BUDAYA DAN KEARIFAN DAKWAH
Komunikasi antar budaya adalah komunikasi antar pribadi yang
dilakukan oleh mereka yang berbeda latar belakang kebudayaannya. Budaya-budaya
yang berbeda memiliki sistem nilai yang berbeda dan karenanya ikut menentukan
tujuan hidup yang berbeda. Cara berkomunikasi sangat bergantung pada budaya:
bahasa, aturan, dan norma masing-masing . Komunikasi dan kebudayaan merupakan
dua konsep yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya memperhatikan pada variasi
langkah dan cara manusia berkomunikasi melintasi komunitas manusia atau
kelompok sosial. Alo liliweri dalam buku “Makna Budaya dalam Komunikasi Antar
Budaya” menjelaskan tentang komunikasi antar budaya yaitu merupakan interaksi
dan komunikasi antar pribadi yang dilakukan oleh beberapa orang yang memilki
latarbelakang kebudayaan yang berbeda. Komunikasi merupakan hal yang
berhubungan dengan perilaku manusia dan kepuasan terpenuhinya kebutuhan
berinteraksi dengan manusia lainnya. Setiap orang
membutuhkan hubungan social dengan orang lainnya dan kebutuhan ini dapat
terpenuhi dengan pertukaran pesan yang berfungsi sebagai jembatan untuk mempersatukan
manusia yang tanpa komunikasi akan terisolasi
A.
Strategi Dakwah dalam Budaya
Budaya merupakan suatu konsep yang membangkitkan minat, sistem
budaya merupakan kesatuan gagasan atau ide yang bersifat kognitif sebagai
pendorong dan pemberi control terhadap perilaku masyarakat dalam melaksanakan
tindakan kebudayaan. Sehingga dapat diketahui bahwa antara manusia dengan
budaya merupakan dua komponen yang bersatu, tidak bisa dipisahkan. Karena jika
manusia hidup, maka budaya itu akan muncul dengan sendirinya. Hubungan antara
budaya dengan dakwah terletak pada inti pembahasannya. Budaya dan dakwah sama –
sama membahas tentang manusia dengan segala budaya yang dimilikinya. Sehingga,
dakwah Islam mempunyai kaitan simbiosis dengan budaya, di mana nilai-nilai
Islam dapat dipadukan. Namun membutuhkan konsep dakwah yang strategis, melalui
pengelolaan secara professional yang mampu mengakomodasi segala permasalahan
sosial.
Sebagai media, budaya mempunyai fungsi yang mengarah pada
pencapaian kesadaran kualitas keberagaman Islam yang mampu membentuk sikap dan
perilaku Islami yang tidak menimbulkan gejolak sosial, tetapi justru menambah
perkembangan sosial. Sedangkan sebagai sasaran dakwah, budaya berperan dalam
pengisian makna dan nilai-nilai Islami yang integratif ke dalam segala jenis
budaya yang dikembangkan Dakwah merupakan sebuah proses transformasi
nilai-nilai ajaran Islam kedalam masyarakat, oleh karena itu dakwah tidak akan
pernah berhenti untuk berinteraksi dengan budaya dari masyarakat itu sendiri.
Terdapat konsep dakwah yang mengedepankan cara-cara simpatik, bijaksana dan
lebih humanis.
Hakikatnya memandang dakwah antar budaya sebagai sebuah proses
berpikir dan bertindak secara dialektis dengan segala unsur-unsur dakwah dan
budaya yang melingkupinya, demi tujuan dakwah, yakni menciptakan sebuah
masyarakat Islam. Strategi dakwah antar budaya merupakan upaya aktif untuk
menyatukan ide pikiran dan gerakan-gerakan dakwah dengan mempertimbangkan
keragaman sosial budaya yang melekat pada masyarakat. Strategi ini membutuhkan
perencanaan matang dan bijak tentang dakwah Islam secara rasional untuk
mencapai tujuan Islam dengan mempertimbangkan budaya masyarakat, baik segi
materi dakwah, metodologi maupun lingkungan tempat dakwah berlangsung
B.
Kearifan Dakwah
Dakwah merupakan sebuah proses transformasi nilai-nilai ajaran
Islam kedalam masyarakat, oleh karena itu dakwah tidak akan pernah berhenti
untuk berinteraksi dengan budaya dari masyarakat itu sendiri. Terdapat konsep
dakwah yang mengedepankan cara-cara simpatik, bijaksana dan lebih humanis
(Pimay, 2005. 45). Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, kini telah
diwarnai oleh mobilitas sosial yang sangat tinggi. Terjadi akulturasi
(percampuran budaya) dan transkulturasi (tarik menarik antar budaya), sejalan
dengan kemajuan tekonologi dan perkembangan ilmu pengetahuan. Perkembangan yang
spektakuler adalah pada teknologi komunikasi, yang kemudian sangat mempengaruhi
pola dakwah masa kini. Secara tematik, ada beberapa jenis kegiatan dakwah di
masyarakat. Sebagian adalah pendalaman pengetahuan agama yang dilakukan secara
rutin dan terjadwal. Sebagian lagi adalah mengusung tema tertentu yang melekat
dengan pelaksanaan peringatan hari besar Islam, menyongsong event nasional dan
lainya. Seperti pendekatan sosial dan budaya yang diterima oleh masyarakat
luas. Memperhatikan ruang dan waktu, topik-topiknya aktual, menyentuh kebutuhan
dasar mad’u dan isu-isu terkini dalam masyarakat.
Teori-teori dakwah antar budaya berusaha mengetahui karakter budaya
suatu masyarakat merupakan kunci utama dalam memahami dan mengembangkan dakwah
antar budaya. Rumusan konseptual hasil pengamatan terhadap proses pelaksanaan
dakwah baik diterima atau ditolak oleh mad’u. Menurut Acep Aripudin diperlukan
beberapa teori untuk membantu mengamati fenomena dakwah dari sisi analisis ilmu
sosial, yaitu:
1.
Resistance
theory (teori resistensi) atau teori
penolakan.
Dasar
asumsi teori ini adalah bahwa setiap aktivitas dakwah akan selalu menghadapkan
variabel da’i dan mad’u. Ketika interaksi terjadi pertentangan bahkan sikap dan
respons penolakan tidak terelakan khususnya penolakan dari mad’u. Penolakan
tersebut adalah konsekuensi logis akibat proses difusi budaya dari budaya yang
berbeda. Da’i menyampaikan pesan-pesan dakwah yang termasuk baru bagi komunitas
masyarakat tertentu. Maka budaya baru itu jelas mengancam eksistensi budaya
lama yang telah dipeluk masyarakat sejak lama yang sudah berakar di
kehidupannya. Umumnya mad’u menganggap budaya baru itu aneh bahkan menyalahkan.
Budaya baru itu terkadang berbentuk gagasan, teori, dan tindakan yang
teraktualisasi dalam proses interaksi masyarakat. Apabila gagasan-gagasan baru
itu tidak memiliki landasan kuat dan tidak tersosialisasikan dalam pengalaman
hidup, maka budaya baru itu mendapat dukungan dari komponen masyarakat dan
terisolasi secara terus-menerus maka perlahan-lahan budaya baru itu, apa pun
bentuknya akan diterima masyarakat.
2.
Acculturation
theory (teori akulturasi) atau teori
percampuran.
Era
globalisasi tak hanya berpengaruh terhadap pola komunikasi dan sisitem
informasi, lebih dari itu, konsekuensi terjadinya pembauran budaya global, baik
ranah fisik maupun mental. Sarana tekhnologi informasi dan transportasi telah
mempermudah hubungan antar budaya semakin cepat dan kuat. Dalam era informasi,
hubungan antarmanusia tak hanya sebatas satu wilayah antarnegara, tetapi
mencakup manusia sejagat. Kemudahan hubungan (relasi) dan interaksi antarsesama
manusia dan berbagai komponen budaya menjadi bagian dari hubungan dalam dakwah
antar budaya. Dari landasan teori ini, percampuran budaya karena interaksi
manusia akan kehadiran bentuk budaya baru merupakan keniscayaan. Setiap
manusia, komponen bangsa penghuni bumi ini memiliki kebudayaan, bahkan
kebudayaan unggulan masing-masing anggota masyarakat untuk saling tukar secara
terus-menerus dalam proses kehidupannya
3.
Receptie
theory (teori resepsi).
Menerima
sepenuhnya atau menerima sebagian gagasan budaya yang lain adalah landasan
utama teori ini. Penerimaan bisa terjadi karena gagasan dan budaya baru itu
dianggap lebih baik dan menjanjikan terhadap perbaikan nasib hidup masyarakat.
Fakta sejarah pengalaman ideal suatu masyarakat sering menjadi sandaran utama
proses penerimaan terhadap gagasan-gagasan dan budaya baru dalam teori resepsi.
Kondisi sosial masyarakat akan tampak lebih harmoni dan berjalan lebih
terkendali karena terjadi kesepahaman dan atau paksaan.
4.
Complementery
theory (teori komplementer)
Terjadi
proses pertukaran antar budaya di dunia berjalan dengan cepat sehingga
memungkinkan terjadi gesekan dan perpaduan budaya-budaya tersebut. Pada
kenyataannya tak sepenuhnya suatu budaya baru/budaya lain dapat diterima pihak
suatu masyarakat dengan mulus bahkan bisa terjadi penolakan. Akan tetapi lambat
laun sebagian budaya luar dan baru itu diterima, bahkan dijadikan model dalam
hubungan interaksi antar masyarakat. Antara budaya baru suatu masyarakat dan
budaya lainnya bukan saling berbenturan (clash culture), tetapi menjadi budaya
yang saling mengisi (complementary culture), Dengan teori-teori di atas, maka
akan lebih membantu menge nali
C.
Kesimpulan
Apabila dakwah ingin berhasil dengan efektif dan efisien adalah
dengan proses transformasi nilai-nilai budaya, baik dari dalam ke luar atau
sebaliknya, hal ini akan berdampak pada keterputusan atau keberlangsungan nilai-nilai budaya yang baru. Proses
transformasi ini jalan tengah terhadap keberlangsungan kontinuitas budaya.
Dakwah Islam menjadi tawaran dalam proses pembangunan dengan tidak mengabaikan
ataupun menerima khazanah budaya lokal. Sebagaimana dalam prinsip kaidahkaidah
yurisprudensi Islam, yakni “ memelihara nilai-nilai lama yang baik dan
mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik”.
Konsep umatan wahidah (ketunggalan umat) dalam isyarat alQuran
mesti dipahami sebagai ketunggalan dalam iman dan peradaban. Proses
terbentuknya masyarakat beradab sedang terjadi dan akan terus berlangsung,
yaitu melalui terjadinya pertukaran budaya manusia melalui kemajuan sains dan
tekhnologi komunikasi, dalam rangka globalisasi. Kenyataan yang sedang
berlangsung akan berdampak positif dan negatif bagi tatanan kehidupan umat.
Strategi mengenali budaya setempat merupakan enterpoint (titik pembuka)
terhadap tindakan-tindakan dan kebijakan proses transformasi nilai-nilai Islam.
Keserasian atau harmoni dalam masyarakat (social equilibrum) merupakan keadaan
yang diidamkan setiap masyarakat.
Keserasian masyarakat dimaksudkan sebagai suatu keadaan di mana
lembaga-lembaga kemasyarakatan benar-benar berfungsi dan saling mengisi. Dalam
keadaan demikian, individu secara psikologis merasakan akan adanya ketentraman
karena tidak adanya pertentangan dalam norma-norma dan nilai-nilai
Daftar Pustaka
Aripudin, Acep.
2012. Dakwah Antar Budaya, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Enjang, Aliyudin.
2009. Dasar-dasar ilmu dakwah. Bandung : Widya Padjadjaran.
Liliweri, Alo.
2011. Dasar-dasat komunikasi antar budaya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Liliweri, Alo.
2009. Makna Budaya Dalam Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: LKiS
Mulyana, Dedy.
Jalaludin Rachmat. 2001. Komunikasi Antar Budaya, Bandung: Rosdakarya.
Pimay, Wafiah
Awaludin. 2005. Paradigma Dakwah Humanis, Strategi dan Metode Dakwah
Saefudin Zuhri. Semarang: Rasail.
Pimay, Wafiah Awaludin. 2005. Sejarah
Dakwah. Semarang: Rosail.
Jurnal
Rozi, Fachrur,
2007. “Kontroversi Dakwah Inklusif ”. Jurnal Ilmu Dakwah, Vol. 27, No. 1,
Januari-Juni 2007

Tidak ada komentar:
Posting Komentar