Jumat, 12 Juni 2020

Sosiologi Agama dalam Masyarakat

SOSIOLOGI AGAMA DALAM MASYRAKAT


oleh

Widya Meilis Rusandi (B01219053) 

Komunikasi Penyiaran Islam

Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

2020

Abstrak

Sosiologi agama mencoba memahami makna yang diberikan oleh masyarakat kepada sistem agama tertentu, dengan meletakkan agama dan keberagaman manusia sebagai gejala sosial. Sosiologi agama mencakup usaha pengembangan dan pencarian konsep yang lebih tepat sesuai dengan maksud untuk lebih memahami fenomena agama, agar manusia dapat memahami agama sebagai kepentingan dan kegiatan manusia. Agama terkait dengan kebutuhan, perasaan, aspirasi, dan menyangkut beberapa aspek mendasar keadaan manusia, maka pemahaman mengenai sosiologi agama hanya berhubungan dengan efeknya dalam pengalaman sejarah manusia dan dalam perkembangan masyarakat. Pada dasarnya agama akan melahirkan masyarakat dan tumbuh berkembang menciptakan sebuah budaya sehingga pada dinamika perkembangannya melahirkan sebuah masyarakat dan pada akhirnya dapat kembali memunculkan agama dan hal ini terus berputar serta sebagai kausal yang saling berhubungan antara variabel yang satu dan lainnya, ini dikarenakan dari perputaran ketiga variabel besar yang saling berhubungan dan termasuk sebagai faktor luar yaitu agama, budaya dan sosial. Sedangkan faktor di dalam adalah gen, jadi dapat dikatakan bahwa budaya sangat dipengaruhi oleh agama.

 Kata Kunci: Sosiologi, Agama, Masyarakat

PEMBAHASAN

Agama merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan masyarakat yang perlu dipelajari oleh antropolog ataupun para ilmuwan sosial lainnya. Di dalam kehidupan masyarakat, agama muncul karena sifat ketauhidan masyarakat tersebut. Oleh karena itu agama perlu dipelajari dan dihayati oleh manusia karena kebutuhan manusia terhadap sang maha pencipta Di dalam agama dijumpai ungkapan materi dan budaya dalam tabi’at manusia serta dalam sistem nilai, moral, etika, kajian agama, khususnya agama islam merupakan kebutuhan hidup bagi masyarakat indonesia, khususnya mayoritas. Oleh karena itu, kajian agama seperti Islam, Budha, Hindu, tidak hanya sebatas konsep saja, teori dan aspek-aspek kehidupan manusia beserta hukumnya, tapi harus dihayati dan direnungi untuk diamalkan dalam kehidupan manusia. Ide-ide keagamaan dan konsep-konsep keagamaan itu tidak dipaksa oleh hal-hal yang bersifat fisik tapi bersifat rohani. Karenanya agama merupakan suatu institusi ajaran yang menyajikan lapangan ekspresi dan implikasi yang begitu halus dan berbeda dengan suatu konsep hukum ataupun undangundang yang dibuat oleh masyarakat. Dalam realitasnya nilai mempunyai pengaruh dalam mengatur pola tingkah laku, pola berpikir dan pola bersikap. Nilai adalah daya pendorong dalam hidup, yang memberi makna pada tindakan seseorang. Karena itu nila menjadi penting dalam kehidupan seseorang, sehingga tidak jarang pada tingkat tertentu orang siap untuk mengorbankan hidup mereka demi mempertahankan nilai. Agama mengajarkan pendidikan bagi manusia. Siapa yang dapat mengambil pelajaran dan mengamalkan pada orang lain serta menerapkan dalam kehidupan sehari-hari, selalu menjalankan perintah dan menjauhi larangan, maka ia akan memperoleh keselamatan didunia dan diakhirat.

Sosiologi Agama bermaksud membantu para pemimpin agama dalam mengatasi masalah-masalah sosioreligius yang tidak kalah beratnya dengan masalah-masalah sosial non keagamaan. Dalam bidang teoritis di mana para ahli keagamaan memerlukan konsep-konsep dan resep-resep ilmiah praktis yang sulit diperoleh dari teologi, maka Sosiologi Agama dapat memberikan sumbangannya. Terutama Sosiologi Agama Kristen, dapat memberikan sumbangan yang berharga khususnya kepada teologi tentang Gereja (ekklesiologi), kepada misiologi dan tidak kurang kepada teologi pastoralpun pula kepada teologi pembebasan dan teologi pembangunan.[1] Kedudukan Sosiologi Agama sangat dekat dengan Sejarah dan filsafat dan merupakan suatu refleksi dan analisis sistematis terhadap masyarakat, kebudayaan dan agama sebagai proyek manusia. Tujuannya hendak mengungkapkan pola-pola sosial dasar dan peranannya dalam menciptakan masyarakat. Di dalamnya ditunjukkan kekuatan-kekuatan sosial) yang mendorong berdirinya, unsur-unsur budaya yang menopang kelangsungan hidupnya, dibandingkan dengan tuntutan-tuntutan modern dalam situasi yang sudah berubah, lantas mempersilahkan instansi yang berkepentingan untuk mengadakan perubahan yang sesuai atau tidak mengadakannya[2].

Sosiologi dan agama berinteraksi hanya dalam tingkat aktualisasi nilai- nilai transenden ke dalam nilai-nilai imanen, sehingga apa yang kemudian mengemuka sebagai tradisi suatu agama merupakan prototife agama yang telah memasyarakat atau bersosiologis.[3] Namun yang pasti, titik temu yang sangat patut ditegaskan ialah bahwa manusia akan selalu melakukan pembedaan naturalistik, (dalam era modern) untuk membangun komunikasi dengan Tuhan dalam kaitannya dengan keberadaannya sebagai manusia yang zoon polition, homo religious, homo social.

Beberapa penjelasan mengenai sosiologi agama menurut pandangan sebagian para ahli sebagai berikut:

  1. Dillon : Pengertian sosiologi agama dalam pandangannya, bahwa sosiologi agama adalah upaya sosiolog dalam mendeskripsikan, memahami, serta menjelaskan bagaimana cara agama berlaku dalam masyarakat.
  2.  Davie : Memberikan pengertian bahwa sosiologi agama merupakan disiplin ilmu yang fokus terhadap agama, yang hanya sejauh hubungan agama dengan konteks sosial di mana agama itu hidup dan berkembang.
  3. Drs. D. Hendropuspito, O.C : Definisi sosiologi agama bahwa sosiologi agama adalah cabang sosiologi umum yang mempelajari masyarakat agama secara sosiologis untuk mencapai keterangan ilmiah antara kepentingan masyarakat agama dan masyarakat luas pada umumnya.

Pendekatan dalam sosiologi agama disandarkan pada skala besar survey terhadap keyakinan keagamaan, nilai-nilai etis dan praktek-praktek keagamaan. Dialektika keberagamaan dan kesosialan meniscayakan lahirnya “wajah agama” yang memiliki dua arah orientasi, yakni Tuhan dan manusia jamak. Dalam tataran inilah, disiplin Sosiologi agama dengan demikian merupakan diskursus yang dapat menampilkan ilustrasi-ilustrasi besar kelahiran agama, mulai dari yang primitif sampai modern, yang bercorak supernatural sampai suprarasional, sentralistik sampai individualistik, normatif sampai dialektis dan seterusnya.

Kesimpulan

Mempelejarai peran agama didalam masyarakat : praktik, latar sejarah, perkembangan dan tema universal agama didalam masyarakat. Sosiologi agama berbeda dengan filsafat agama karena tidak menilai kebenran kepercayaan agama,. Meski proses membandingkan dogma yang saling bertentangan. Sementara sosiologi agama berbeda dengan teologi dalam mengasumsikan spernatural, sering diakui sebagai refikasi sosial budaya dalam praktik keagamaan. Peran Agama mempunyai kaitan yang sangat erat dalam kehidupan bermasyarakat, agama mempunyai fungsi sebagai peranan agama dalam mengatasi persoalan-persoalan yang timbul di masyarakat yang tidak dapat dipecahkan secara empiris karena keternatasan dan ketidakpastian. Pentingnya keterlibatan pemimpin agama dalam kegiatan pembangunan ini adalah dalam aspek pembangunan unsure ruhaniah. Dalam pelaksanaanya. Bahkan pemimpin agama dalam berperan lebih luas, bukan hanya terbatas pada pembangunan ruhani masyarakat tetapi juga dapat berperan sebagai motivator, pembimbing. Dan pemberi landasan etis dan moral serta menjadi mediator dalam seluruh kegiatan aspek pembangunan. Sosiologi agama memusatkan perhatiannya terutama untuk memahami makna yang diberikan oleh suatu masyarakat kepada sistem agamanya sendiri, dan berbagai hubungan antar agama dengan struktur sosial lainnya, juga dengan berbagai aspek budaya yang bukan agama. Para ahli memandang bahwa agama adalah suatu pengertian yang luas dan universal, dari sudut pandang sosial dan bukan dari sudut pandang individu. 

Daftar Pustaka

Hendro Puspito. O.C. Sosiologi Agama. (Yogyakarta: Kanisius, 1983).

L. Pals, Daniel. Dekonstriksi Kebenaran Kritik Tujuh Teori Agama. (Yogyakarta: IRCiSoD, 2001).

Muhammad Yamin. Sosiologi Agama. (Yogyakarta: IRCiSoD, 2002).



[1] Daniel L. Pals. Dekonstriksi Kebenaran Kritik Tujuh Teori Agama. (Yogyakarta: IRCiSoD, 2001), 136-137

[2] Hendro Puspito. O.C. Sosiologi Agama. (Yogyakarta: Kanisius, 1983), hal 24.

[3] Muhammad Yamin. Sosiologi Agama. (Yogyakarta: IRCiSoD, 2002), hal. vi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar