[6] Liliweri, Alo. 2011. Dasar-dasat komunikasi antar budaya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

[7] Alo liliweri, Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya, (Yogyakarta: LKiS Yogyakarta, 2007), hlm. 57-58.