HAMBATAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA DALAM DAKWAH MULTIKULTURAL MODERN
Dakwah adalah gerakan mengajak dan mendorong manusia untuk
menjadikan Islam agar dapat berfungsi secara actual di dalam kehidupan,
tujuannya tidak lain demi kemaslahatan manusia di dunia dan di akhirat. Oleh
karena itu, perlu dilakukannya berbagai pendekatan dakwah, metode, dan teknik
yang lebih beragam demi mencapai cita-cita dakwah. Salah satu pendekatan
fungsional dakwah yang relevan dan konteks masyarakat plural adalah dakwah
multicultural. Dakwah multicultural telah dipraktekkan oleh Rasulullah Saw pada
zaman dahulu. Dakwah multicultural dimaknai sebagai aktivitas dakwah yang
melekat dalam setiap gerak budaya lokal, sehingga dakwah memperoleh kesempatan
untuk tumbuh subur seiring gerak laju dinamika budaya masyarakat setempat.
Pada penghujung abad kedua puluh dan memasuki abad dua puluhsatu
ini, timbul wacana baru dalam pemikiran dakwah, sebagai respon terhadap
perubahan-perubahan besar yang terjadi, misalnya pergeseran pola pemikiran dari
modern ke pascamodern. Paradigma baru dakwah ini, dilatarbelakangi terutama
oleh dua fenomena baru pascamodern, yakni globalisasi dan perkembangan politik
praktis. Baik fenomena globalisasi, maupun perkembangan politik praktis di
dunia belakangan ini, masing-masing mengahadpkan persoalan dakwah kontemporer
kepada masyarakat majemuk multi budaya dan multi etno-religius. Dari sudut
persoalan globalisasi, dakwah dihadapkan kepada persoalan tentang bagaimana
caranya menyampaikan pesan-pesan Islam dalam konteks masyarakat global yang
ditandai dengan makin sempitnya sekat-sekat antar kultur dan sekat masyarakat
etnoreligius.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka dibutuhkan adanya komunikasi
lintas budaya dalam kegiatan dakwah multicultural. Akan tetapi, dalam
setiap kegiatan komunikasi pasti memiliki hambatan di dalamnya, termasuk
komunikasi lintas budaya dalam kegiatan dakwah multicultural.
A.
Hambatan- Hambatan Dalam Komunikasi Lintas
Budaya
Berdasarkan penjelasan di atas, maka dibutuhkan
adanya komunikasi lintas budaya dalam kegiatan dakwah multicultural. Akan
tetapi, dalam setiap kegiatan komunikasi pasti memiliki hambatan di
dalamnya, termasuk komunikasi lintas budaya dalam kegiatan dakwah multikultural
Hambatan – hambatan dalam komunikais linytas
budaya terdiri dari:
a.
Etnosentrisme
Etnosentrisme merupakan “paham” dimana para
penganut suatu kebudayaan atau suatu kelompok suku bangsa merasa lebih superior
daripada kelompok lain di luar mereka. Hal ini membangkitkan sikap “kami” dan
“mereka”. Kecenderungan etnosentrisme adalah melihat budaya yang kita miliki
sebagai pusat alam semesta.
b.
Stereotipe
Stereotipe
merupakan kategorisasi atas suatu kelompok secara serampangan dengan
mengabaikan perbedaan-perbedaan individual. Kelompok-kelompok ini mencakup:
kelompok ras, kelompok etnik, kaum tua, berbagai pekerjaan profesi, atau orang
dengan penampilan fisik tersentu. Stereotope tidak memandang individu-individu
dalam kelompok tersebut sebagai orang atau individu yang unik.\
c.
Prasangka
Suatu
kekeliruan persepsi terhadap orang yang berbeda adalah prasangka, suatu konsep
yang sangat dekat dengan stereotipe. Prasangka adalah sikap yang tidak adil
terhadap seseorang atau suatu kelompok. Beberapa pakar seperti Donald Edger dan
Joe R. Fagi menganggap bahwa stereotipe itu identic dengan prasangka. Richard
W. Brsilin dalam Cross-Cultural Encounters mendefinisikan prasangka sebagai
sikap tidak adil, menyimpang, atau tidak toleran terhadap sekelompok orang.
Prasangka memiliki beberapa macam yang berkembang di masyarakat, antara lain
racism, sexism, ageism, dan heterosexism.
d.
Rasialisme
Rasialisme
merupakan suatu penekanan pada rasa tau menitikberatkan pertimbangan rasial.
Dalam ideologi separatis rasial, istilah ini digunakan untuk menekankan
perbedaan sosial dan budaya antar ras. Istilah ini dapat juga digunakan sebagai
sinonim rasisme. Jika istilah rasisme umumnya merujuk pada sifat individu dan
diskriminasi institusional, rasialisme biasanya merujuk pada suatu gerakan
sosial atau politik yang mendukung teori rasisme.
e.
Jarak Sosial
Jarak
sosial berbicara tentang kedekatan antar kelompok secara fisik atau sosial.
Jarak sosial berbeda dengan stratifikasi sosial atau pelapisan sosial, jarak
sosial mengacu pada perbedaan tingkat peradaban antar kelompok yang satu dengan
kelompok lainnya, bukan perbedaan kekayaan, kekuasaam, atau ilmu pengetahuan.
Adanya jarak sosial ini dapat menghambat terjadinya komunikasi lintas budaya.
f.
Persepsi
Persepsi
merupakan proses yang dilakukan oleh seseorang untuk mencoba mengetahui dan
memahami orang lain.
g.
Sikap
Sikap
merupakan hasil evaluasi dari berbagai aspek terhadap sesuatu. Sikap seseorang
terhadap budaya lain, menentukan perilakunya terhadap budaya tersebut. Sikap
negatif terhadap budaya lain akan menyebabkan komunikasi lintas budaya sulit
berhasil.
h.
Atribusi
Atribusi
merupakan proses identifikasi penyebab perilaku orang lain yang dilakukan oleh
seorang untuk menetapkan posisi dirinya. Kebudayaan lain, akan diidentifikasi
berdasarkan kebudayaan sendiri, apabila atribut yang dimiliki kebudayaan lain
berbeda, maka kebudayaan lain dapat dipandang negatif.
i.
Bahasa
Bahasa
merupakan sebuah kombinasi dari sistem symbol dan aturan yang menhasilkan
berbagai pesan dengan arti yang tak terbatas. Antara budaya yang satu dengan
yang lainnya, bahasa menjadi pembeda yang sangat signifikan. Kata yang sama
bisa memiliki arti yang berbeda, kesalahan penggunaan bahasa bisa jadi sangat
fatal akibatnya.
j.
Paralinguistic
Paralinguistic
merupakan gaya pengucapan seseorang, meliputi tinggi rendahnya suara, tempo
bicara, atau dialek. Budaya yang berbeda memiliki paralinguistic yang berbeda,
misalnya orang solo yang berbicara pelan dan lambat berbeda dengan orang medan
yang berbicara dengan lantang dan cepat
k.
Misinterpretation
Misinterpretation
atau salah tafsir merupakan kesalahan penfsiran yang umumnya disebabkan oleh
persepsi yang tidak akurat. Hal ini bisa disebabkan karena kesalahan persepsi
mengenai intonasi suara, mimic wajah, dkk
l.
Motivasi
Motivasi
disini berkaitan dengan tingkat motivasi lawan bicara dalam melakukan
komunikasi lintas budaya. Motivasi yang rendah akan menjadi hambatan komunikasi
lintas budaya.
m.
Experiential
Experiental
atau pengalaman hidup tiap individu berbeda, dan hal tersebut akan mempengaruhi
persepsi serta cara pandang seseorang terhadap sesuatu.
n.
Emotional
Emotional
disini berkaitan dengan emosi pelaku komunikasi. Jika emosi komunikan sedang
buruk, komunikasi lintas budaya tidak akan dapat berjalan dengan efektif
o.
Competition
Competiton
atau kompetisi terjadi ketika komunikan berkomunikasi sembari melakukan
kegiatan lain, misalnya sedang menyetir, menelopon, atau lainnya. Hal ini
menyebabkan komunikasi lintas budaya tidak akan berjalan secara maksimal.
DAFTAR PUSTAKA
Keith
Banting and Will Kymlicka, Introduction to Multikulturalism and Welfare State:
Setting The Context, dalam Will Kymlicka and Keith Banting, Ed., Multikultural
and The Welfare State: Recognition and Redistribution in Contemporary Democracies,
(New York: Oxford University Press, First Published, 2006), h. 18.
Tim
Southphommanase, Grounding Multikultural Citizenship: From Minority Right to
Civic Pluralism, dalam Journal Of Intercultural Studies, (Routlege Taylor and
Francis Group, 2005), Vol. 26., h. 401.
Judith
Squires, Cultur, Equality and Diversity, In Paul Kelly, ed., Multikulturalism
reconsidered, (Cambridge: Polity Press, 2002), h. 114.
Bachtiar
Effendy, Masyarakat Agama dan Pluralisme Keagamaan: Perbincangan Mengenai
Islam, Masyarakat Madani dan Etos Kewirausahaan, (Yogyakarta: Galang Press,
2001), h. 5.
Liliweri,
Alo, 2003, hlm. 533.
Mulyana,
2010, hlm. 237-23

Tidak ada komentar:
Posting Komentar