Senin, 28 Juni 2021

Hambatan Komunikasi Lintas Budaya dalam Dakwah Multikultural Modern

 

HAMBATAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA DALAM DAKWAH MULTIKULTURAL MODERN






oleh : Widya Meilis Rusandi (B01219053)

Mahasiswi KPI A2 Semester 4 2021

 

Dakwah adalah gerakan mengajak dan mendorong manusia untuk menjadikan Islam agar dapat berfungsi secara actual di dalam kehidupan, tujuannya tidak lain demi kemaslahatan manusia di dunia dan di akhirat. Oleh karena itu, perlu dilakukannya berbagai pendekatan dakwah, metode, dan teknik yang lebih beragam demi mencapai cita-cita dakwah. Salah satu pendekatan fungsional dakwah yang relevan dan konteks masyarakat plural adalah dakwah multicultural. Dakwah multicultural telah dipraktekkan oleh Rasulullah Saw pada zaman dahulu. Dakwah multicultural dimaknai sebagai aktivitas dakwah yang melekat dalam setiap gerak budaya lokal, sehingga dakwah memperoleh kesempatan untuk tumbuh subur seiring gerak laju dinamika budaya masyarakat setempat.

Pada penghujung abad kedua puluh dan memasuki abad dua puluhsatu ini, timbul wacana baru dalam pemikiran dakwah, sebagai respon terhadap perubahan-perubahan besar yang terjadi, misalnya pergeseran pola pemikiran dari modern ke pascamodern. Paradigma baru dakwah ini, dilatarbelakangi terutama oleh dua fenomena baru pascamodern, yakni globalisasi dan perkembangan politik praktis. Baik fenomena globalisasi, maupun perkembangan politik praktis di dunia belakangan ini, masing-masing mengahadpkan persoalan dakwah kontemporer kepada masyarakat majemuk multi budaya dan multi etno-religius. Dari sudut persoalan globalisasi, dakwah dihadapkan kepada persoalan tentang bagaimana caranya menyampaikan pesan-pesan Islam dalam konteks masyarakat global yang ditandai dengan makin sempitnya sekat-sekat antar kultur dan sekat masyarakat etnoreligius.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dibutuhkan adanya komunikasi lintas budaya dalam kegiatan dakwah multicultural. Akan tetapi,  dalam setiap kegiatan komunikasi pasti memiliki hambatan di dalamnya, termasuk komunikasi lintas budaya dalam kegiatan dakwah multicultural.

A.    Hambatan- Hambatan Dalam Komunikasi Lintas Budaya

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dibutuhkan adanya komunikasi lintas budaya dalam kegiatan dakwah multicultural. Akan tetapi,  dalam setiap kegiatan komunikasi pasti memiliki hambatan di dalamnya, termasuk komunikasi lintas budaya dalam kegiatan dakwah multikultural

Hambatan – hambatan dalam komunikais linytas budaya terdiri dari:

a.       Etnosentrisme

Etnosentrisme merupakan “paham” dimana para penganut suatu kebudayaan atau suatu kelompok suku bangsa merasa lebih superior daripada kelompok lain di luar mereka. Hal ini membangkitkan sikap “kami” dan “mereka”. Kecenderungan etnosentrisme adalah melihat budaya yang kita miliki sebagai pusat alam semesta.

b.      Stereotipe

Stereotipe merupakan kategorisasi atas suatu kelompok secara serampangan dengan mengabaikan perbedaan-perbedaan individual. Kelompok-kelompok ini mencakup: kelompok ras, kelompok etnik, kaum tua, berbagai pekerjaan profesi, atau orang dengan penampilan fisik tersentu. Stereotope tidak memandang individu-individu dalam kelompok tersebut sebagai orang atau individu yang unik.\

c.       Prasangka

Suatu kekeliruan persepsi terhadap orang yang berbeda adalah prasangka, suatu konsep yang sangat dekat dengan stereotipe. Prasangka adalah sikap yang tidak adil terhadap seseorang atau suatu kelompok. Beberapa pakar seperti Donald Edger dan Joe R. Fagi menganggap bahwa stereotipe itu identic dengan prasangka. Richard W. Brsilin dalam Cross-Cultural Encounters mendefinisikan prasangka sebagai sikap tidak adil, menyimpang, atau tidak toleran terhadap sekelompok orang. Prasangka memiliki beberapa macam yang berkembang di masyarakat, antara lain racism, sexism, ageism, dan heterosexism.

d.      Rasialisme

Rasialisme merupakan suatu penekanan pada rasa tau menitikberatkan pertimbangan rasial. Dalam ideologi separatis rasial, istilah ini digunakan untuk menekankan perbedaan sosial dan budaya antar ras. Istilah ini dapat juga digunakan sebagai sinonim rasisme. Jika istilah rasisme umumnya merujuk pada sifat individu dan diskriminasi institusional, rasialisme biasanya merujuk pada suatu gerakan sosial atau politik  yang mendukung teori rasisme.

e.        Jarak Sosial

Jarak sosial berbicara tentang kedekatan antar kelompok secara fisik atau sosial. Jarak sosial berbeda dengan stratifikasi sosial atau pelapisan sosial, jarak sosial mengacu pada perbedaan tingkat peradaban antar kelompok yang satu dengan kelompok lainnya, bukan perbedaan kekayaan, kekuasaam, atau ilmu pengetahuan. Adanya jarak sosial ini dapat menghambat terjadinya komunikasi lintas budaya.

f.       Persepsi

Persepsi merupakan proses yang dilakukan oleh seseorang untuk mencoba mengetahui dan memahami orang lain.

g.      Sikap

Sikap merupakan hasil evaluasi dari berbagai aspek terhadap sesuatu. Sikap seseorang terhadap budaya lain, menentukan perilakunya terhadap budaya tersebut. Sikap negatif terhadap budaya lain akan menyebabkan komunikasi lintas budaya sulit berhasil.

h.      Atribusi

Atribusi merupakan proses identifikasi penyebab perilaku orang lain yang dilakukan oleh seorang untuk menetapkan posisi dirinya. Kebudayaan lain, akan diidentifikasi berdasarkan kebudayaan sendiri, apabila atribut yang dimiliki kebudayaan lain berbeda, maka kebudayaan lain dapat dipandang negatif.

i.        Bahasa

Bahasa merupakan sebuah kombinasi dari sistem symbol dan aturan yang menhasilkan berbagai pesan dengan arti yang tak terbatas. Antara budaya yang satu dengan yang lainnya, bahasa menjadi pembeda yang sangat signifikan. Kata yang sama bisa memiliki arti yang berbeda, kesalahan penggunaan bahasa bisa jadi sangat fatal akibatnya.

j.        Paralinguistic

Paralinguistic merupakan gaya pengucapan seseorang, meliputi tinggi rendahnya suara, tempo bicara, atau dialek. Budaya yang berbeda memiliki paralinguistic yang berbeda, misalnya orang solo yang berbicara pelan dan lambat berbeda dengan orang medan yang berbicara dengan lantang dan cepat

k.      Misinterpretation

Misinterpretation atau salah tafsir merupakan kesalahan penfsiran yang umumnya disebabkan oleh persepsi yang tidak akurat. Hal ini bisa disebabkan karena kesalahan persepsi mengenai intonasi suara, mimic wajah, dkk

l.        Motivasi

Motivasi disini berkaitan dengan tingkat motivasi lawan bicara dalam melakukan komunikasi lintas budaya. Motivasi yang rendah akan menjadi hambatan komunikasi lintas budaya.

m.    Experiential

Experiental atau pengalaman hidup tiap individu berbeda, dan hal tersebut akan mempengaruhi persepsi serta cara pandang seseorang terhadap sesuatu.

n.      Emotional

Emotional disini berkaitan dengan emosi pelaku komunikasi. Jika emosi komunikan sedang buruk, komunikasi lintas budaya tidak akan dapat berjalan dengan efektif

o.      Competition

Competiton atau kompetisi terjadi ketika komunikan berkomunikasi sembari melakukan kegiatan lain, misalnya sedang menyetir, menelopon, atau lainnya. Hal ini menyebabkan komunikasi lintas budaya tidak akan berjalan secara maksimal.

 

DAFTAR PUSTAKA

Keith Banting and Will Kymlicka, Introduction to Multikulturalism and Welfare State: Setting The Context, dalam Will Kymlicka and Keith Banting, Ed., Multikultural and The Welfare State: Recognition and Redistribution in Contemporary Democracies, (New York: Oxford University Press, First Published, 2006), h. 18.

Tim Southphommanase, Grounding Multikultural Citizenship: From Minority Right to Civic Pluralism, dalam Journal Of Intercultural Studies, (Routlege Taylor and Francis Group, 2005), Vol. 26., h. 401.

Judith Squires, Cultur, Equality and Diversity, In Paul Kelly, ed., Multikulturalism reconsidered, (Cambridge: Polity Press, 2002), h. 114.

Bachtiar Effendy, Masyarakat Agama dan Pluralisme Keagamaan: Perbincangan Mengenai Islam, Masyarakat Madani dan Etos Kewirausahaan, (Yogyakarta: Galang Press, 2001), h. 5.

Liliweri, Alo, 2003, hlm. 533.

Mulyana, 2010, hlm. 237-23

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar