Senin, 05 April 2021

Tujuan, Fungsi Dan Peranan Dakwah Dalam Komunikasi Antarbudaya

 

Tujuan, Fungsi Dan Peranan Dakwah Dalam Komunikasi

 Antarbudaya



oleh : Widya Meilis Rusandi (B01219053)

Mahasiswi KPI A2 Semester 4 2021


Kegiatan dakwah di masyarakat, dan di media massa selama ini, relatif telah responsif, terhadap kondisi masyarakat yang modern. Setidaknya telah berupaya agar pesan-pesan keagamaan yang disampaikan bisa diterima secara baik. Mereka biasa menggunakan berbagai metode dalam berdakwah. Namun masih menjadi pertanyaan besar: apakah substansi dakwah telah menyesuaikan dengan kemajemukan dan  keperbedaan kultur di masyarakat; Apakah kebijakan dakwah multikultur telah terformulasi dengan baik. Demikian juga para da’i sebagai nara sumber atau aktor, supaya mempunyai kemampuan meramu kemajemukan tersebut dengan memperhatikan; isi atau pesan-pesan yang disampaikan, metode penyampaian, narasumber atau da’i yang berperan serta media yang digunakan.

 Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, kini telah diwarnai oleh mobilitas sosial yang sangat tinggi. Terjadi akulturasi (percampuran budaya) dan transkulturasi (tarik menarik antar budaya), sejalan dengan kemajuan tekonologi dan perkembangan ilmu pengetahuan. Perkembangan yang spektakuler adalah pada teknologi komunikasi, yang kemudian sangat mempengaruhi pola dakwah masa kini. Secara tematik, ada beberapa jenis kegiatan dakwah di masyarakat. Sebagian adalah pendalaman pengetahuan agama yang dilakukan secara rutin dan terjadwal. Sebagian lagi adalah mengusung tema tertentu yang melekat dengan pelaksanaan peringatan hari besar Islam, menyongsong event nasional dan lainya.

A.     Pengertian Dakwah

Dakwah merupakan sebuah proses transformasi nilai-nilai ajaran Islam kedalam masyarakat, oleh karena itu dakwah tidak akan pernah berhenti untuk berinteraksi dengan budaya dari masyarakat itu sendiri. Terdapat konsep dakwah yang mengedepankan cara-cara simpatik, bijaksana dan lebih humanis Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, kini telah diwarnai oleh mobilitas sosial yang sangat tinggi. Terjadi akulturasi (percampuran budaya) dan transkulturasi (tarik menarik antar budaya), sejalan dengan kemajuan tekonologi dan perkembangan ilmu pengetahuan. Perkembangan yang spektakuler adalah pada teknologi komunikasi, yang kemudian sangat mempengaruhi pola dakwah masa kini. Secara tematik, ada beberapa jenis kegiatan dakwah di masyarakat. Sebagian adalah pendalaman pengetahuan agama yang dilakukan secara rutin dan terjadwal. Sebagian lagi adalah mengusung tema tertentu yang melekat dengan pelaksanaan peringatan hari besar Islam, menyongsong event nasional dan lainya. Seperti pendekatan sosial dan budaya yang diterima oleh masyarakat luas. Memperhatikan ruang dan waktu, topik-topiknya aktual, menyentuh kebutuhan dasar mad’u dan isu-isu terkini dalam masyarakat.

B.     Peranan Dakwah dalam Komunikais Antar Budaya

Komunikasi antarbudaya artinya suatu proses interaksi antar seorang individu lainnya, dimana kedua belah pihak memiliki latar belakang budaya yang berbeda. Dan pada saat yang sama keduanya saling mempengaruhi sehingga membentuk sikap dan perilaku manusia tersebut. Seperti gerakan dakwah yang dilakukan seorang Da’I kepada mad’unya, diman keduanya memiliki latar belakang budaya berbeda. Dari perbedaan inilah sang Da’I berusaha menjadikan keragaman budaya sebagai salah satu media (sarana) dakwah, agar mad’unya dapat mengintergrasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan budaya mereka.

Islam harus didakwahkan dengan pendekatan adaptif sesuai kondisi sosiokultural umat sehingga penentuan metode, pendekatan, pesan dan media dakwah harus dinamis. Ajaran Islam harus disebarkan secara kreatif, tidak dihadirkan dengan cara-cara yang tradisional, monoton dan bahkan terkesan membosankan. Bahwa Islam harus didakwahkan dengan cara inovatif, artinya para da’i harus membuat terobosan baru agar pesan dakwah yang disampaikan dapat diperankan secara maksimal. Salah satunya dengan menerapkan komunikasi antarbudaya dalam pergerakan dakwah di tengah-tengah masyarakat.

Salah satu faktor gagalnya proses dakwah disebabkan karena pendekatan yang digunakan para da’i dalam berdakwah kurang tepat. Akibatnya umat bukannya semakin dekat dengan Islam, malah semakin menjauh. Perspektif dakwah dan komunikasi memiliki objek dan subjek yang sama, yakni manusia. Pemahaman yang komprehensif terhadap keragaman budaya dan adat istiadat masyarakat sebagai objek dakwah ini akan memudahkan para da’i menentukan metode dan pendekatan dakwah yang tepat sesuai kondisi sosiokultural masyarakat agar tidak terjadi gesekan dengan budaya sosiokultural. Manakala seorang da’i (komunikator) menyampaikan pesannya kepada mad’u (komunikan), diperlukan pendekatan yang tepat agar pesan dakwah, misi dakwah dapat diterima oleh mad’u (komunikan) dengan baik. Dengan demikian, posisi da’i sangat penting dan signifikan dalam pergerakan dakwah Islam.

C.     Tujuan dan Fungsi Komunikasi Lintas Budaya Menurut Para Ahli

Menurut Litvin tujuan dan fungsi dari komunikasi lintas budaya bersifat kognitif atau dan efektif yaitu mempelajari keterampilan komunikasi yang membuat seseorang mampu menerima gaya dan isi dari komunikasi itu sendiri dalam segi fungsi dakwah adalah ilmu yang mengkaji tentang mengajak umat manusia kepada jalan Allah yang dibangun dan dikembangkan dengan metode ilmiah sehingga dapat berfungsi dalam rangka memahami memprediksi menjelaskan dan mengontrol berbagai fenomena dan persoalan yang terkait dengan dakwah.

D.     Tujuan  Komunikasi Lintas Budaya

Tujuan dakwah komunikasi lintas budaya dengan menggunakan metode dakwah yang tidak menghapus budaya atau tradisi lama menjadikan diterimanya ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat menjadikan Islam lebih fleksibel dan mudah diterima oleh semua lapisan masyarakat meskipun memiliki perbedaan antara satu sama lain komunikasi lintas budaya

E.     Fungsi Komunikasi Lintas Budaya

Fungsi dakwah komunikasi lintas budaya

1.      Mengajarkan dan mengenalkan nilai-nilai ajaran Islam kepada budaya masyarakat

2.       Menjelaskan secara sistematis fenomena yang berkembang berkaitan dengan proses dakwah

3.      Menjadi perantara dalam proses komunikasi antarbudaya

4.      Mengawasi praktik komunikasi antarbudaya yang antara komunikator dan komunikan yang berbeda kebudayaan

 Di dalam komunikasi antarbudaya pun juga terdapat fungsi sosial, di antaranya

1.      Pengawasan: Pada umumnya, kegiatan komunikasi antarbudaya terjadi ketika komunikator dan komunikan yang berbeda kebudayaan. Fungsi ini lebih banyak digunakan oleh media masa

2.      Penghubung: Komunikasi antarbudaya ini dapat juga dijadikan sebagai jembatan bagi setiap individu yang memiliki kebudayaan yang berbeda. Biasanya, Beda individu atau lebih akan menyampaikan presepsi mereka yang berbeda-bedaa

3.      Sosialisasi Nilai: Di sini, fungsi komunikasi antar budaya dapat memberikan ajaran dan perkenalan nilai-nilai dari suatu kebudayaan suatu masyarakat lain

4.      Menghibur: Dalam hiburan pun juga ada kegiatan komunikasi antar budaya. Hal ini dapat ditemukan seperti di saat menonton tarian, nyanyian, bahkan drama sekaligus

F.      Kesimpulan

Komunikasi dan dakwah tidak bisa dipisahkan. Karena dakwah adalah aktifitas berkomunikasi. Namun lebih khusus komunikasi tentang agama Islam, penyebaran Islam, dan juga anjuran baik dan buruk. Disini dakwah dan komunikasi lintas budaya diperlukan. Mengingat majemuknya budaya di Indonesia menuntut seorang da’i untuk bisa menjadi da’i yang profesional. Penggunaan metode dakwah yang benar adalah keharusan. Eksistensi dakwah akan senantiasa bersentuhan dengan realitas sosio-kultural yang mengitarinya, sesuai konsekuensi posisi dakwah, dakwah sebagai satu variabel dan problematika kehidupan sosial sebagai variabel yang lain, maka keberadaan dakwah dalam suatu komunitas dapat dilihat dari fungsi dan perannya dalam mempengaruhi perubahan sosial tersebut, sehingga lahir masyarakat baru yang diidealkan (khoiru ummah). Secara substansial dakwah merupakan pendidikan masyarakat, yang dalam pelaksanaannya tidak jauh berbeda dengan cita-cita pendidikan nasional. Tujuan seperti diamanahkan pendidikan nasional tersebut menempatkan dimenasi moral keagamaan sebagai bagian penting dalam proses berdakwah. Dakwah

Daftar Pustaka

Pimay, Wafiah Awaludin. 2005. Sejarah Dakwah. Semarang: Rosail. Qardhawi, Yusuf. 1996. Fatwa-Fatwa, Kontemporer Jilid 2, Jakarta: Gema Insani Press

Aripudin, Acep. 2011. Pengembagan Metode Dakwah: Respons Da’i Terhadap Dinamika Kehidupan di Kaki Ceremai. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, Jakarta
Qardhawi, Yusuf. 1996. Fatwa-Fatwa, Kontemporer Jilid 2, Jakarta: Gema Insani Press

 Soekanto, Soerjono. 2009. Sosiologi Suatu Pengantar , Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Mulyana, Dedy. Jalaludin Rachmat. 2001. Komunikasi Antar Budaya, Bandung: Rosdakarya

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar