SOSIOLOGI AGAMA DALAM MASYRAKAT
oleh
Widya Meilis Rusandi (B01219053)
Komunikasi Penyiaran Islam
Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
2020
Abstrak
Sosiologi agama mencoba memahami makna yang diberikan oleh
masyarakat kepada sistem agama tertentu, dengan meletakkan agama dan
keberagaman manusia sebagai gejala sosial. Sosiologi agama mencakup usaha
pengembangan dan pencarian konsep yang lebih tepat sesuai dengan maksud untuk
lebih memahami fenomena agama, agar manusia dapat memahami agama sebagai
kepentingan dan kegiatan manusia. Agama terkait dengan kebutuhan, perasaan,
aspirasi, dan menyangkut beberapa aspek mendasar keadaan manusia, maka
pemahaman mengenai sosiologi agama hanya berhubungan dengan efeknya dalam pengalaman
sejarah manusia dan dalam perkembangan masyarakat. Pada dasarnya agama akan
melahirkan masyarakat dan tumbuh berkembang menciptakan sebuah budaya sehingga
pada dinamika perkembangannya melahirkan sebuah masyarakat dan pada akhirnya
dapat kembali memunculkan agama dan hal ini terus berputar serta sebagai kausal
yang saling berhubungan antara variabel yang satu dan lainnya, ini dikarenakan
dari perputaran ketiga variabel besar yang saling berhubungan dan termasuk
sebagai faktor luar yaitu agama, budaya dan sosial. Sedangkan faktor di dalam
adalah gen, jadi dapat dikatakan bahwa budaya sangat dipengaruhi oleh agama.
Kata Kunci: Sosiologi, Agama, Masyarakat
PEMBAHASAN
Agama merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan masyarakat
yang perlu dipelajari oleh antropolog ataupun para ilmuwan sosial lainnya. Di
dalam kehidupan masyarakat, agama muncul karena sifat ketauhidan masyarakat
tersebut. Oleh karena itu agama perlu dipelajari dan dihayati oleh manusia
karena kebutuhan manusia terhadap sang maha pencipta Di dalam agama dijumpai
ungkapan materi dan budaya dalam tabi’at manusia serta dalam sistem nilai,
moral, etika, kajian agama, khususnya agama islam merupakan kebutuhan hidup
bagi masyarakat indonesia, khususnya mayoritas. Oleh karena itu, kajian agama
seperti Islam, Budha, Hindu, tidak hanya sebatas konsep saja, teori dan
aspek-aspek kehidupan manusia beserta hukumnya, tapi harus dihayati dan
direnungi untuk diamalkan dalam kehidupan manusia. Ide-ide keagamaan dan
konsep-konsep keagamaan itu tidak dipaksa oleh hal-hal yang bersifat fisik tapi
bersifat rohani. Karenanya agama merupakan suatu institusi ajaran yang
menyajikan lapangan ekspresi dan implikasi yang begitu halus dan berbeda dengan
suatu konsep hukum ataupun undangundang yang dibuat oleh masyarakat. Dalam
realitasnya nilai mempunyai pengaruh dalam mengatur pola tingkah laku, pola
berpikir dan pola bersikap. Nilai adalah daya pendorong dalam hidup, yang
memberi makna pada tindakan seseorang. Karena itu nila menjadi penting dalam
kehidupan seseorang, sehingga tidak jarang pada tingkat tertentu orang siap
untuk mengorbankan hidup mereka demi mempertahankan nilai. Agama mengajarkan
pendidikan bagi manusia. Siapa yang dapat mengambil pelajaran dan mengamalkan
pada orang lain serta menerapkan dalam kehidupan sehari-hari, selalu
menjalankan perintah dan menjauhi larangan, maka ia akan memperoleh keselamatan
didunia dan diakhirat.
Sosiologi Agama bermaksud membantu para pemimpin agama dalam
mengatasi masalah-masalah sosioreligius yang tidak kalah beratnya dengan masalah-masalah
sosial non keagamaan. Dalam bidang teoritis di mana para ahli keagamaan
memerlukan konsep-konsep dan resep-resep ilmiah praktis yang sulit diperoleh
dari teologi, maka Sosiologi Agama dapat memberikan sumbangannya. Terutama
Sosiologi Agama Kristen, dapat memberikan sumbangan yang berharga khususnya
kepada teologi tentang Gereja (ekklesiologi), kepada misiologi dan tidak kurang
kepada teologi pastoralpun pula kepada teologi pembebasan dan teologi
pembangunan.[1]
Kedudukan Sosiologi Agama sangat dekat dengan Sejarah dan filsafat dan
merupakan suatu refleksi dan analisis sistematis terhadap masyarakat,
kebudayaan dan agama sebagai proyek manusia. Tujuannya hendak mengungkapkan
pola-pola sosial dasar dan peranannya dalam menciptakan masyarakat. Di dalamnya
ditunjukkan kekuatan-kekuatan sosial) yang mendorong berdirinya, unsur-unsur
budaya yang menopang kelangsungan hidupnya, dibandingkan dengan
tuntutan-tuntutan modern dalam situasi yang sudah berubah, lantas
mempersilahkan instansi yang berkepentingan untuk mengadakan perubahan yang
sesuai atau tidak mengadakannya[2].
Sosiologi dan agama berinteraksi hanya dalam tingkat aktualisasi nilai- nilai transenden ke dalam nilai-nilai imanen, sehingga apa yang kemudian mengemuka sebagai tradisi suatu agama merupakan prototife agama yang telah memasyarakat atau bersosiologis.[3] Namun yang pasti, titik temu yang sangat patut ditegaskan ialah bahwa manusia akan selalu melakukan pembedaan naturalistik, (dalam era modern) untuk membangun komunikasi dengan Tuhan dalam kaitannya dengan keberadaannya sebagai manusia yang zoon polition, homo religious, homo social.
Beberapa penjelasan mengenai sosiologi agama menurut pandangan sebagian para ahli sebagai berikut:
- Dillon : Pengertian sosiologi
agama dalam pandangannya, bahwa sosiologi agama adalah upaya sosiolog dalam mendeskripsikan,
memahami, serta menjelaskan bagaimana cara agama berlaku dalam masyarakat.
- Davie : Memberikan pengertian
bahwa sosiologi agama merupakan disiplin ilmu yang fokus terhadap agama, yang
hanya sejauh hubungan agama dengan konteks sosial di mana agama itu hidup dan
berkembang.
- Drs.
D. Hendropuspito, O.C : Definisi
sosiologi agama bahwa sosiologi agama adalah cabang sosiologi umum yang
mempelajari masyarakat agama secara sosiologis untuk mencapai keterangan ilmiah
antara kepentingan masyarakat agama dan masyarakat luas pada umumnya.
Pendekatan dalam sosiologi agama disandarkan pada skala besar survey terhadap keyakinan keagamaan, nilai-nilai etis dan praktek-praktek keagamaan. Dialektika keberagamaan dan kesosialan meniscayakan lahirnya “wajah agama” yang memiliki dua arah orientasi, yakni Tuhan dan manusia jamak. Dalam tataran inilah, disiplin Sosiologi agama dengan demikian merupakan diskursus yang dapat menampilkan ilustrasi-ilustrasi besar kelahiran agama, mulai dari yang primitif sampai modern, yang bercorak supernatural sampai suprarasional, sentralistik sampai individualistik, normatif sampai dialektis dan seterusnya.
Kesimpulan
Mempelejarai peran agama didalam masyarakat : praktik, latar
sejarah, perkembangan dan tema universal agama didalam masyarakat. Sosiologi agama
berbeda dengan filsafat agama karena tidak menilai kebenran kepercayaan agama,.
Meski proses membandingkan dogma yang saling bertentangan. Sementara sosiologi
agama berbeda dengan teologi dalam mengasumsikan spernatural, sering diakui
sebagai refikasi sosial budaya dalam praktik keagamaan. Peran Agama mempunyai kaitan yang sangat erat
dalam kehidupan bermasyarakat, agama mempunyai fungsi sebagai peranan agama
dalam mengatasi persoalan-persoalan yang timbul di masyarakat yang tidak dapat
dipecahkan secara empiris karena keternatasan dan ketidakpastian. Pentingnya
keterlibatan pemimpin agama dalam kegiatan pembangunan ini adalah dalam aspek
pembangunan unsure ruhaniah. Dalam pelaksanaanya. Bahkan pemimpin agama dalam
berperan lebih luas, bukan hanya terbatas pada pembangunan ruhani masyarakat
tetapi juga dapat berperan sebagai motivator, pembimbing. Dan pemberi landasan
etis dan moral serta menjadi mediator dalam seluruh kegiatan aspek pembangunan. Sosiologi agama memusatkan perhatiannya terutama untuk memahami
makna yang diberikan oleh suatu masyarakat kepada sistem agamanya sendiri, dan
berbagai hubungan antar agama dengan struktur sosial lainnya, juga dengan
berbagai aspek budaya yang bukan agama. Para ahli memandang bahwa agama adalah suatu
pengertian yang luas dan universal, dari sudut pandang sosial dan bukan dari
sudut pandang individu.
Daftar Pustaka
Hendro Puspito. O.C.
Sosiologi Agama. (Yogyakarta: Kanisius, 1983).
L. Pals, Daniel.
Dekonstriksi Kebenaran Kritik Tujuh Teori Agama. (Yogyakarta: IRCiSoD,
2001).
Muhammad Yamin. Sosiologi
Agama. (Yogyakarta: IRCiSoD, 2002).
[1] Daniel L. Pals. Dekonstriksi Kebenaran Kritik Tujuh Teori Agama. (Yogyakarta: IRCiSoD, 2001), 136-137
[2]
Hendro Puspito. O.C. Sosiologi Agama. (Yogyakarta: Kanisius, 1983), hal
24.
[3]
Muhammad Yamin. Sosiologi Agama. (Yogyakarta: IRCiSoD, 2002), hal. vi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar