DAKWAH MULTIKULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS
BUDAYA
Makalah Ini Dibuat Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah
Disusun oleh:
Widya Meilis Rusandi (B01219503)
Dosen Pembimbing:
Abu Amar Bustomi, M.Si
Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel
Surabaya
2021
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirobbil ‘Alamin segala puji bagi Allah untuk segala
nikmat yang diberikan, yakni keindahan dan ketentraman Islam.
Segala puji bagi memamapukan hati untuk berusaha istiqomah berada di jalan Islam
yang lurus meski halangan menentang di depan jalan. Sehingga
saya dapat menyelesaikan makalah ini
dengan judul Dakwah Multikultural Dan Komunikasi Lintas Budaya
Saya ucapkan terimakasih
kepada Abu Amar Bustomi, M.Si selaku dosen pengampuh mata kuliah dakwah
multikultural dan komunikasi lintas budaya, yang telah memberikan
pengarahan dalam penyusunan makalah ini. Dan saya menyadari akan kekurangan
dalam makalah saya. Karena itu, saran dan kritik yang saya harapkan demi
perbaikan makalah ini. Semoga makalah saya dapat bermanfaat bagi para pembaca
semua.
Surabaya, 28 Juni 2021
Widya
Meilis Rusandi
DAFTAR ISI
A. Ruang Lingkup Dakwah Antar Budaya
B. Basis dan Pendekatan Dakwah Multikultural
C. Tujuan, fungsi dan Peranan Dakwah dalam Komunikasi Antar Budaya
D. Dakwah dalam Komunikasi Antar Etnik, Ras, dan Bangsa
E. Dakwah dalam Kajian Pola Komunikasin Lintas Budaya
F. Mengenal Unsur – Unsur Komunikasi Lintas Budaya dalam Berdakwah
G. Akttivitas Komunikasi Lintas Verbal dan Non Verbal Dalam Ilmu ad – Dakwah
H. Hambatan Komunikasi Lintas Budaya dalam Dakwah Multikultural Modern
PENDAHULUAN
Era Globalisasi ini, perubahan
sosial masyarakat tidak dapat dielakkan lagi. Salah satu faktor utama yang
menjadi perubahan dalam sosial masyarakat adalah sentuhan budaya (cultural
encounters) baik dalam maupun luar Budaya akan selalu mengalami perubahan
seiring dengan perkembangan zaman. Apalagi di zaman modern ini, pesatnya ilmu
pengetahuan dan teknologi dalam bidang komunikasi membuat orang lebih mudah
mengenal budaya orang lain dari berbagai latarbelakang budaya yang berbeda-beda.
Tidak hanya mencakup lokal, namun antar daerah, wilayah, maupun antar negara.
Terutama, ini terjadi pada masyarakat perkotaan yang memiliki latarbelakang kebudayaan yang berbeda-beda. Hal ini membuat masyarakat semakin terbuka, saling mengenal, dan saling mempelajari satu dengan yang lainnya. Lebih lanjut lagi saling mengakulturasi antar budaya yang berbeda-beda. Berbagai cara dan pendekatan yang manusia lakukan untuk membangun komunikasi antarbudaya. Artinya, komunikasi yang mereka lakukan pada orang lain maupun kelompok lain adalah sebuah pertukaran kebudayaan, perpaduan dan akulturasi . Individu yang memasuki lingkungan baru berarti melakukan kontak antarbudaya, maka komunikasi antarbudaya menjadi hal yang tidak terelakan. Dengan demikian, komunikasi antarbudaya menjadi kewajiban yang harus dilakukan oleh seseorang untuk mengenal, mempelajari, dan sampai pada perpaduan antarbudaya.
1. Apa pengertian ruang lingkup dakwah antar Budaya?
2. Apa pedoman dakwah dalam kajian pola komunikasi lintas budaya ?
3. Bagaimana ciri-ciri hambatan komunikasi lintas budaya dalam dakwah multikultural modern
4. Apa manfaat pengetahuan budaya dan kearifan dakwah?
C. Tujuan Penulisan
1 Mengetahui pengertian ruang lingkup dakwah antar Budaya?
2. Mengetahui pedoman
dakwah dalam kajian
pola komunikasi lintas budaya ?
3. Mengetahui ciri-ciri hambatan komunikasi lintas budaya dalam dakwah multikultural modern?
4. Memahami manfaat
pengetahuan budaya dan kearifan dakwah?
RUANG
LINGKUP DAKWAH ANTAR BUDAYA
Manusia adalah makhluk yang berbudaya, manusia secara fisik hampir tak memiliki perbedaan yang mencolok antara satu dengan yang lainnya. Kemudian dakwah merupakan kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus terhadap objek dakwah. Dari masa ke masa kegiatan dakwah selalu mengalami perubahan dengan kondisi budaya dan situasi lingkungan. Munculnya permasalahan dalam dakwah semakin efektif, apalagi pada zaman yang modern seperti sekarang ini. Para da’i dituntut harus bisa mengetahui gambaran dakwah atau materi yang mengandung berbagai keterangan, informasi, dan data yang dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk menyusun suatu rencana kegiatan dakwah secara sistematis dan terperinci tentang daerah yang nantinya akan mewujudkan dakwah antar budaya oleh sang da’i.
A. Pengertian
Dakwah Antar Budaya
Dakwah antar budaya merupakan proses dakwah yang mempertimbangkan
keragaman budaya antar da’i (subjek dakwah) dan mad’u (objek dakwah), dan
keragaman penyebab terjadinya gangguan interaksi pada tingkat antar budaya,
agar pesan dakwah dapat tersalurkan, dengan tetap terciptanya situasi damai.
Sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat
dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari- hari, kebudayaan itu
bersifat abstrak. sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda benda diciptakan
oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku, bahasa, pearlatan
hidup, organisasi sosial, religi, seni dan lain lain, yang kesemuanya
ditunjukkan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan masyarakat
sehingga dakwah kita walaupun berbeda budaya akan selalu tetap terjaga.
Seseorang atau sekelompok orang akan berubah
pikiran, keyakinan, sikap dan perilakunya ke arah yang lebih positif yaitu ke
arah yang sesuai dengan ajaran atau nilai-nilai Islam. Misalnya dari tidak
mengenal tuhan ke mengenal Tuhan, dari bertuhan banyak ke Tuhan satu, dari
tidak shalat menjadi shalat, dari berperilaku jelek menjadi berperilaku baik,
dari kondisi miskin yang pasrah terhadap nasib menjadi sadar dan mau merubah
nasib dan sebagainya. Oleh karena itu, dakwah hendaklah dikemas dengan baik
sehingga mampu menarik perhatian mad’u, misalnya dengan mendiskusikan
nilai-nilai atau ajaran Islam dengan nilai-nilai tradisi atau budaya
lokal. Oleh karenanya dibutuhkan aktivitas dakwah agar senantiasa mampu
mewujudkan dakwah antar budaya saling rukun, saling menghormati dan menghargai
diantara sesama serta mampu menjalin hidup yang toleran dengan kearifan budaya
yang ada.
Dakwah antar budaya merupakan sebagai proses dakwah yang
mempertimbangkan keragaman budaya antar subjek, objek dakwah serta keragaman
penyebab terjadinya gangguan interaksi pada tingkat intra dan antar budaya agar
pesan dakwah dapat tersampaikan dengan tetap terpelihara situasi dan kondisi
dengan damai.
B. Ruang Lingkup Dakwah Antar Budaya
Dakwah antar budaya merupakan kajian proses berdakwah
mengajak seseorang manusia untuk menyampaikan pesan pesan agama islam dan
perilaku Islam sesuai dengan konsep dan budaya yang berkembang di masyarakat.
Kajian dakwah antar budaya memiliki ruang lingkup kajian
ilmu dakwah yang meliputi :
a. Mengkaji dasar-dasar tentang adanya
interaksi simbolik da’i dengan mad’u yang berbeda latar belakang budaya yang
dimilikinya dalam perjalanan dakwah para da’i.
b. Menelaah unsur-unsur dakwah dengan
mempertimbangkan aspek budaya yang berhubungan dengan unsur da’i, pesan dakwah,
metode, media, mad’u dan dimensi ruang dan waktu dalam keberlangsungan
interaksi berbagai unsur dakwah
c. Mengkaji tentang
karakteristik-karakteristik manusia baik posisinya yang menjadi da’i maupun
yang menjadi mad’u melalui kerangka metodologi dalam antropologi.
d. Mengkaji tentang upaya-upaya dakwah
yang dilakukan oleh masing-masing etnis
e. Mengkaji problem yang ditimbulkan
oleh pertukaran antar budaya dan upaya-upaya solusi yang dilakukan dalam rangka
mempertahankan eksistensi jati diri budaya masing-masing
C. Strategi
Dakwah Antar Budaya
Mengenali tempat, situasi dan
kondisi masyarakat terlebih dahulu merupakan langkah awal yang harus dilakukan
seorang penceramah (da’i). Hal ini untuk memudahkan strategi yang akan
digunakan serta materi dakwah yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Sebab,
dalam menentukan sebuah strategi dakwah seorang da’i harus jeli dalam melihat
kondisi mad’u, sehingga aktivitas dakwah akan lebih mantap, efisien, dan
mengenai sasaran.
Dakwah seperti ini akan lebih
efektif. Strategi dakwah litas budaya dapat kita lihat pada sejarah Wali Songo
(9 wali) dalam menyebarkan ajaran-ajaran Islam dan mentransformasikan
nilai-nilai keislaman kepada masyarakat. Seperti Sunan Kalijaga dalam berdakwah
beliau tidak memangkas budaya-budaya yang telah berkembang di tengah-tengah masyarakat.
Justru budaya tersebut dijadikan sebagai media penyebaran Islam. Pada masa itu,
kultur yang paling diminati masyarakat adalah wayang kulit. Hanya saja
pesan-pesan yang terkandung dalam pergelaran wayang kulit tersebut masih kental
dengan ajaran-ajaran Hindu. Maka sunan Kalijaga memasukkan nilai-nilai Islami
ke dalam cerita wayang kulit tersebut. Sehingga disadari ataupun tidak,
masyarakat mulai tertarik dengan ajaran yang dibawa sunan Kalijaga. Dari
situlah Islam melebarkan sayapnya.
Dari proses pelaksanaan dakwah sunan
Kalijaga di atas, mengindikasikan kepada kita bahwa tidak semua budaya yang
bersumber dari non Islam itu jelek sehingga harus dipangkas sampai habis tapi
bagaimana seorang da’i menyelipkan nilai-nilai keislaman di dalamnya. Di sini
dibutuhkan kecerdikan seorang da’i. Justru sikap semena-mena terhadap
budaya-budaya warisan nenek moyang akan membangkitkan kobaran amarah dari
masyarakat setempat yang kemudian mengerucut pada kekacauan dan kehancuran
peradaban.
BASIS
DAN PENDEKATAN DAKWAH MULTIKULTURAL
Menjalankan
aktivitas dakwah pada kalangan masyarakat yang multikultur memerlukan cara dan
strategi tersendiri. Komunikasi yang baik dan tidak menyudutkan salah satu
pihak yang berbeda dapat menjadikan dakwah diterima oleh masyarakat yang
heterogen. Tulisan ini mengkaji tentang cara yang digunakan dalam melakukan
dakwah pada masyarakat yang berbeda-beda. Kesimpulan dari tulisan ini
menjelaskan bahwasannya komunikasi dakwah yang digunakan dalam masyarakat yang
multikultural dengan cara pendekatan multikulturalisme dalam dakwah, yakni
berusaha untuk mencapai dua hal, yaitu titik temu dalam keragaman, dan
toleransi dalam perbedaan.
Gerakan
dakwah dituntut untuk mampu berinovasi dan berkreasi dalam rangka adaptasi pada
situasi social masyarakat yang kompleks tersebut. Inovasi dan kreasi menjadikan
dakwah tumbuh dalam wilayah dan kelembagaan yang beragam
A.
Pengertian
Pendekatan Dakwah
Pendekatan dakwah merupakan titik tolak atau sudut pandang kita terhadap
dakwah. Pada umumnya, penentuan pendekatan dakwah didasarkan pada mitra dakwah
dan suasana yang melingkupinya. Dalam bahasa lain, pendekatan dakwah harus
tertumpu pada pandangan human oriented, dengan menempatkan
pandangan yang mulia atas diri manusia sebagai mitra dakwah
Sebagaimana
dikutip Ali Aziz mengemukakan tiga pendekatan dakwah, yaitu pendekatan budaya
dan bahasa, pendekatan pendidikan, dan pendekatan psikologis.
a. Pendekatan budaya dan bahasa dalam dakwah adalah penggunaan budaya dan
bahasa sebagai alat atau media untuk menyampaikan pesan dakwah, misalnya
penggunaan wayang kulit dan bahasa Jawa untuk dakwah pada komunitas Suku Jawa,
penggunaan bahasa Betawi dan lenong untuk komunitas Suku Betawi, dan
seterusnya.
b.
Pendekatan
pendidikan adalah penggunaan pendidikan (ta’lim) sebagai sarana untuk
mencerdaskan, mencerahkan masyarakat dari kebodohan dalam bidang ilmu agama dan
pengetahuan lainnya. Sarananya bisa melalui mimbar jum’at, majelis ta’lim,
penataran, pelatihan, pendidikan formal dan non formal.
c.
Pendekatan
psikologis adalah pendekatan dakwah dengan sentuhan psikologis kepada mad’u
melalui bimbingan konseling, kunsultasi dalam urusan keluarga, agama, dan
lainnya.
B.
Basis Dan Pendekatan Dakwah Multikultural
Multikultural
merujuk kepada konsep kebinekaan yang bersifat multi dimensi yang meliputi
aspek bahasa, warna kulit, budaya, suku, etnis, bangsa, dan agama. Bila merujuk
kepada Al-Qur’an, kita akan menemukan bahwa fakta multikultural umat manusia
merupakan kehendak sekaligus sunnatullah bagi kehidupan umat manusia sepanjang
sejarah.
Dalam
pendekatan terdapat perselisihan dan perbedaan yang terjadi pada masyarakat
manusia dapat menimbulkan kelemahan serta ketegangan antar mereka, tetapi dalam
kehidupan ini ada perbedaan yang tidak dapat dihindari, yaitu ciri dan tabiat
manusia yang pada gilirannya menimbulkan perbedaan-perbedaan dalam banyak hal.
Belum lagi perbedaan lingkungan dan perkembangan ilmu yang juga memperluas
perbedaan mereka. Ini semua merupakan kehendak Allah Swt. dan tentu diperlukan
oleh manusia bukan saja sebagai makhluk sosial, tetapi juga sebagai hamba Allah
yang harus mengabdi kepada-Nya dan menjadi khalifah di bumi
Ketika terjadi
perbedaan dan ketegangan diantara sesama umat manusia, harus dilakukan dialog
untuk mencari kebenaran universal yang memiliki tujuan antara lain: untuk saling
mengenal (al-ta’aruf), saling mengerti (al-tafahum), saling mengasihi
(al-tarahum) , membangun solidaritas (al-tadhamun), hidup bersama secara damai
(al-ta’ayusy al-silmi)
Pendekatan
dakwah multikultural mengajukan lima macam pendekatan antara lain :
1.
Berbeda dengan dakwah konvensional yang
menempatkan konversi iman sebagai bagian inti dari dakwah, pendekatan dakwah
multikultural menilai bahwa dakwah tidak lagi secara eksplisit dimaksudkan
untuk mengislamkan umat non muslim.
2.
Dalam
ranah kebijakan publik dan politik, dakwah multikultural menggagas ide tentang
kesetaraan hak-hak warga negara (civil right), termasuk hak-hak kelompok
minoritas.
3.
Dalam
ranah sosial, dakwah multikultural memilih untuk mengambil pendekatan kultural
ketimbang harakah (salafi jahidy)
4.
Keempat,
dalam konteks pergaulan global, dakwah multikultural menggagas ide dialog
antar-budaya dan keyakinan (intercultur-faith understanding).
5.
Kelima,
terkait dengan program seperti ini dalam poin keempat, para penggagas dakwah
multikultural, merasa perlu untuk menyegarkan kembali pehamaman doktrin - doktrin
Islam klasik, dengan cara melakukan reinterpretasi dan rekonstruksi paham
Islam, sesuai dengan perkembangan masyarakat global-multikultural.
TUJUAN, FUNGSI DAN PERANAN DAKWAH
DALAM KOMUNIKASI ANTARBUDAYA
Kegiatan
dakwah di masyarakat, dan di media massa selama ini, relatif telah responsif,
terhadap kondisi masyarakat yang modern. Setidaknya telah berupaya agar
pesan-pesan keagamaan yang disampaikan bisa diterima secara baik. Mereka biasa menggunakan
berbagai metode dalam berdakwah. Namun masih menjadi pertanyaan besar: apakah
substansi dakwah telah menyesuaikan dengan kemajemukan dan keperbedaan kultur di masyarakat; Apakah
kebijakan dakwah multikultur telah terformulasi dengan baik. Demikian juga para
da’i sebagai nara sumber atau aktor, supaya mempunyai kemampuan meramu
kemajemukan tersebut dengan memperhatikan; isi atau pesan-pesan yang
disampaikan, metode penyampaian, narasumber atau da’i yang berperan serta media
yang digunakan.
Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia,
kini telah diwarnai oleh mobilitas sosial yang sangat tinggi. Terjadi
akulturasi (percampuran budaya) dan transkulturasi (tarik menarik antar
budaya), sejalan dengan kemajuan tekonologi dan perkembangan ilmu pengetahuan.
Perkembangan yang spektakuler adalah pada teknologi komunikasi, yang kemudian
sangat mempengaruhi pola dakwah masa kini. Secara tematik, ada beberapa jenis
kegiatan dakwah di masyarakat. Sebagian adalah pendalaman pengetahuan agama
yang dilakukan secara rutin dan terjadwal. Sebagian lagi adalah mengusung tema
tertentu yang melekat dengan pelaksanaan peringatan hari besar Islam,
menyongsong event nasional dan lainya.
A.
Pengertian Dakwah
Dakwah
merupakan sebuah proses transformasi nilai-nilai ajaran Islam kedalam
masyarakat, oleh karena itu dakwah tidak akan pernah berhenti untuk
berinteraksi dengan budaya dari masyarakat itu sendiri. Terdapat konsep dakwah
yang mengedepankan cara-cara simpatik, bijaksana dan lebih humanis Dalam
perjalanan sejarah bangsa Indonesia, kini telah diwarnai oleh mobilitas sosial
yang sangat tinggi. Terjadi akulturasi (percampuran budaya) dan transkulturasi
(tarik menarik antar budaya), sejalan dengan kemajuan tekonologi dan
perkembangan ilmu pengetahuan. Perkembangan yang spektakuler adalah pada
teknologi komunikasi, yang kemudian sangat mempengaruhi pola dakwah masa kini.
Secara tematik, ada beberapa jenis kegiatan dakwah di masyarakat. Sebagian
adalah pendalaman pengetahuan agama yang dilakukan secara rutin dan terjadwal.
Sebagian lagi adalah mengusung tema tertentu yang melekat dengan pelaksanaan
peringatan hari besar Islam, menyongsong event nasional dan lainya. Seperti
pendekatan sosial dan budaya yang diterima oleh masyarakat luas. Memperhatikan
ruang dan waktu, topik-topiknya aktual, menyentuh kebutuhan dasar mad’u dan
isu-isu terkini dalam masyarakat.
A.
Peranan
Dakwah dalam Komunikais Antar Budaya
Komunikasi antarbudaya artinya
suatu proses interaksi antar seorang individu lainnya, dimana kedua belah pihak
memiliki latar belakang budaya yang berbeda. Dan pada saat yang sama keduanya
saling mempengaruhi sehingga membentuk sikap dan perilaku manusia tersebut.
Seperti gerakan dakwah yang dilakukan seorang Da’I kepada mad’unya, diman
keduanya memiliki latar belakang budaya berbeda. Dari perbedaan inilah sang
Da’I berusaha menjadikan keragaman budaya sebagai salah satu media (sarana)
dakwah, agar mad’unya dapat mengintergrasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan
budaya mereka.
Islam harus didakwahkan dengan
pendekatan adaptif sesuai kondisi sosiokultural umat sehingga penentuan metode,
pendekatan, pesan dan media dakwah harus dinamis. Ajaran Islam harus disebarkan
secara kreatif, tidak dihadirkan dengan cara-cara yang tradisional, monoton dan
bahkan terkesan membosankan. Bahwa Islam harus didakwahkan dengan cara
inovatif, artinya para da’i harus membuat terobosan baru agar pesan dakwah yang
disampaikan dapat diperankan secara maksimal. Salah satunya dengan menerapkan
komunikasi antarbudaya dalam pergerakan dakwah di tengah-tengah masyarakat.
Salah satu faktor gagalnya proses
dakwah disebabkan karena pendekatan yang digunakan para da’i dalam berdakwah
kurang tepat. Akibatnya umat bukannya semakin dekat dengan Islam, malah semakin
menjauh. Perspektif dakwah dan komunikasi memiliki objek dan subjek yang sama,
yakni manusia. Pemahaman yang komprehensif terhadap keragaman budaya dan adat
istiadat masyarakat sebagai objek dakwah ini akan memudahkan para da’i
menentukan metode dan pendekatan dakwah yang tepat sesuai kondisi sosiokultural
masyarakat agar tidak terjadi gesekan dengan budaya sosiokultural. Manakala
seorang da’i (komunikator) menyampaikan pesannya kepada mad’u (komunikan),
diperlukan pendekatan yang tepat agar pesan dakwah, misi dakwah dapat diterima
oleh mad’u (komunikan) dengan baik. Dengan demikian, posisi da’i sangat penting
dan signifikan dalam pergerakan dakwah Islam.
B.
Tujuan
dan Fungsi Komunikasi Lintas Budaya Menurut Para Ahli
Menurut Litvin tujuan dan fungsi
dari komunikasi lintas budaya bersifat kognitif atau dan efektif yaitu
mempelajari keterampilan komunikasi yang membuat seseorang mampu menerima gaya
dan isi dari komunikasi itu sendiri dalam segi fungsi dakwah adalah ilmu yang
mengkaji tentang mengajak umat manusia kepada jalan Allah yang dibangun dan
dikembangkan dengan metode ilmiah sehingga dapat berfungsi dalam rangka
memahami memprediksi menjelaskan dan mengontrol berbagai fenomena dan persoalan
yang terkait dengan dakwah.
C.
Tujuan Komunikasi
Lintas Budaya
Tujuan dakwah komunikasi lintas
budaya dengan menggunakan metode dakwah yang tidak menghapus budaya atau
tradisi lama menjadikan diterimanya ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat
menjadikan Islam lebih fleksibel dan mudah diterima oleh semua lapisan
masyarakat meskipun memiliki perbedaan antara satu sama lain komunikasi lintas
budaya
D.
Fungsi
Komunikasi Lintas Budaya
Fungsi dakwah komunikasi lintas
budaya
1.
Mengajarkan dan mengenalkan
nilai-nilai ajaran Islam kepada budaya masyarakat
2.
Menjelaskan secara sistematis
fenomena yang berkembang berkaitan dengan proses dakwah
3.
Menjadi perantara dalam proses
komunikasi antarbudaya
4.
Mengawasi praktik komunikasi
antarbudaya yang antara komunikator dan komunikan yang berbeda kebudayaan
Di dalam komunikasi antarbudaya pun
juga terdapat fungsi sosial, di antaranya
1.
Pengawasan: Pada umumnya, kegiatan
komunikasi antarbudaya terjadi ketika komunikator dan komunikan yang berbeda
kebudayaan. Fungsi ini lebih banyak digunakan oleh media masa
2.
Penghubung: Komunikasi antarbudaya
ini dapat juga dijadikan sebagai jembatan bagi setiap individu yang memiliki
kebudayaan yang berbeda. Biasanya, Beda individu atau lebih akan menyampaikan
presepsi mereka yang berbeda-bedaa
3.
Sosialisasi Nilai: Di sini, fungsi
komunikasi antar budaya dapat memberikan ajaran dan perkenalan nilai-nilai dari
suatu kebudayaan suatu masyarakat lain
4.
Menghibur: Dalam hiburan pun juga
ada kegiatan komunikasi antar budaya. Hal ini dapat ditemukan seperti di
saat menonton tarian, nyanyian, bahkan drama sekaligus
DAKWAH
DALAM KOMUNIKASI ANTAR ETNIK, RAS DAN BANGSA
Faktanya, Indonesia adalah bangsa
yang memiliki keragaman suku, bahasa,
golongan, warna kulit, dan agama yang menjadi aset bangsa dalam membentuk
kerukunan sosial. Dalam studi tentang Teori politik kontemporer disebut juga
keanekaragaman masyarakat manusia dalam segala aspeknya masyarakat
multikultural. Dalam konteks agama, sebagian umat beragama selalu
mensosialisasikannya ajaran agama untuk masyarakat majemuk dengan mengabaikan
kemajemukan kehidupan masyarakat dalam segala nya aspek. Di sinilah pentingnya
perspektif multikultural perlu dimiliki oleh siapapun yang ingin menyampaikan
pesan agama dalam masyarakat multikultural. Dari perspektif multikultural,
penyampaian pesan agama atau dakwah membutuhkan seorang da'I untuk memahami
keragaman budaya masyarakat dan bersikap positif tentang keragaman.
Dakwah multikultural berarti
mengupayakan terciptanya keharmonisan di tengah masyarakat yang majemuk dan
tetap bisa mengendalikan diri segala macam perbedaan yang tidak
setara Islam adalah agama dakwah. Islam berkembang di tengah-tengah
umat di seluruh dunia melalui khotbah. Keberhasilan dakwah Islam dalam mengajak
orang ke jalan yang benar, sebagian karena Islam tidak mendiskriminasi ras,
bangsa, etnis dan budaya. Islam berdakwah dalam menghadapi budaya manusia yang
beragam, tidak hanya berupa undangan, tetapi memiliki asas yang merupakan
pedoman dasar yang mengacu pada kewajiban, tanggapan manusia terhadap panggilan
Tuhan, tidak ada unsur paksaan, itu rasional dan penegakan etika dalam menilai
hal-hal baik dan buruk menurut ajaran agama (Islam)
A.
Pluralitas Budaya
Pluralitas
budaya kadang digunakan dengan istilah multikultural, artinya secara harpiah
dengan banyak budaya. Atau kata multikulturalisme yaitu sebagai paham banyak
budaya. Suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa bumi ini hanya ada
satu (only one world), sementara manusia yang mendiaminya terdiri dari berbagai
bangsa, suku, etnis, agama dan budaya. Itulah sebabnya agama, budaya sering
muncul dalam bentuk plural. Sebagai implikasinya, maka praktek keberagaman dan
budaya seseorang atau masyarakat senantiasa melahirkan
pengelompokan-penglompokan.
Era
sekarang adalah era pluralism. Hal ini dapat dilihat fenomena yang ada :
budaya, agama, keluarga, ras, ekonomi, sosial, suku, pendidikan, bangsa,
negara, belum lagi apresiasi politik, semuanya menampakkan wajah yang
pluralistis. Samuel P. Hungtinton menyebutkan bahwa pada abad ke-21 akan
terjadi sebuah bentuk keanekaragaman yang belum pernah terjadi sebelumnya, dia
menyebutkan benturan antara budaya timur dan barat, antara Islam dan Kristen,
serta antara modern dan tradisional, hal ini tentunya berpotensi menimbulkan
benturan fisik (peperangan).
Jadi
hakikat pluralis atau keanekaragaman adalah sebagai fitrah (sifat yang melekat
secara alamiah) bagi manusia. Karena Tuhan telah menciptakan manusia dalam
keadaan berbeda-beda. Atau dengan kata lain, bahwa sifat alamiah manusia adalah
berbeda, baik dalam bentuk fisik, pemikiran dan perbuatan. Maka agama dan
budaya manusia tentu juga menjadi berbeda-beda. Oleh sebab itu tidak mengherankan
jika sikap saling membela dalam mempertahankan budaya dan tradisi suatu
masyarakat tidak hanya pada masyarakat. Primitif yang hidup di hutan, jauh dari
keramaian kota seperti suku-suku di Papua dan Kalimantan, tetapi hampir setiap
masyarakat menyatu dengan budayanya berhak untuk melestarikannya.
Dengan
kemajuan di era teknologi informasi sekarang, batas-batas budaya, baik secara
sosiologis maupun geografis sudah sulit untuk dibatasi dan memudahkan untuk
berkomunikasi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kenyataan tersebut
jelas dapat menimbulkan situasi dan suasana yang kurang menguntungkan bagi
sebagian orang, terutama bagi mereka yang terbiasa hidup di lingkungan budaya
yang lebih homogen dan mengandalkan mental interaksi hidupnya pada tradisi
hegemoni mayoritas. Perbedaan budaya dan pandangan subyektivitas terhadap
budaya dan kepentingan yang berbeda-beda sering memicu terjadinya konflik.
Karena semakin besar perbedaan budaya antara dua orang semakin besar pula
perbedaan persepsi mereka terhadap suatu realitas. Salah satu jalan untuk
menyikapinya atas kenyataan pluralitas ini adalah dengan cara dan sikap
mengakui perbedaan, kemudian saling mengenal.
B.
Komunikasi antar Budaya
Komunikasi
adalah hubungan aktif yang dibangun antara orang melalui bahasa, dan sarana
antarbudaya bahwa hubungan komunikatif adalah antara orang-orang dari budaya
yang berbeda, di mana budaya merupakan manifestasi terstruktur perilaku manusia
dalam kehidupan sosial dalam nasional spesifik dan konteks lokal, misalnya
politik, linguistik, ekonomi, kelembagaan, dan profesional.
Adaptasi
merupakan hal yang sangat perlu untuk dilakukan dalam kehidupan antarbangsa,
antarnegara, maupun antarbudaya. Seseorang dikatakan berhasil berkomunikasi
dengan orang yang memiliki budaya berbeda sangat diperlukan suatu adaptasi yang
berguna untuk keharmonisan hidup dalam masyarakat.
Seseorang
yang hidup dalam masyarakat yang berbeda budaya sangat diperlukan yang namanya
adaptasi. Ini berarti, perubahan budaya dari seseorang yang melakukan adaptasi
mempunyai perubahan-perubahan budaya dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan
budaya yang baru. Adaptasi merupakan sesuatu yang harus bagi seorang pendatang
terhadap budaya yang baru. Dengan sebab itu dalam beradaptasi seseorang selain
membutuhkan kesiapan mental dan juga memerlukan kesabaran dalam menghadapi
keadaan budaya baru untuk bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru.
Akulturasi hanya sebuah bentuk perubahan budaya, yang disebabkan kontak dengan
budaya-budaya lain
C.
Interaksi Sosial
Pengertian
Interaksi Sosial Manusia terlahir sebagai makhluk sosial, kenyataan tersebut
menyebabkan manusia tidak akan dapat hidup normal tanpa kehadiran manusia yang
lain. Hubungan tersebut dapat dikategorikan sebagai interaksi sosial. Interaksi
sosial adalah hubungan yang terjadi antara manusia dengan manusia yang lain,
baik secara individu maupun dengan kelompok
1.
Ciri-Ciri Interaksi Sosial Proses
interaksi sosial dalam masyarakat memiliki ciri sebagai berikut
a.
Adanya dua orang pelaku atau lebih
b.
Adanya hubungan timbale balik antar
pelaku
c.
Diawali dengan adanya kontak
sosial, baik secara langsung.
d.
Mempunyai maksud dan tujuan yang
jelas.
2.
Syarat Terjadinya Interaksi Sosial
Proses interaksi sosial dalam masyarakat terjadi apabila terpenuhi dua syarat
sebagai berikut:
a.
Kontak sosial, yaitu hubungan
sosial antara individu satu dengan individu lain yang bersifat langsung,
seperti dengan sentuhan, percakapn, maupun tatap muka sebagai wujud aksi dan
reaksi.
b.
Komunikasi, yaitu proses
penyampaian pesan dari seseorang kepada orang lain yang dilakukan secara
langsung maupun dengan alat bantu agar orang lain memberikan tanggapan atau
tindakan tertentu
D.
Prinsip Dakwah Antar Budaya
Prinsip dakwah antarbudaya dalam
tulisan ini dimaksudkan ialah sesuatu yang menjadi pegangan atau acuan prediktif
kebenaran yang menjadi dasar berpikir dan bertindak merealisasikan bidang
dakwah dengan mempertimbangkan aspek budaya dan keragamannya ketika
berinteraksi. Mayoritas atau hampir semua manusia menyadari bahwa keragaman dan
perbedaan merupakan sebuah keniscayaan yang harus diterima dan dihadapi,
walaupun terkadang sikap yang kurang tepat terhadap keragaman yang ada sering
menjadi sumber konflik, jika bukan permusuhan dan peperangan.
Berhenti pada tampakan keragaman
dan perbedaan tertentu membuka peluang untuk terjadinya ragam konflik
kemanusiaan. Oleh karenanya, manusia dituntut untuk mencari titik-titik
tertentu yang memungkinkan adanya titik temu atau paling tidak kebersamaan,
sehingga terbuka peluang untuk tumbuhnya sikap toleran dalam menyikapi pluralitas.
Dengan demikian, penghayatan dan pengalaman agama yang benar merupakan daya
tangkal paling ampuh terhadap provokasi konflik antar agama, etnis dan budaya.
Pengamalan agama dalam masyarakat unsur budaya dapat tumbuh dan berkembang
melalui dakwah dengan mempertimbangkan aspek budaya.
DAKWAH DALAM KAJIAN POLA KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA
Masyarakat
Indonesia memiliki berbagai macam keberagaman seperti agama, bangsa ras,
bahasa, adat istiadat dan sebagainya. Indonesia terkenal dengan keberagaman
budayanya. Budaya adalah suatu konsep yang membangkitkan minat. Secara formal
budaya didefinisikan sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan,
nilai, sikap, makna dan diwariskan dari generasi ke generasi, melalui usaha
individu dan kelompok.
Komunikasi
diperlukan untuk mengenal budaya yang satu dengan budaya yang lainnya. Dengan
berkomunikasi seseorang dapat memahami perbedaan antar budaya yang satu dengan
yang lainnya. Komunikasi dan budaya mempunyai hubungan timbal balik. Budaya
menjadi bagian dari perilaku komunikasi, dan komunikasi pun selalu menentukan
budaya. Komunikasi antar budaya terjadi jika bagian yang terlibat dalam
kegiatan komunikasi membawa latar belakang budaya pengalaman yang berbeda dan
mencerminkan nilai yang dianut oleh kelompoknya.
Berkomunikasi
merupakan kebutuhan yang fundamental bagi seseorang yang hidup bermasyarakat,
tanpa komunikasi tidak mungkin masyarakat terbentuk, sebaliknya tanpa
masyarakat, maka manusia tidak mungkin dapat mengembangkan komunikasi. Manusia
adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam hidup manusia
selalu berinteraksi dengan sesama serta dengan lingkungan. Manusia hidup
berkelompok baik dalam kelompok besar maupun kelompok kecil.
A.
Dakwah Kultural dan Perubahan Sosial
Dakwah
Islam menghendaki perubahan masyarakat baik secara individu maupun secara
kolektif, untuk mewujudkan perubahan tersebut dibutuhkan upaya yang
sungguh-sungguh dan profesional oleh para aktivis dakwah.
Perubahan
sosial adalah proses sosial yang dialami oleh anggota masyarakat serta semua
unsur-unsur budaya dan sistem-sistem sosial, dimana semua tingkat kehidupan
masyarakat secara sukarela atau dipengaruhi oleh unsurunsur eksternal
meninggalkan pola-pola kehidupan, budaya dan sistem sosial. Dakwah Dalam
Pendekatan Nilai-nilai Kearifan LokalPerubahan sosial terjadi ketika ada
kesediaan anggota masyarakat untuk meninggalkan sistem sosial lama dan mulai
memilih serta menggunakan pola dan sistem sosial yang baru. Perubahan sosial
dipandang sebagai konsep yang mencakup seluruh kehidupan individu, kelompok,
masyarakat, negara dan dunia yang mengalami perubahan
Berangkat
dari pemahan di atas, maka dakwah kultural setidaknya dapat diklasifikasi
dengan tiga tahap yakni:
a. Pertama,
Islam harus disebarkan kepada umat manusia selalu berbasis bil-Hikmah. Artinya
bahwa dakwah yang selalu berusaha memahami realitas umat secara totalitas,
sehingga da‟i ini akan berusaha menampilkan dakwah yang gemar merangkul bukan
memukul, terutama yang terkait dengan nilai-nilai kearifan lokal. Walhasil
dengan pendekatan al-Hikmah ini, kemudian seorang da‟i akan mampu menyesuaikan
strategi serta model dakwah yang akan dikembangkan kepada umat tersebut
b. Kedua,
Mengamalkan ajaran Islam secara konkrit. Sebagai langkah kedua dalam mendorong
peran dakwah terhadap perubahan sosial adalah dengan berusaha mengamalkan
ajaran Islam dalam kehidupan nyata di masyarakat secara konsisten. Sebab selama
ini ada kesan bahwa semangat untuk mengetahui ajaran agama di masyarakat tidak
berbanding lurus dengan semangat mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan ril
B.
Pengertian Komunikasi Lintas Budaya
Menurut
Liliweri (2003:9), dalam bukunya yang berjudul Komunikasi Antarbudaya,
memberikan definisi komunikasi antarbudaya atau komunikasi lintas budaya
sebagai pernyataan diri antarpribadi yang paling efektif antar dua orang yang
saling berbeda latar belakang budayanya.
Komunikasi
Lintas Budaya dalam pengertian yang lebih luas lagi, merupakan pertukaran pesan
yang disampaikan secara lisan, tertulis, bahkan secara imajiner antara dua
orang yang berbeda latar belakang budaya
C.
Fungsi Komunikasi Lintas Budaya
Komunikasi lintas budaya memiliki fungsi penting,
terutama ketika seseorang mulai menjalin hubungan bilateral, trilateral, atau
multilateral. Secara khusus, komunikasi lintas budaya berfungsi untuk
mengurangi ketidakpastian komunikasi antarorang, antarsuku, dan antarbangsa
yang berbeda budayanya. Ketika memasuki wilayah(daerah) orang lain, seseorang
dihadapkan dengan orang-orang yang sedikit atau banyak berbeda, ditinjau dari
aspek sosial, budaya, ekonomi dan status lainnya
D.
Prinsip- Prinsip Komunikasi antar Budaya
Makin besar perbedaan antarbudaya, makin
besar kesadaran diri (mindfulness) para partisipan selama komunikasi.
Ini mempunyai konsekuensi positif dan negatif. Positifnya, kesadaran diri ini
barangkali membuat kita lebih waspada. ini mencegah kita mengatakan hal-hal
yang mungkin terasa tidak peka atau tidak patut. Negatifnya, ini membuat kita
terlalu berhati-hati, tidak spontan, dan kurang percaya diri.
Prinsip- Prinsip Komunikasi antar Budaya antara lain :
1.
Relativitas Bahasa.
2.
Bahasa sebagai cermin budaya
3.
Mengurangi Ketidakpastian
4.
kesadaran diri dan perbedaan antar budaya
5.
Interaksi awal dan perbedaan antar budaya
6.
Memaksimalkan hasil interaksi
E.
Karakteristik Budaya dan
Komunikasi
Ada tiga karakteristik penting dari
kebudayaan, yaitu kebudayaan itu dapat dipelajari, kebudayaan itu dapat
dipertukarkan, dan kebudayaan itu tumbuh serta berubah (Hebding dan Glick,
1991, hlm. 45).
1.
Kebudayaan itu Dipelajari
Kita sebut kebudayaan itu dapat
dipelajari karena interaksi antarmanusia ditentukan oleh penggunaan simbol,
bahasa verbal maupun nonverbal. Tradisi budaya, nilai-nilai, kepercayaan, dan
standar perilaku semuanya diciptakan oleh kreasi manusia dan bukan sekadar
diwarisi secara instink, melainkan melalui proses pendidikan dengan cara-cara
tertentu menurut kebudayaan. Setiap manusia lahir dalam suatu keluarga,
kelompok sosial tertentu yang telah memiliki nilai, kepercayaan, dan standar
perilaku yang ditransmisikan melalui interaksi di antara meraka (sosialisasi).
2. Kebudayaan
itu Dipertukarkan
Di samping dipelajari, kebudayaan
itu juga dipertukarkan. Istilah pertukaran merujuk pada kebiasaan individu atau
kelompok untuk menunjukkan kualitas kelompok budayanya. Dalam interaksi atau
pergaulan antarmanusia setiap orang mewakili kelompoknya lalu menunjukkan
kelebihan-kelebihan budayanya dan membiarkan orang lain untuk mempelajarinya.
Proses pertukaran budaya dilakukan melalui mekanisme belajar budaya yang mengakibatkan
para ibu yang berasal dari Sunda dan Jawa dapat belajar memasak jagung
bose (masakan jagung yang bercampur santan kelapa) dan sebaliknya para
ibu dari Timor dan Flores belajar membuat oncom dan bajigur dari
Sunda.
3. Kebudayaan
Tumbuh dan Berkembang
Setiap kebudayaan terus
ditumbuhkembangkan oleh para pemilik kebudayaannya, oleh karena itu ada yang
mengatakan bahwa kebudayaan ituterus mengalami perubahan. Oleh karena itu,
kita menyebut kebudayaan itu berbuah semakin rinci (kompleks) dan kemudian
dikomunikasikan dari satu generasi ke generasi lain. Tenun ikat dari Ended an
Lio di Flores mula-mula di tenun dengan benang yang di celupkan ke dalam nila.
Akibat perkembangan teknologi industri maka lama kelamaan nila mulai ditinggalkan
dan para penenun memakai benang sutera sehingga dapat menghasilkan tenun ikat
berkualitas ekspor
Mengenal Unsur-Unsur Komunikasi Lintas Budaya Dalam Berdakwah
Dalam dakwah, unsur dakwah
meliputi dai, mad’u, metode, materi, media. Dan dalam komunikasi, unsurnya
dalah komunikator, komunikan, pesan, media, dan efek. Keduanya hampir sama
maknanya, hanya saja dalam unsur dakwah, efek tidak dicantumkan. Namun pasti
setiap komunikasi baik dilakukan dengan kemasan dakwah, akan tetap meberikan
efek tersendiri. Seorang da’i, dituntut untuk bisa menyampaikan materi kepada
mad’u secara gamblang dan dapat diterima oleh mad’u, ini merupakan keharusan.
Karena seorang da’i dianggap berhasil apabila ia telah mampu memahamkan
mad’u-nya. Dalam komunikasi, hal ini disebut komunikasi efektif. Untuk memenuhi
tuntutan tersebut, seorang dai harus bisa memahami kondisi mad’u.
Di sinilah letak pentingnya
komunikasi lintas budaya, karena dengan memahami budaya yang ada, maka dakwah
dapat dilaksanakan dengan baik. Salah satu metode yang digunakan dalam
berdakwah adalah dakwah bil hikmah, dakwah bil hikmah dilakukan dengan cara
yang arif dan bijaksana, yaitu melalui pendekatan sedemikian rupa sehingga
pihak obyek dakwah mampu melaksanakan dakwah atas kemauannya sendiri, tidak
merasa ada paksaan, tekanan, mapun konflik. Inilah yang bisa diterapkan dalam
konsep dakwah lintas budaya
Aktivitas Komunikasi Lintas Verbal dan Non Verbal dalam Ilmu ad-Dakwah.
Dalam kebanyakan peristiwa komunikasi yang
berlangsung, hampir selalu melibatkan penggunaan lambang-lambang verbal dan non
verbal secara bersama-sama. Dalam banyak tindakan komunikasi, bahasa nonverbal
menjadi komplemen atau pelengkap bahasa verbal. Lambanglambang nonverbal juga
dapat berfungsi kontradiktif, pengulangan, bahkan pengganti ungkapan-ungkapan
verbal, misalnya ketika seseorang mengatakan terima kasih (perilaku verbal)
maka orang tersebut akan melengkapinya dengan tersenyum (perilaku nonverbal).
Maka komunikasi tersebut merupakan contoh bahwa perilaku verbal dan perilaku
nonverbal bekerja bersama-sama dalam menciptakan makna suatu perilaku
komunikasi. Namun, keduanya baik perilaku verbal maupun perilaku nonverbal akan
membantu kita dalam menginterpretasi total makna dari pengalaman komunikasi
mahasiswa asing dengan mahasiswa lokal.
A. Perilaku
Verbal dalam Komunikasi Proses komunikasi
verbal merupakan kegiatan interaksi penyampaian
dan penerimaan pesan-pesan yang dilakukan melalui percakapan dan sarana yang
digunakan adalah bahasa dan kata-kata. Bahasa dan kata-kata merupakan bagian penting dalam
cara pengemasan pesan-pesan. Salah satu fenomena yang
mempengaruhi proses komunikasi antar budaya adalah proses komunikasi verbal.
Pada dasarnya, bahasa verbal dan nonverbal tidak terlepas dari konteks budaya.
Tidak mungkin bahasa terpisah dari budaya. Setiap budaya mempunyai system
bahasa yang memungkinkan orang untuk berkomunikasi dengan orang lain. Budaya
dibentuk secara kultural, dan karena itu dia merefleksikan nilainilai dari
budaya.
Bahasamenjadi alat utama yang digunakan manusia
untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan bahasa dapat
dikategorikan sebagai unsur kebudayaan yang berbentuk nonmaterial selain nilai,
norma, dan kepercayaan. Simbol atau pesan verbal adalah semua jenis simbol yang
menggunakan
satu kata atau lebih, bahasa merupakan suatu bagian yang sangat
esensial dari manusia untuk menyatakan dirinya maupun tentang dunia yang nyata dalah keyakinan
yang naif kalau kita menyederhanakan fungsi bahasa yang seolah-olah hanya
menjadi alat untuk menggambarkan pikiran dan perasaan saja, yang lebih penting dari bahasa adalah bagaimana
memaknakan symbol atau tanda yang telah diorganisasikan dalam system
kebahasaan. Bahasa merupakan medium atau sarana bagi manusia yang berpikir dan
berkata tentang suatu gagasan sehingga boleh dikatakan
B. Perilaku
Non Verbal dalam Komunikasi Proses komunikasi
Proses-proses
verbal merupakan alat utama untuk pertukaran pikiran dan gagasan, namun
proses-proses ini sering dapat diganti oleh proses-proses nonverbal. Menurut
Alo LIliweri (1994:139) komunikasi nonverbal meliputi ekspresi wajah,
nada suara, gerakan anggota tubuh, kontak mata, rancangan ruang, pola-pola
perabaan, gerakan ekspresif, perbedaan budaya dan tindakan-tindakan nonverbal
lain yang tidak menggunakan kata-kata. Dalam proses-proses nonverbal yang
relevan dengan komunikasi lintas budaya, terdapat tiga aspek yang sangat
berkaitan: perilaku nonverbal yang berfungsi sebagai bentuk bahasa diam, konsep
waktu, dan pengaturan ruang.
Perilaku
nonverbal seseorang adalah akar budaya seseorang tersebut. Oleh karena itu,
posisi komunikasi nonverbal memainkan bagian yang penting dan sangat dibutuhkan
dalam interaksi komunikatif di antara hubungan antara komunikasi verbal dengan
kebudayaan jelas adanya, apabila diingat bahwa keduanya dipelajari, diwariskan
dan melibatkan pengertian-pengertian yang harus dimiliki bersama. Dilihat dari
ini, dapat dimengerti mengapa komunikasi nonverbal dan kebudayaan tidak dapat
dipisahkan satu sama lain. Perilaku nonverbal merefleksikan banyak polapola
budaya yang kiat dibutuhkan melalui proses sosialisasi. Jika perilaku verbal
kita hampir secara keseluruhan berbentuk eksplisit dan merupakan proses
kognitif, maka perilaku nonverbal kita merupakan spontanitas, ambigu, dan
hal-hal lain dibawah control kesadaran dan ketidaksadaran. Ketika skema Hall
dan Mehrabian (dalam Gudykunst dan Kim, 1992:79) mengatakan bahwa budaya
berbeda dalam hal dari budaya konteks tinggi ke budaya konteks rendah.
C.
Aktivitas Komunikasi Lintas Budaya Verbal & Non Verbal
dalam Ilmu ad-Dakwah
Aktivitas verbal adalah bagaimana komunikasi
verbal yang biasa dilakukan mahasiswa asing dan mahasiswa lokal sehari-hari.
Simbol atau pesan verbal adalah semua jenis symbol yang menggunakan katakata
atau lebih untuk berkomunikasi dan suatu system kode verbal disebut bahasa.
Aktivitas nonverbal dilukiskan dalam
frase. Lewat perilaku nonverbal, kita dapat mengetahui suasana emosional
seseorang, apakah ia bahagia, bingung atau sedih. Perilaku nonverbal yang
berfungsi sebagai bahasa diam, konsep waktu dan penggunaan dan pengaturan
ruang. Perilaku nonverbal yang berhubungan dengan komunikasi antar budaya ini
biasanya adalah sentuhan di anggap sebagai bentuk
HAMBATAN
KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA DALAM DAKWAH MULTIKULTURAL MODERN
Dakwah
adalah gerakan mengajak dan mendorong manusia untuk menjadikan Islam agar dapat
berfungsi secara actual di dalam kehidupan, tujuannya tidak lain demi
kemaslahatan manusia di dunia dan di akhirat. Oleh karena itu, perlu
dilakukannya berbagai pendekatan dakwah, metode, dan teknik yang lebih beragam
demi mencapai cita-cita dakwah. Salah satu pendekatan fungsional dakwah yang
relevan dan konteks masyarakat plural adalah dakwah multicultural. Dakwah
multicultural telah dipraktekkan oleh Rasulullah Saw pada zaman dahulu. Dakwah
multicultural dimaknai sebagai aktivitas dakwah yang melekat dalam setiap gerak
budaya lokal, sehingga dakwah memperoleh kesempatan untuk tumbuh subur seiring
gerak laju dinamika budaya masyarakat setempat.
Pada
penghujung abad kedua puluh dan memasuki abad dua puluhsatu ini, timbul wacana
baru dalam pemikiran dakwah, sebagai respon terhadap perubahan-perubahan besar
yang terjadi, misalnya pergeseran pola pemikiran dari modern ke pascamodern. Paradigma
baru dakwah ini, dilatarbelakangi terutama oleh dua fenomena baru pascamodern,
yakni globalisasi dan perkembangan politik praktis. Baik fenomena globalisasi,
maupun perkembangan politik praktis di dunia belakangan ini, masing-masing
mengahadpkan persoalan dakwah kontemporer kepada masyarakat majemuk multi
budaya dan multi etno-religius. Dari sudut persoalan globalisasi, dakwah
dihadapkan kepada persoalan tentang bagaimana caranya menyampaikan pesan-pesan
Islam dalam konteks masyarakat global yang ditandai dengan makin sempitnya
sekat-sekat antar kultur dan sekat masyarakat etnoreligius.
Berdasarkan
penjelasan di atas, maka dibutuhkan adanya komunikasi lintas budaya dalam kegiatan
dakwah multicultural. Akan tetapi, dalam setiap kegiatan komunikasi pasti
memiliki hambatan di dalamnya, termasuk komunikasi lintas budaya dalam kegiatan
dakwah multicultural.
A. Hambatan- Hambatan Dalam Komunikasi Lintas Budaya
Berdasarkan penjelasan di atas, maka dibutuhkan adanya komunikasi
lintas budaya dalam kegiatan dakwah multicultural. Akan tetapi, dalam
setiap kegiatan komunikasi pasti memiliki hambatan di dalamnya, termasuk
komunikasi lintas budaya dalam kegiatan dakwah multikultural
Hambatan – hambatan dalam komunikais linytas budaya terdiri dari:
a.
Etnosentrisme
Etnosentrisme merupakan “paham”
dimana para penganut suatu kebudayaan atau suatu kelompok suku bangsa merasa
lebih superior daripada kelompok lain di luar mereka. Hal ini membangkitkan
sikap “kami” dan “mereka”. Kecenderungan etnosentrisme adalah melihat budaya
yang kita miliki sebagai pusat alam semesta.
b.
Stereotipe
Stereotipe merupakan kategorisasi
atas suatu kelompok secara serampangan dengan mengabaikan perbedaan-perbedaan
individual. Kelompok-kelompok ini mencakup: kelompok ras, kelompok etnik, kaum
tua, berbagai pekerjaan profesi, atau orang dengan penampilan fisik tersentu.
Stereotope tidak memandang individu-individu dalam kelompok tersebut sebagai
orang atau individu yang unik.
c.
Prasangka
Suatu kekeliruan persepsi terhadap
orang yang berbeda adalah prasangka, suatu konsep yang sangat dekat dengan
stereotipe. Prasangka adalah sikap yang tidak adil terhadap seseorang atau
suatu kelompok. Rasialisme
d.
Rasialisme
merupakan suatu penekanan pada rasa
tau menitikberatkan pertimbangan rasial. Dalam ideologi separatis rasial,
istilah ini digunakan untuk menekankan perbedaan sosial dan budaya antar ras.
Istilah ini dapat juga digunakan sebagai sinonim rasisme. Jika istilah rasisme
umumnya merujuk pada sifat individu dan diskriminasi institusional, rasialisme
biasanya merujuk pada suatu gerakan sosial atau politik yang mendukung
teori rasisme
e.
Jarak
Sosial
Jarak sosial berbicara tentang
kedekatan antar kelompok secara fisik atau sosial. Jarak sosial berbeda dengan
stratifikasi sosial atau pelapisan sosial, jarak sosial mengacu pada perbedaan
tingkat peradaban antar kelompok yang satu dengan kelompok lainnya, bukan
perbedaan kekayaan, kekuasaam, atau ilmu pengetahuan. Adanya jarak sosial ini
dapat menghambat terjadinya komunikasi lintas budaya.
f.
Persepsi
Persepsi merupakan proses yang
dilakukan oleh seseorang untuk mencoba mengetahui dan memahami orang lain.
g.
Sikap
Sikap merupakan hasil evaluasi dari
berbagai aspek terhadap sesuatu. Sikap seseorang terhadap budaya lain,
menentukan perilakunya terhadap budaya tersebut. Sikap negatif terhadap budaya
lain akan menyebabkan komunikasi lintas budaya sulit berhasil.
h.
Atribusi
Atribusi merupakan proses
identifikasi penyebab perilaku orang lain yang dilakukan oleh seorang untuk
menetapkan posisi dirinya. Kebudayaan lain, akan diidentifikasi berdasarkan
kebudayaan sendiri, apabila atribut yang dimiliki kebudayaan lain berbeda, maka
kebudayaan lain dapat dipandang negatif.
i.
Bahasa
Bahasa merupakan sebuah kombinasi
dari sistem symbol dan aturan yang menhasilkan berbagai pesan dengan arti yang
tak terbatas. Antara budaya yang satu dengan yang lainnya, bahasa menjadi
pembeda yang sangat signifikan. Kata yang sama bisa memiliki arti yang berbeda,
kesalahan penggunaan bahasa bisa jadi sangat fatal akibatnya.
j.
Paralinguistic
Paralinguistic merupakan gaya
pengucapan seseorang, meliputi tinggi rendahnya suara, tempo bicara, atau
dialek. Budaya yang berbeda memiliki paralinguistic yang berbeda, misalnya
orang solo yang berbicara pelan dan lambat berbeda dengan orang medan yang berbicara
dengan lantang dan cepat
k.
Misinterpretation
Misinterpretation atau salah tafsir
merupakan kesalahan penfsiran yang umumnya disebabkan oleh persepsi yang tidak
akurat. Hal ini bisa disebabkan karena kesalahan persepsi mengenai intonasi
suara, mimic wajah, dkk
f.
Motivasi
Motivasi disini berkaitan dengan
tingkat motivasi lawan bicara dalam melakukan komunikasi lintas budaya.
Motivasi yang rendah akan menjadi hambatan komunikasi lintas budaya.
g.
Experiential
Experiental atau pengalaman hidup
tiap individu berbeda, dan hal tersebut akan mempengaruhi persepsi serta cara
pandang seseorang terhadap sesuatu.
h.
Emotional
Emotional disini berkaitan dengan
emosi pelaku komunikasi. Jika emosi komunikan sedang buruk, komunikasi lintas
budaya tidak akan dapat berjalan dengan efektif
i.
Competition
Competiton atau kompetisi terjadi
ketika komunikan berkomunikasi sembari melakukan kegiatan lain, misalnya sedang
menyetir, menelopon, atau lainnya. Hal ini menyebabkan komunikasi lintas budaya
tidak akan berjalan secara maksimal
.
BUDAYA
DAN KEARIFAN DAKWAH
Komunikasi
antar budaya adalah komunikasi antar pribadi yang dilakukan oleh mereka yang
berbeda latar belakang kebudayaannya. Budaya-budaya yang berbeda memiliki
sistem nilai yang berbeda dan karenanya ikut menentukan tujuan hidup yang
berbeda. Cara berkomunikasi sangat bergantung pada budaya: bahasa, aturan, dan
norma masing-masing . Komunikasi dan kebudayaan merupakan dua konsep yang tidak
dapat dipisahkan. Keduanya memperhatikan pada variasi langkah dan cara manusia
berkomunikasi melintasi komunitas manusia atau kelompok sosial. Alo liliweri
dalam buku “Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya” menjelaskan tentang
komunikasi antar budaya yaitu merupakan interaksi dan komunikasi antar pribadi
yang dilakukan oleh beberapa orang yang memilki latarbelakang kebudayaan yang
berbeda. Komunikasi merupakan hal yang berhubungan dengan perilaku manusia dan
kepuasan terpenuhinya kebutuhan berinteraksi dengan manusia
lainnya. Setiap orang
membutuhkan hubungan social dengan orang lainnya dan kebutuhan ini dapat
terpenuhi dengan pertukaran pesan yang berfungsi sebagai jembatan untuk mempersatukan
manusia yang tanpa komunikasi akan terisolasi
A.
Strategi Dakwah dalam Budaya
Budaya
merupakan suatu konsep yang membangkitkan minat, sistem budaya merupakan
kesatuan gagasan atau ide yang bersifat kognitif sebagai pendorong dan pemberi
control terhadap perilaku masyarakat dalam melaksanakan tindakan kebudayaan.
Sehingga dapat diketahui bahwa antara manusia dengan budaya merupakan dua
komponen yang bersatu, tidak bisa dipisahkan. Karena jika manusia hidup, maka
budaya itu akan muncul dengan sendirinya. Hubungan antara budaya dengan dakwah
terletak pada inti pembahasannya. Budaya dan dakwah sama – sama membahas
tentang manusia dengan segala budaya yang dimilikinya. Sehingga, dakwah Islam
mempunyai kaitan simbiosis dengan budaya, di mana nilai-nilai Islam dapat
dipadukan. Namun membutuhkan konsep dakwah yang strategis, melalui pengelolaan
secara professional yang mampu mengakomodasi segala permasalahan sosial.
Sebagai
media, budaya mempunyai fungsi yang mengarah pada pencapaian kesadaran kualitas
keberagaman Islam yang mampu membentuk sikap dan perilaku Islami yang tidak
menimbulkan gejolak sosial, tetapi justru menambah perkembangan sosial.
Sedangkan sebagai sasaran dakwah, budaya berperan dalam pengisian makna dan
nilai-nilai Islami yang integratif ke dalam segala jenis budaya yang
dikembangkan Dakwah merupakan sebuah proses transformasi nilai-nilai ajaran
Islam kedalam masyarakat, oleh karena itu dakwah tidak akan pernah berhenti
untuk berinteraksi dengan budaya dari masyarakat itu sendiri. Terdapat konsep
dakwah yang mengedepankan cara-cara simpatik, bijaksana dan lebih humanis.
Hakikatnya
memandang dakwah antar budaya sebagai sebuah proses berpikir dan bertindak
secara dialektis dengan segala unsur-unsur dakwah dan budaya yang
melingkupinya, demi tujuan dakwah, yakni menciptakan sebuah masyarakat Islam.
Strategi dakwah antar budaya merupakan upaya aktif untuk menyatukan ide pikiran
dan gerakan-gerakan dakwah dengan mempertimbangkan keragaman sosial budaya yang
melekat pada masyarakat. Strategi ini membutuhkan perencanaan matang dan bijak
tentang dakwah Islam secara rasional untuk mencapai tujuan Islam dengan
mempertimbangkan budaya masyarakat, baik segi materi dakwah, metodologi maupun
lingkungan tempat dakwah berlangsung
B.
Kearifan Dakwah
Dakwah
merupakan sebuah proses transformasi nilai-nilai ajaran Islam kedalam
masyarakat, oleh karena itu dakwah tidak akan pernah berhenti untuk
berinteraksi dengan budaya dari masyarakat itu sendiri. Terdapat konsep dakwah
yang mengedepankan cara-cara simpatik, bijaksana dan lebih humanis (Pimay,
2005. 45). Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, kini telah diwarnai oleh
mobilitas sosial yang sangat tinggi. Terjadi akulturasi (percampuran budaya)
dan transkulturasi (tarik menarik antar budaya), sejalan dengan kemajuan
tekonologi dan perkembangan ilmu pengetahuan. Perkembangan yang spektakuler
adalah pada teknologi komunikasi, yang kemudian sangat mempengaruhi pola dakwah
masa kini. Secara tematik, ada beberapa jenis kegiatan dakwah di masyarakat.
Sebagian adalah pendalaman pengetahuan agama yang dilakukan secara rutin dan
terjadwal. Sebagian lagi adalah mengusung tema tertentu yang melekat dengan
pelaksanaan peringatan hari besar Islam, menyongsong event nasional dan lainya.
Seperti pendekatan sosial dan budaya yang diterima oleh masyarakat luas.
Memperhatikan ruang dan waktu, topik-topiknya aktual, menyentuh kebutuhan dasar
mad’u dan isu-isu terkini dalam masyarakat.
Teori-teori
dakwah antar budaya berusaha mengetahui karakter budaya suatu masyarakat
merupakan kunci utama dalam memahami dan mengembangkan dakwah antar budaya.
Rumusan konseptual hasil pengamatan terhadap proses pelaksanaan dakwah baik
diterima atau ditolak oleh mad’u. Menurut Acep Aripudin diperlukan beberapa
teori untuk membantu mengamati fenomena dakwah dari sisi analisis ilmu sosial,
yaitu:
1.
Resistance
theory (teori resistensi) atau teori
penolakan.
Dasar
asumsi teori ini adalah bahwa setiap aktivitas dakwah akan selalu menghadapkan
variabel da’i dan mad’u. Ketika interaksi terjadi pertentangan bahkan sikap dan
respons penolakan tidak terelakan khususnya penolakan dari mad’u. Penolakan
tersebut adalah konsekuensi logis akibat proses difusi budaya dari budaya yang
berbeda. Da’i menyampaikan pesan-pesan dakwah yang termasuk baru bagi komunitas
masyarakat tertentu. Maka budaya baru itu jelas mengancam eksistensi budaya
lama yang telah dipeluk masyarakat sejak lama yang sudah berakar di
kehidupannya. Umumnya mad’u menganggap budaya baru itu aneh bahkan menyalahkan.
Budaya baru itu terkadang berbentuk gagasan, teori, dan tindakan yang
teraktualisasi dalam proses interaksi masyarakat. Apabila gagasan-gagasan baru
itu tidak memiliki landasan kuat dan tidak tersosialisasikan dalam pengalaman
hidup, maka budaya baru itu mendapat dukungan dari komponen masyarakat dan
terisolasi secara terus-menerus maka perlahan-lahan budaya baru itu, apa pun
bentuknya akan diterima masyarakat.
2.
Acculturation
theory (teori akulturasi) atau teori
percampuran.
Era
globalisasi tak hanya berpengaruh terhadap pola komunikasi dan sisitem
informasi, lebih dari itu, konsekuensi terjadinya pembauran budaya global, baik
ranah fisik maupun mental. Sarana tekhnologi informasi dan transportasi telah
mempermudah hubungan antar budaya semakin cepat dan kuat. Dalam era informasi,
hubungan antarmanusia tak hanya sebatas satu wilayah antarnegara, tetapi
mencakup manusia sejagat. Kemudahan hubungan (relasi) dan interaksi antarsesama
manusia dan berbagai komponen budaya menjadi bagian dari hubungan dalam dakwah
antar budaya. Dari landasan teori ini, percampuran budaya karena interaksi
manusia akan kehadiran bentuk budaya baru merupakan keniscayaan. Setiap
manusia, komponen bangsa penghuni bumi ini memiliki kebudayaan, bahkan
kebudayaan unggulan masing-masing anggota masyarakat untuk saling tukar secara
terus-menerus dalam proses kehidupannya
3.
Receptie
theory (teori resepsi).
Menerima
sepenuhnya atau menerima sebagian gagasan budaya yang lain adalah landasan
utama teori ini. Penerimaan bisa terjadi karena gagasan dan budaya baru itu
dianggap lebih baik dan menjanjikan terhadap perbaikan nasib hidup masyarakat.
Fakta sejarah pengalaman ideal suatu masyarakat sering menjadi sandaran utama
proses penerimaan terhadap gagasan-gagasan dan budaya baru dalam teori resepsi.
Kondisi sosial masyarakat akan tampak lebih harmoni dan berjalan lebih
terkendali karena terjadi kesepahaman dan atau paksaan.
4.
Complementery
theory (teori komplementer)
Terjadi
proses pertukaran antar budaya di dunia berjalan dengan cepat sehingga
memungkinkan terjadi gesekan dan perpaduan budaya-budaya tersebut. Pada
kenyataannya tak sepenuhnya suatu budaya baru/budaya lain dapat diterima pihak
suatu masyarakat dengan mulus bahkan bisa terjadi penolakan. Akan tetapi lambat
laun sebagian budaya luar dan baru itu diterima, bahkan dijadikan model dalam
hubungan interaksi antar masyarakat. Antara budaya baru suatu masyarakat dan
budaya lainnya bukan saling berbenturan (clash culture), tetapi menjadi budaya
yang saling mengisi (complementary culture), Dengan teori-teori di atas, maka
akan lebih membantu mengenali
A. Kesimpulan
Dari uraian pada tulisan ini, dapat disimpulkan bahwa
prinsip-prinsip dakwah antarbudaya adalah pedoman dasar dalam menyampaikan
dakwah pada masyarakat yang terdiri dari berbagai macam budaya, sehingga dakwah
yang disampaikan kepada mereka dapat diterima. Perbedaan yang ada dalam
kehidupan manusia seperti perbedaan budaya bukan menjadi penghalang dalam
pelaksanaan dakwah, bahkan bisa menjadi bahan materi dakwah dengan mengupayakan
agar budaya yang berkembang di tengah-tengah masyarakat tidak bertentangan
dengan nilai-nilai Islam, dengan berpedoman pada prinsip-prinsip dakwah yang
telah diuraikan.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Ali.
Antropologi Dakwah. Cirebon: KPI Press. 2004.
Acep Aripudin, Dakwah
Antarbudaya, PT Remaja Rosdakarya,
Bandung, 2012.
Ahmad, A. “Dakwah
Islam dan Perubahan Sosial: Suatu Kerangka Pendekatan dan Permasalahan” Dakwah
dan Perubahan Sosial” I. Yogyakarta: Bima Putra. 1993
Alo Liliweri, Dasar-dasat komunikasi antar budaya.
Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2011.
Alo liliweri, Makna
Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya, Yogyakarta: LKiS Yogyakarta, 2007.
Arifudin, Acep
dan Sambas. Dakwah Damai, Pengantar Dakwah Antar Budayai,
Bandung: PT. Remaja RosdaKarya,2007.
Qardhawi, Yusuf..
Fatwa-Fatwa, Kontemporer Jilid 2, Jakarta: Gema Insani Press. 1996.
Aziz, A. M. Dakwah
Pemberdayaan Masyarakat Paradigma Aksi Metodologis. Yogyakarta: Pustaka
Pesantren. 2005.
Bachtiar
Effendy, Masyarakat Agama dan Pluralisme Keagamaan: Perbincangan Mengenai
Islam, Masyarakat Madani dan Etos Kewirausahaan, Yogyakarta: Galang Press,
2001.
Burhan Bungin, Sosiologi
Komunikasi: Teori, Paradigma dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat,
Cet. IV; Jakarta:Kencana Prenada Group, 2009
Didin Hafidhuddin, Dakwah Aktual, Jakarta: Gema Insani,
1998
Harahap, Syahrin, Teologi
Kerukunan Jakarta : Prenada Media Group, 2011
Koentjaraningrat.
Sejarah Teori Antropologi II. Jakarta: UI Press 2007
Liliweri, Alo. Komunikasi Verbal dan
Nonverbal. Bandung: PT Citra Aditya Bakti.1994
Mahfud, S. Nuansa
Fiqih Sosial. Yogyakarta: LKiS. 2003
Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah,Jakarta
: Prenada Media, 2004
Mohammad, Sholehi, Komunikasi Lintas Budaya,
Bandung : Simbiosa Rektama Media, 2015.
Mulyana, Deddy & Jalaluddin
Rakhmat (ed), Komunikasi Antar Budaya, Panduan Berkomunikasi dengan
Orang-Orang Berbeda Budaya, Bandung : Remaja Rosdakarya, 2005
Mulyana, Deddy, Komunikasi Antar Budaya, Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2005.
Pimay, Wafiah
Awaludin, Sejarah Dakwah. Semarang: Rosail. 1996.
Qardhawi,
Yusuf. Fatwa-Fatwa, Kontemporer Jilid 2, Jakarta: Gema Insani Press 2005
Rakhmat, Jalaluddin, Psikologi
Komunikasi, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005.
Sa‟id Bin
Ali bin Wahif al-Qahtani, Al-Hikmah fi al-Da’wah ila Allah Ta’ala, terj.
Mansyur Hakim, Dakwah Islam Dakwah Bijak, Cet. I Jakarta: Gema Insani
Press, 1994.
Soekanto,
Soerjono. Sosiologi Suatu Pengantar , Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
2009.
Suranto, Komunikasi
Antar Budaya, Yogyakarta:Graha Ilmu, 2010
Jurnal
Ahmad,
Nur. Mewujudkan Dakwah Antar Budaya dalam Perspektif Islam. AT-TABSYIR:
Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam, [S.l., v.3 n.1,p.21-40, januari. 2016.
Eko Saputro, Komunikasi Antarbudaya
Etnis Lokal Dengan Etnis Pendatang: Studi Pada Mahasiswa/I Fakultas Adab Dan
Ilmu Budaya Uin Sunan Kalijaga Yogyakarta Jurnal Ilmu Komunikasi Vol. 8, No. 2,
Desember 2019
Fachrur.Rozi,“Kontroversi
Dakwah Inklusif”dalam Jurnal Ilmu Dakwah, Vol. 27, No.1, Januari-Juni, Fakultas
Dakwah IAIN Walisongo Semarang, 2007
H. Baharuddin Ali, PRINSIP-PRINSIP
DAKWAH ANTARBUDAYA . dalam Jurnal Berita Sosial. Edisi I. Desember 2013
Heryadi, Hedi dan Hana Silvana.
2013. Komunikasi Antar Budaya dalam Masyarakat Multikultural. Kajian
Komunikasi. Volume 1. Nomor 1
Muzaki.
2017. Dakwah Islam dan Kearifan Budaya Lokal. Jurnal Dakwah dan
Komunikasi. Vol. 8. No. 1.
Tim Southphommanase,
Grounding Multikultural Citizenship: From Minority Right to Civic Pluralism,
dalam Journal Of Intercultural Studies, (Routlege Taylor and Francis Group,
2005), Vol. 26., h. 401.
Zaprulkhan, Dakwah Multikultural,
Jurnal Dakwah dan Pengembangan Sosial Kemanusiaan Vol. 8, no. 1 (2017)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar