Senin, 28 Juni 2021

Budaya dan Kearifan Dakwah

 

BUDAYA DAN KEARIFAN DAKWAH





oleh : Widya Meilis Rusandi (B01219053)

Mahasiswi KPI A2 Semester 4 2021


Komunikasi antar budaya adalah komunikasi antar pribadi yang dilakukan oleh mereka yang berbeda latar belakang kebudayaannya. Budaya-budaya yang berbeda memiliki sistem nilai yang berbeda dan karenanya ikut menentukan tujuan hidup yang berbeda. Cara berkomunikasi sangat bergantung pada budaya: bahasa, aturan, dan norma masing-masing . Komunikasi dan kebudayaan merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya memperhatikan pada variasi langkah dan cara manusia berkomunikasi melintasi komunitas manusia atau kelompok sosial. Alo liliweri dalam buku “Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya” menjelaskan tentang komunikasi antar budaya yaitu merupakan interaksi dan komunikasi antar pribadi yang dilakukan oleh beberapa orang yang memilki latarbelakang kebudayaan yang berbeda. Komunikasi merupakan hal yang berhubungan dengan perilaku manusia dan kepuasan terpenuhinya kebutuhan berinteraksi dengan manusia lainnya. Setiap orang membutuhkan hubungan social dengan orang lainnya dan kebutuhan ini dapat terpenuhi dengan pertukaran pesan yang berfungsi sebagai jembatan untuk mempersatukan manusia yang tanpa komunikasi akan terisolasi

A.    Strategi Dakwah dalam Budaya

Budaya merupakan suatu konsep yang membangkitkan minat, sistem budaya merupakan kesatuan gagasan atau ide yang bersifat kognitif sebagai pendorong dan pemberi control terhadap perilaku masyarakat dalam melaksanakan tindakan kebudayaan. Sehingga dapat diketahui bahwa antara manusia dengan budaya merupakan dua komponen yang bersatu, tidak bisa dipisahkan. Karena jika manusia hidup, maka budaya itu akan muncul dengan sendirinya. Hubungan antara budaya dengan dakwah terletak pada inti pembahasannya. Budaya dan dakwah sama – sama membahas tentang manusia dengan segala budaya yang dimilikinya. Sehingga, dakwah Islam mempunyai kaitan simbiosis dengan budaya, di mana nilai-nilai Islam dapat dipadukan. Namun membutuhkan konsep dakwah yang strategis, melalui pengelolaan secara professional yang mampu mengakomodasi segala permasalahan sosial.

Sebagai media, budaya mempunyai fungsi yang mengarah pada pencapaian kesadaran kualitas keberagaman Islam yang mampu membentuk sikap dan perilaku Islami yang tidak menimbulkan gejolak sosial, tetapi justru menambah perkembangan sosial. Sedangkan sebagai sasaran dakwah, budaya berperan dalam pengisian makna dan nilai-nilai Islami yang integratif ke dalam segala jenis budaya yang dikembangkan Dakwah merupakan sebuah proses transformasi nilai-nilai ajaran Islam kedalam masyarakat, oleh karena itu dakwah tidak akan pernah berhenti untuk berinteraksi dengan budaya dari masyarakat itu sendiri. Terdapat konsep dakwah yang mengedepankan cara-cara simpatik, bijaksana dan lebih humanis.

Hakikatnya memandang dakwah antar budaya sebagai sebuah proses berpikir dan bertindak secara dialektis dengan segala unsur-unsur dakwah dan budaya yang melingkupinya, demi tujuan dakwah, yakni menciptakan sebuah masyarakat Islam. Strategi dakwah antar budaya merupakan upaya aktif untuk menyatukan ide pikiran dan gerakan-gerakan dakwah dengan mempertimbangkan keragaman sosial budaya yang melekat pada masyarakat. Strategi ini membutuhkan perencanaan matang dan bijak tentang dakwah Islam secara rasional untuk mencapai tujuan Islam dengan mempertimbangkan budaya masyarakat, baik segi materi dakwah, metodologi maupun lingkungan tempat dakwah berlangsung

B.     Kearifan Dakwah

Dakwah merupakan sebuah proses transformasi nilai-nilai ajaran Islam kedalam masyarakat, oleh karena itu dakwah tidak akan pernah berhenti untuk berinteraksi dengan budaya dari masyarakat itu sendiri. Terdapat konsep dakwah yang mengedepankan cara-cara simpatik, bijaksana dan lebih humanis (Pimay, 2005. 45). Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, kini telah diwarnai oleh mobilitas sosial yang sangat tinggi. Terjadi akulturasi (percampuran budaya) dan transkulturasi (tarik menarik antar budaya), sejalan dengan kemajuan tekonologi dan perkembangan ilmu pengetahuan. Perkembangan yang spektakuler adalah pada teknologi komunikasi, yang kemudian sangat mempengaruhi pola dakwah masa kini. Secara tematik, ada beberapa jenis kegiatan dakwah di masyarakat. Sebagian adalah pendalaman pengetahuan agama yang dilakukan secara rutin dan terjadwal. Sebagian lagi adalah mengusung tema tertentu yang melekat dengan pelaksanaan peringatan hari besar Islam, menyongsong event nasional dan lainya. Seperti pendekatan sosial dan budaya yang diterima oleh masyarakat luas. Memperhatikan ruang dan waktu, topik-topiknya aktual, menyentuh kebutuhan dasar mad’u dan isu-isu terkini dalam masyarakat.

Teori-teori dakwah antar budaya berusaha mengetahui karakter budaya suatu masyarakat merupakan kunci utama dalam memahami dan mengembangkan dakwah antar budaya. Rumusan konseptual hasil pengamatan terhadap proses pelaksanaan dakwah baik diterima atau ditolak oleh mad’u. Menurut Acep Aripudin diperlukan beberapa teori untuk membantu mengamati fenomena dakwah dari sisi analisis ilmu sosial, yaitu:

1.      Resistance theory (teori resistensi) atau teori penolakan.

Dasar asumsi teori ini adalah bahwa setiap aktivitas dakwah akan selalu menghadapkan variabel da’i dan mad’u. Ketika interaksi terjadi pertentangan bahkan sikap dan respons penolakan tidak terelakan khususnya penolakan dari mad’u. Penolakan tersebut adalah konsekuensi logis akibat proses difusi budaya dari budaya yang berbeda. Da’i menyampaikan pesan-pesan dakwah yang termasuk baru bagi komunitas masyarakat tertentu. Maka budaya baru itu jelas mengancam eksistensi budaya lama yang telah dipeluk masyarakat sejak lama yang sudah berakar di kehidupannya. Umumnya mad’u menganggap budaya baru itu aneh bahkan menyalahkan. Budaya baru itu terkadang berbentuk gagasan, teori, dan tindakan yang teraktualisasi dalam proses interaksi masyarakat. Apabila gagasan-gagasan baru itu tidak memiliki landasan kuat dan tidak tersosialisasikan dalam pengalaman hidup, maka budaya baru itu mendapat dukungan dari komponen masyarakat dan terisolasi secara terus-menerus maka perlahan-lahan budaya baru itu, apa pun bentuknya akan diterima masyarakat.

2.      Acculturation theory (teori akulturasi) atau teori percampuran.

Era globalisasi tak hanya berpengaruh terhadap pola komunikasi dan sisitem informasi, lebih dari itu, konsekuensi terjadinya pembauran budaya global, baik ranah fisik maupun mental. Sarana tekhnologi informasi dan transportasi telah mempermudah hubungan antar budaya semakin cepat dan kuat. Dalam era informasi, hubungan antarmanusia tak hanya sebatas satu wilayah antarnegara, tetapi mencakup manusia sejagat. Kemudahan hubungan (relasi) dan interaksi antarsesama manusia dan berbagai komponen budaya menjadi bagian dari hubungan dalam dakwah antar budaya. Dari landasan teori ini, percampuran budaya karena interaksi manusia akan kehadiran bentuk budaya baru merupakan keniscayaan. Setiap manusia, komponen bangsa penghuni bumi ini memiliki kebudayaan, bahkan kebudayaan unggulan masing-masing anggota masyarakat untuk saling tukar secara terus-menerus dalam proses kehidupannya

3.      Receptie theory (teori resepsi).

Menerima sepenuhnya atau menerima sebagian gagasan budaya yang lain adalah landasan utama teori ini. Penerimaan bisa terjadi karena gagasan dan budaya baru itu dianggap lebih baik dan menjanjikan terhadap perbaikan nasib hidup masyarakat. Fakta sejarah pengalaman ideal suatu masyarakat sering menjadi sandaran utama proses penerimaan terhadap gagasan-gagasan dan budaya baru dalam teori resepsi. Kondisi sosial masyarakat akan tampak lebih harmoni dan berjalan lebih terkendali karena terjadi kesepahaman dan atau paksaan.

4.      Complementery theory (teori komplementer)

Terjadi proses pertukaran antar budaya di dunia berjalan dengan cepat sehingga memungkinkan terjadi gesekan dan perpaduan budaya-budaya tersebut. Pada kenyataannya tak sepenuhnya suatu budaya baru/budaya lain dapat diterima pihak suatu masyarakat dengan mulus bahkan bisa terjadi penolakan. Akan tetapi lambat laun sebagian budaya luar dan baru itu diterima, bahkan dijadikan model dalam hubungan interaksi antar masyarakat. Antara budaya baru suatu masyarakat dan budaya lainnya bukan saling berbenturan (clash culture), tetapi menjadi budaya yang saling mengisi (complementary culture), Dengan teori-teori di atas, maka akan lebih membantu menge nali

 

C.    Kesimpulan

 

Apabila dakwah ingin berhasil dengan efektif dan efisien adalah dengan proses transformasi nilai-nilai budaya, baik dari dalam ke luar atau sebaliknya, hal ini akan berdampak pada keterputusan atau keberlangsungan  nilai-nilai budaya yang baru. Proses transformasi ini jalan tengah terhadap keberlangsungan kontinuitas budaya. Dakwah Islam menjadi tawaran dalam proses pembangunan dengan tidak mengabaikan ataupun menerima khazanah budaya lokal. Sebagaimana dalam prinsip kaidahkaidah yurisprudensi Islam, yakni “ memelihara nilai-nilai lama yang baik dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik”.

Konsep umatan wahidah (ketunggalan umat) dalam isyarat alQuran mesti dipahami sebagai ketunggalan dalam iman dan peradaban. Proses terbentuknya masyarakat beradab sedang terjadi dan akan terus berlangsung, yaitu melalui terjadinya pertukaran budaya manusia melalui kemajuan sains dan tekhnologi komunikasi, dalam rangka globalisasi. Kenyataan yang sedang berlangsung akan berdampak positif dan negatif bagi tatanan kehidupan umat. Strategi mengenali budaya setempat merupakan enterpoint (titik pembuka) terhadap tindakan-tindakan dan kebijakan proses transformasi nilai-nilai Islam. Keserasian atau harmoni dalam masyarakat (social equilibrum) merupakan keadaan yang diidamkan setiap masyarakat.

Keserasian masyarakat dimaksudkan sebagai suatu keadaan di mana lembaga-lembaga kemasyarakatan benar-benar berfungsi dan saling mengisi. Dalam keadaan demikian, individu secara psikologis merasakan akan adanya ketentraman karena tidak adanya pertentangan dalam norma-norma dan nilai-nilai

 

 

Daftar Pustaka

Aripudin, Acep. 2012. Dakwah Antar Budaya, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Enjang, Aliyudin. 2009. Dasar-dasar ilmu dakwah. Bandung : Widya Padjadjaran.

Liliweri, Alo. 2011. Dasar-dasat komunikasi antar budaya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Liliweri, Alo. 2009. Makna Budaya Dalam Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: LKiS

Mulyana, Dedy. Jalaludin Rachmat. 2001. Komunikasi Antar Budaya, Bandung: Rosdakarya.

Pimay, Wafiah Awaludin. 2005. Paradigma Dakwah Humanis, Strategi dan Metode Dakwah Saefudin Zuhri. Semarang: Rasail.

 Pimay, Wafiah Awaludin. 2005. Sejarah Dakwah. Semarang: Rosail.

Jurnal

Rozi, Fachrur, 2007. “Kontroversi Dakwah Inklusif ”. Jurnal Ilmu Dakwah, Vol. 27, No. 1, Januari-Juni 2007

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar