Senin, 28 Juni 2021

DAKWAH MULTIKULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA (mini book)

 

DAKWAH MULTIKULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA

 

Makalah Ini Dibuat Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah

 




 

 

Disusun oleh:

Widya Meilis Rusandi   (B01219503)

 

Dosen Pembimbing:

Abu Amar Bustomi, M.Si

 

Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel

Surabaya

2021


KATA PENGANTAR

 

Alhamdulillahirobbil ‘Alamin segala puji bagi Allah untuk segala nikmat yang diberikan, yakni keindahan dan ketentraman Islam. Segala puji bagi memamapukan hati untuk berusaha istiqomah berada di jalan Islam yang lurus meski halangan menentang di depan jalan. Sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul Dakwah Multikultural Dan Komunikasi Lintas Budaya

     Saya ucapkan terimakasih kepada Abu Amar Bustomi, M.Si selaku dosen pengampuh mata kuliah dakwah multikultural dan komunikasi lintas budaya, yang telah memberikan pengarahan dalam penyusunan makalah ini. Dan saya menyadari akan kekurangan dalam makalah saya. Karena itu, saran dan kritik yang saya harapkan demi perbaikan makalah ini. Semoga makalah saya dapat bermanfaat bagi para pembaca semua.                             

Surabaya, 28 Juni  2021

 

 

Widya Meilis Rusandi  

 



Era Globalisasi ini, perubahan sosial masyarakat tidak dapat dielakkan lagi. Salah satu faktor utama yang menjadi perubahan dalam sosial masyarakat adalah sentuhan budaya (cultural encounters) baik dalam maupun luar Budaya akan selalu mengalami perubahan seiring dengan perkembangan zaman. Apalagi di zaman modern ini, pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang komunikasi membuat orang lebih mudah mengenal budaya orang lain dari berbagai latarbelakang budaya yang berbeda-beda. Tidak hanya mencakup lokal, namun antar daerah, wilayah, maupun antar negara.

Terutama, ini terjadi pada masyarakat perkotaan yang memiliki latarbelakang kebudayaan yang berbeda-beda. Hal ini membuat masyarakat semakin terbuka, saling mengenal, dan saling mempelajari satu dengan yang lainnya. Lebih lanjut lagi saling mengakulturasi antar budaya yang berbeda-beda. Berbagai cara dan pendekatan yang manusia lakukan untuk membangun komunikasi antarbudaya. Artinya, komunikasi yang mereka lakukan pada orang lain maupun kelompok lain adalah sebuah pertukaran kebudayaan, perpaduan dan akulturasi . Individu yang memasuki lingkungan baru berarti melakukan kontak antarbudaya, maka komunikasi antarbudaya menjadi hal yang tidak terelakan. Dengan demikian, komunikasi antarbudaya menjadi kewajiban yang harus dilakukan oleh seseorang untuk mengenal, mempelajari, dan sampai pada perpaduan antarbudaya.

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa pengertian ruang lingkup dakwah antar Budaya?

2.   Apa pedoman dakwah dalam kajian pola komunikasi lintas budaya ?

3.      Bagaimana ciri-ciri hambatan komunikasi lintas budaya dalam dakwah multikultural modern

4.   Apa manfaat pengetahuan budaya dan kearifan dakwah?

C.   Tujuan Penulisan

1    Mengetahui pengertian ruang lingkup dakwah antar Budaya?

2.      Mengetahui pedoman dakwah dalam kajian pola komunikasi lintas budaya ?

3.   Mengetahui ciri-ciri hambatan komunikasi lintas budaya dalam dakwah multikultural modern?

4.      Memahami manfaat pengetahuan budaya dan kearifan dakwah?
 
 
RUANG LINGKUP DAKWAH ANTAR BUDAYA

Manusia adalah makhluk yang berbudaya, manusia secara fisik hampir tak memiliki perbedaan yang mencolok antara satu dengan yang lainnya. Kemudian dakwah merupakan kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus terhadap objek dakwah. Dari masa ke masa kegiatan  dakwah selalu mengalami perubahan dengan kondisi budaya dan situasi lingkungan. Munculnya permasalahan dalam dakwah semakin efektif, apalagi pada zaman yang modern seperti sekarang ini. Para da’i dituntut harus bisa mengetahui gambaran dakwah atau materi yang mengandung berbagai keterangan, informasi, dan data yang dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk menyusun suatu rencana kegiatan dakwah secara sistematis dan terperinci tentang daerah yang  nantinya  akan  mewujudkan  dakwah antar budaya oleh sang da’i. 

A.    Pengertian Dakwah Antar Budaya

     Dakwah antar budaya merupakan proses dakwah yang mempertimbangkan keragaman budaya antar da’i (subjek dakwah) dan mad’u (objek dakwah), dan keragaman penyebab terjadinya gangguan interaksi pada tingkat antar budaya, agar pesan dakwah dapat tersalurkan, dengan tetap terciptanya situasi damai.

   Sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari- hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda benda diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku, bahasa, pearlatan hidup, organisasi sosial, religi, seni dan lain lain, yang kesemuanya ditunjukkan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan masyarakat sehingga dakwah kita walaupun berbeda budaya akan selalu tetap terjaga.

    Seseorang atau sekelompok orang akan berubah pikiran, keyakinan, sikap dan perilakunya ke arah yang lebih positif yaitu ke arah yang sesuai dengan ajaran atau nilai-nilai Islam. Misalnya dari tidak mengenal tuhan ke mengenal Tuhan, dari bertuhan banyak ke Tuhan satu, dari tidak shalat menjadi shalat, dari berperilaku jelek menjadi berperilaku baik, dari kondisi miskin yang pasrah terhadap nasib menjadi sadar dan mau merubah nasib dan sebagainya. Oleh karena itu, dakwah hendaklah dikemas dengan baik sehingga mampu menarik perhatian mad’u, misalnya dengan mendiskusikan nilai-nilai atau ajaran Islam dengan nilai-nilai tradisi atau budaya lokal. Oleh karenanya dibutuhkan aktivitas dakwah agar senantiasa mampu mewujudkan dakwah antar budaya saling rukun, saling menghormati dan menghargai diantara sesama serta mampu menjalin hidup yang toleran dengan kearifan budaya yang ada.

Dakwah antar budaya merupakan sebagai proses dakwah yang mempertimbangkan keragaman budaya antar subjek, objek dakwah serta keragaman penyebab terjadinya gangguan interaksi pada tingkat intra dan antar budaya agar pesan dakwah dapat tersampaikan dengan tetap terpelihara situasi dan kondisi dengan damai. 

B.   Ruang Lingkup Dakwah Antar Budaya

  Dakwah antar budaya merupakan kajian proses berdakwah mengajak seseorang manusia untuk menyampaikan pesan pesan agama islam dan perilaku Islam sesuai dengan konsep dan budaya yang berkembang di masyarakat.

Kajian dakwah antar budaya memiliki ruang lingkup kajian ilmu dakwah yang meliputi :

a.    Mengkaji dasar-dasar tentang adanya interaksi simbolik da’i dengan mad’u yang berbeda latar belakang budaya yang dimilikinya dalam perjalanan dakwah para da’i.

b.    Menelaah unsur-unsur dakwah dengan mempertimbangkan aspek budaya yang berhubungan dengan unsur da’i, pesan dakwah, metode, media, mad’u dan dimensi ruang dan waktu dalam keberlangsungan interaksi berbagai unsur dakwah

c.    Mengkaji tentang karakteristik-karakteristik manusia baik posisinya yang menjadi da’i maupun yang menjadi mad’u melalui kerangka metodologi dalam antropologi.

d.   Mengkaji tentang upaya-upaya dakwah yang dilakukan oleh masing-masing etnis 

e.    Mengkaji problem yang ditimbulkan oleh pertukaran antar budaya dan upaya-upaya solusi yang dilakukan dalam rangka mempertahankan eksistensi jati diri budaya masing-masing

C.    Strategi Dakwah Antar Budaya 

Mengenali tempat, situasi dan kondisi masyarakat terlebih dahulu merupakan langkah awal yang harus dilakukan seorang penceramah (da’i). Hal ini untuk memudahkan strategi yang akan digunakan serta materi dakwah yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Sebab, dalam menentukan sebuah strategi dakwah seorang da’i harus jeli dalam melihat kondisi mad’u, sehingga aktivitas dakwah akan lebih mantap, efisien, dan mengenai sasaran.

Dakwah seperti ini akan lebih efektif. Strategi dakwah litas budaya dapat kita lihat pada sejarah Wali Songo (9 wali) dalam menyebarkan ajaran-ajaran Islam dan mentransformasikan nilai-nilai keislaman kepada masyarakat. Seperti Sunan Kalijaga dalam berdakwah beliau tidak memangkas budaya-budaya yang telah berkembang di tengah-tengah masyarakat. Justru budaya tersebut dijadikan sebagai media penyebaran Islam. Pada masa itu, kultur yang paling diminati masyarakat adalah wayang kulit. Hanya saja pesan-pesan yang terkandung dalam pergelaran wayang kulit tersebut masih kental dengan ajaran-ajaran Hindu. Maka sunan Kalijaga memasukkan nilai-nilai Islami ke dalam cerita wayang kulit tersebut. Sehingga disadari ataupun tidak, masyarakat mulai tertarik dengan ajaran yang dibawa sunan Kalijaga. Dari situlah Islam melebarkan sayapnya.  

Dari proses pelaksanaan dakwah sunan Kalijaga di atas, mengindikasikan kepada kita bahwa tidak semua budaya yang bersumber dari non Islam itu jelek sehingga harus dipangkas sampai habis tapi bagaimana seorang da’i menyelipkan nilai-nilai keislaman di dalamnya. Di sini dibutuhkan kecerdikan seorang da’i. Justru sikap semena-mena terhadap budaya-budaya warisan nenek moyang akan membangkitkan kobaran amarah dari masyarakat setempat yang kemudian mengerucut pada kekacauan dan kehancuran peradaban.

 

BASIS DAN PENDEKATAN DAKWAH MULTIKULTURAL

Menjalankan aktivitas dakwah pada kalangan masyarakat yang multikultur memerlukan cara dan strategi tersendiri. Komunikasi yang baik dan tidak menyudutkan salah satu pihak yang berbeda dapat menjadikan dakwah diterima oleh masyarakat yang heterogen. Tulisan ini mengkaji tentang cara yang digunakan dalam melakukan dakwah pada masyarakat yang berbeda-beda. Kesimpulan dari tulisan ini menjelaskan bahwasannya komunikasi dakwah yang digunakan dalam masyarakat yang multikultural dengan cara pendekatan multikulturalisme dalam dakwah, yakni berusaha untuk mencapai dua hal, yaitu titik temu dalam keragaman, dan toleransi dalam perbedaan.

Gerakan dakwah dituntut untuk mampu berinovasi dan berkreasi dalam rangka adaptasi pada situasi social masyarakat yang kompleks tersebut. Inovasi dan kreasi menjadikan dakwah tumbuh dalam wilayah dan kelembagaan yang beragam

A.    Pengertian Pendekatan Dakwah

  Pendekatan dakwah merupakan titik tolak atau sudut pandang kita terhadap dakwah. Pada umumnya, penentuan pendekatan dakwah didasarkan pada mitra dakwah dan suasana yang melingkupinya. Dalam bahasa lain, pendekatan dakwah harus tertumpu pada pandangan human oriented, dengan menempatkan pandangan yang mulia atas diri manusia sebagai mitra dakwah

Sebagaimana dikutip Ali Aziz mengemukakan tiga pendekatan dakwah, yaitu pendekatan budaya dan bahasa, pendekatan pendidikan, dan pendekatan psikologis.

a.       Pendekatan budaya dan bahasa dalam dakwah adalah penggunaan budaya dan bahasa sebagai alat atau media untuk menyampaikan pesan dakwah, misalnya penggunaan wayang kulit dan bahasa Jawa untuk dakwah pada komunitas Suku Jawa, penggunaan bahasa Betawi dan lenong untuk komunitas Suku Betawi, dan seterusnya.

b.      Pendekatan pendidikan adalah penggunaan pendidikan (ta’lim) sebagai sarana untuk mencerdaskan, mencerahkan masyarakat dari kebodohan dalam bidang ilmu agama dan pengetahuan lainnya. Sarananya bisa melalui mimbar jum’at, majelis ta’lim, penataran, pelatihan, pendidikan formal dan non formal.

c.       Pendekatan psikologis adalah pendekatan dakwah dengan sentuhan psikologis kepada mad’u melalui bimbingan konseling, kunsultasi dalam urusan keluarga, agama, dan lainnya.

B.     Basis Dan Pendekatan Dakwah Multikultural

Multikultural merujuk kepada konsep kebinekaan yang bersifat multi dimensi yang meliputi aspek bahasa, warna kulit, budaya, suku, etnis, bangsa, dan agama. Bila merujuk kepada Al-Qur’an, kita akan menemukan bahwa fakta multikultural umat manusia merupakan kehendak sekaligus sunnatullah bagi kehidupan umat manusia sepanjang sejarah.

Dalam pendekatan terdapat perselisihan dan perbedaan yang terjadi pada masyarakat manusia dapat menimbulkan kelemahan serta ketegangan antar mereka, tetapi dalam kehidupan ini ada perbedaan yang tidak dapat dihindari, yaitu ciri dan tabiat manusia yang pada gilirannya menimbulkan perbedaan-perbedaan dalam banyak hal. Belum lagi perbedaan lingkungan dan perkembangan ilmu yang juga memperluas perbedaan mereka. Ini semua merupakan kehendak Allah Swt. dan tentu diperlukan oleh manusia bukan saja sebagai makhluk sosial, tetapi juga sebagai hamba Allah yang harus mengabdi kepada-Nya dan menjadi khalifah di bumi

Ketika terjadi perbedaan dan ketegangan diantara sesama umat manusia, harus dilakukan dialog untuk mencari kebenaran universal yang memiliki tujuan antara lain: untuk saling mengenal (al-ta’aruf), saling mengerti (al-tafahum), saling mengasihi (al-tarahum) , membangun solidaritas (al-tadhamun), hidup bersama secara damai (al-ta’ayusy al-silmi)

Pendekatan dakwah multikultural mengajukan lima macam pendekatan antara lain :

1.       Berbeda dengan dakwah konvensional yang menempatkan konversi iman sebagai bagian inti dari dakwah, pendekatan dakwah multikultural menilai bahwa dakwah tidak lagi secara eksplisit dimaksudkan untuk mengislamkan umat non muslim.

2.       Dalam ranah kebijakan publik dan politik, dakwah multikultural menggagas ide tentang kesetaraan hak-hak warga negara (civil right), termasuk hak-hak kelompok minoritas.

3.       Dalam ranah sosial, dakwah multikultural memilih untuk mengambil pendekatan kultural ketimbang harakah (salafi jahidy)

4.       Keempat, dalam konteks pergaulan global, dakwah multikultural menggagas ide dialog antar-budaya dan keyakinan (intercultur-faith understanding).

5.       Kelima, terkait dengan program seperti ini dalam poin keempat, para penggagas dakwah multikultural, merasa perlu untuk menyegarkan kembali pehamaman doktrin - doktrin Islam klasik, dengan cara melakukan reinterpretasi dan rekonstruksi paham Islam, sesuai dengan perkembangan masyarakat global-multikultural.

 

TUJUAN, FUNGSI DAN PERANAN DAKWAH DALAM KOMUNIKASI ANTARBUDAYA

Kegiatan dakwah di masyarakat, dan di media massa selama ini, relatif telah responsif, terhadap kondisi masyarakat yang modern. Setidaknya telah berupaya agar pesan-pesan keagamaan yang disampaikan bisa diterima secara baik. Mereka biasa menggunakan berbagai metode dalam berdakwah. Namun masih menjadi pertanyaan besar: apakah substansi dakwah telah menyesuaikan dengan kemajemukan dan  keperbedaan kultur di masyarakat; Apakah kebijakan dakwah multikultur telah terformulasi dengan baik. Demikian juga para da’i sebagai nara sumber atau aktor, supaya mempunyai kemampuan meramu kemajemukan tersebut dengan memperhatikan; isi atau pesan-pesan yang disampaikan, metode penyampaian, narasumber atau da’i yang berperan serta media yang digunakan.

 Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, kini telah diwarnai oleh mobilitas sosial yang sangat tinggi. Terjadi akulturasi (percampuran budaya) dan transkulturasi (tarik menarik antar budaya), sejalan dengan kemajuan tekonologi dan perkembangan ilmu pengetahuan. Perkembangan yang spektakuler adalah pada teknologi komunikasi, yang kemudian sangat mempengaruhi pola dakwah masa kini. Secara tematik, ada beberapa jenis kegiatan dakwah di masyarakat. Sebagian adalah pendalaman pengetahuan agama yang dilakukan secara rutin dan terjadwal. Sebagian lagi adalah mengusung tema tertentu yang melekat dengan pelaksanaan peringatan hari besar Islam, menyongsong event nasional dan lainya.

A.  Pengertian Dakwah

Dakwah merupakan sebuah proses transformasi nilai-nilai ajaran Islam kedalam masyarakat, oleh karena itu dakwah tidak akan pernah berhenti untuk berinteraksi dengan budaya dari masyarakat itu sendiri. Terdapat konsep dakwah yang mengedepankan cara-cara simpatik, bijaksana dan lebih humanis Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, kini telah diwarnai oleh mobilitas sosial yang sangat tinggi. Terjadi akulturasi (percampuran budaya) dan transkulturasi (tarik menarik antar budaya), sejalan dengan kemajuan tekonologi dan perkembangan ilmu pengetahuan. Perkembangan yang spektakuler adalah pada teknologi komunikasi, yang kemudian sangat mempengaruhi pola dakwah masa kini. Secara tematik, ada beberapa jenis kegiatan dakwah di masyarakat. Sebagian adalah pendalaman pengetahuan agama yang dilakukan secara rutin dan terjadwal. Sebagian lagi adalah mengusung tema tertentu yang melekat dengan pelaksanaan peringatan hari besar Islam, menyongsong event nasional dan lainya. Seperti pendekatan sosial dan budaya yang diterima oleh masyarakat luas. Memperhatikan ruang dan waktu, topik-topiknya aktual, menyentuh kebutuhan dasar mad’u dan isu-isu terkini dalam masyarakat.

A.     Peranan Dakwah dalam Komunikais Antar Budaya

Komunikasi antarbudaya artinya suatu proses interaksi antar seorang individu lainnya, dimana kedua belah pihak memiliki latar belakang budaya yang berbeda. Dan pada saat yang sama keduanya saling mempengaruhi sehingga membentuk sikap dan perilaku manusia tersebut. Seperti gerakan dakwah yang dilakukan seorang Da’I kepada mad’unya, diman keduanya memiliki latar belakang budaya berbeda. Dari perbedaan inilah sang Da’I berusaha menjadikan keragaman budaya sebagai salah satu media (sarana) dakwah, agar mad’unya dapat mengintergrasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan budaya mereka.

Islam harus didakwahkan dengan pendekatan adaptif sesuai kondisi sosiokultural umat sehingga penentuan metode, pendekatan, pesan dan media dakwah harus dinamis. Ajaran Islam harus disebarkan secara kreatif, tidak dihadirkan dengan cara-cara yang tradisional, monoton dan bahkan terkesan membosankan. Bahwa Islam harus didakwahkan dengan cara inovatif, artinya para da’i harus membuat terobosan baru agar pesan dakwah yang disampaikan dapat diperankan secara maksimal. Salah satunya dengan menerapkan komunikasi antarbudaya dalam pergerakan dakwah di tengah-tengah masyarakat.

Salah satu faktor gagalnya proses dakwah disebabkan karena pendekatan yang digunakan para da’i dalam berdakwah kurang tepat. Akibatnya umat bukannya semakin dekat dengan Islam, malah semakin menjauh. Perspektif dakwah dan komunikasi memiliki objek dan subjek yang sama, yakni manusia. Pemahaman yang komprehensif terhadap keragaman budaya dan adat istiadat masyarakat sebagai objek dakwah ini akan memudahkan para da’i menentukan metode dan pendekatan dakwah yang tepat sesuai kondisi sosiokultural masyarakat agar tidak terjadi gesekan dengan budaya sosiokultural. Manakala seorang da’i (komunikator) menyampaikan pesannya kepada mad’u (komunikan), diperlukan pendekatan yang tepat agar pesan dakwah, misi dakwah dapat diterima oleh mad’u (komunikan) dengan baik. Dengan demikian, posisi da’i sangat penting dan signifikan dalam pergerakan dakwah Islam.

B.     Tujuan dan Fungsi Komunikasi Lintas Budaya Menurut Para Ahli

Menurut Litvin tujuan dan fungsi dari komunikasi lintas budaya bersifat kognitif atau dan efektif yaitu mempelajari keterampilan komunikasi yang membuat seseorang mampu menerima gaya dan isi dari komunikasi itu sendiri dalam segi fungsi dakwah adalah ilmu yang mengkaji tentang mengajak umat manusia kepada jalan Allah yang dibangun dan dikembangkan dengan metode ilmiah sehingga dapat berfungsi dalam rangka memahami memprediksi menjelaskan dan mengontrol berbagai fenomena dan persoalan yang terkait dengan dakwah.

C.     Tujuan  Komunikasi Lintas Budaya

Tujuan dakwah komunikasi lintas budaya dengan menggunakan metode dakwah yang tidak menghapus budaya atau tradisi lama menjadikan diterimanya ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat menjadikan Islam lebih fleksibel dan mudah diterima oleh semua lapisan masyarakat meskipun memiliki perbedaan antara satu sama lain komunikasi lintas budaya

D.     Fungsi Komunikasi Lintas Budaya

Fungsi dakwah komunikasi lintas budaya

1.      Mengajarkan dan mengenalkan nilai-nilai ajaran Islam kepada budaya masyarakat

2.       Menjelaskan secara sistematis fenomena yang berkembang berkaitan dengan proses dakwah

3.      Menjadi perantara dalam proses komunikasi antarbudaya

4.      Mengawasi praktik komunikasi antarbudaya yang antara komunikator dan komunikan yang berbeda kebudayaan

 Di dalam komunikasi antarbudaya pun juga terdapat fungsi sosial, di antaranya

1.      Pengawasan: Pada umumnya, kegiatan komunikasi antarbudaya terjadi ketika komunikator dan komunikan yang berbeda kebudayaan. Fungsi ini lebih banyak digunakan oleh media masa

2.      Penghubung: Komunikasi antarbudaya ini dapat juga dijadikan sebagai jembatan bagi setiap individu yang memiliki kebudayaan yang berbeda. Biasanya, Beda individu atau lebih akan menyampaikan presepsi mereka yang berbeda-bedaa

3.      Sosialisasi Nilai: Di sini, fungsi komunikasi antar budaya dapat memberikan ajaran dan perkenalan nilai-nilai dari suatu kebudayaan suatu masyarakat lain

4.      Menghibur: Dalam hiburan pun juga ada kegiatan komunikasi antar budaya. Hal ini dapat ditemukan seperti di saat menonton tarian, nyanyian, bahkan drama sekaligus

DAKWAH DALAM KOMUNIKASI ANTAR ETNIK, RAS DAN BANGSA

Faktanya, Indonesia adalah bangsa yang memiliki keragaman suku, bahasa, golongan, warna kulit, dan agama yang menjadi aset bangsa dalam membentuk kerukunan sosial. Dalam studi tentang Teori politik kontemporer disebut juga keanekaragaman masyarakat manusia dalam segala aspeknya masyarakat multikultural. Dalam konteks agama, sebagian umat beragama selalu mensosialisasikannya ajaran agama untuk masyarakat majemuk dengan mengabaikan kemajemukan kehidupan masyarakat dalam segala nya aspek. Di sinilah pentingnya perspektif multikultural perlu dimiliki oleh siapapun yang ingin menyampaikan pesan agama dalam masyarakat multikultural. Dari perspektif multikultural, penyampaian pesan agama atau dakwah membutuhkan seorang da'I untuk memahami keragaman budaya masyarakat dan bersikap positif tentang keragaman.

Dakwah multikultural berarti mengupayakan terciptanya keharmonisan di tengah masyarakat yang majemuk dan tetap bisa mengendalikan diri segala macam perbedaan yang tidak setara  Islam adalah agama dakwah. Islam berkembang di tengah-tengah umat di seluruh dunia melalui khotbah. Keberhasilan dakwah Islam dalam mengajak orang ke jalan yang benar, sebagian karena Islam tidak mendiskriminasi ras, bangsa, etnis dan budaya. Islam berdakwah dalam menghadapi budaya manusia yang beragam, tidak hanya berupa undangan, tetapi memiliki asas yang merupakan pedoman dasar yang mengacu pada kewajiban, tanggapan manusia terhadap panggilan Tuhan, tidak ada unsur paksaan, itu rasional dan penegakan etika dalam menilai hal-hal baik dan buruk menurut ajaran agama (Islam)

A.    Pluralitas Budaya

Pluralitas budaya kadang digunakan dengan istilah multikultural, artinya secara harpiah dengan banyak budaya. Atau kata multikulturalisme yaitu sebagai paham banyak budaya. Suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa bumi ini hanya ada satu (only one world), sementara manusia yang mendiaminya terdiri dari berbagai bangsa, suku, etnis, agama dan budaya. Itulah sebabnya agama, budaya sering muncul dalam bentuk plural. Sebagai implikasinya, maka praktek keberagaman dan budaya seseorang atau masyarakat senantiasa melahirkan pengelompokan-penglompokan.

Era sekarang adalah era pluralism. Hal ini dapat dilihat fenomena yang ada : budaya, agama, keluarga, ras, ekonomi, sosial, suku, pendidikan, bangsa, negara, belum lagi apresiasi politik, semuanya menampakkan wajah yang pluralistis. Samuel P. Hungtinton menyebutkan bahwa pada abad ke-21 akan terjadi sebuah bentuk keanekaragaman yang belum pernah terjadi sebelumnya, dia menyebutkan benturan antara budaya timur dan barat, antara Islam dan Kristen, serta antara modern dan tradisional, hal ini tentunya berpotensi menimbulkan benturan fisik (peperangan).

Jadi hakikat pluralis atau keanekaragaman adalah sebagai fitrah (sifat yang melekat secara alamiah) bagi manusia. Karena Tuhan telah menciptakan manusia dalam keadaan berbeda-beda. Atau dengan kata lain, bahwa sifat alamiah manusia adalah berbeda, baik dalam bentuk fisik, pemikiran dan perbuatan. Maka agama dan budaya manusia tentu juga menjadi berbeda-beda. Oleh sebab itu tidak mengherankan jika sikap saling membela dalam mempertahankan budaya dan tradisi suatu masyarakat tidak hanya pada masyarakat. Primitif yang hidup di hutan, jauh dari keramaian kota seperti suku-suku di Papua dan Kalimantan, tetapi hampir setiap masyarakat menyatu dengan budayanya berhak untuk melestarikannya.

Dengan kemajuan di era teknologi informasi sekarang, batas-batas budaya, baik secara sosiologis maupun geografis sudah sulit untuk dibatasi dan memudahkan untuk berkomunikasi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kenyataan tersebut jelas dapat menimbulkan situasi dan suasana yang kurang menguntungkan bagi sebagian orang, terutama bagi mereka yang terbiasa hidup di lingkungan budaya yang lebih homogen dan mengandalkan mental interaksi hidupnya pada tradisi hegemoni mayoritas. Perbedaan budaya dan pandangan subyektivitas terhadap budaya dan kepentingan yang berbeda-beda sering memicu terjadinya konflik. Karena semakin besar perbedaan budaya antara dua orang semakin besar pula perbedaan persepsi mereka terhadap suatu realitas. Salah satu jalan untuk menyikapinya atas kenyataan pluralitas ini adalah dengan cara dan sikap mengakui perbedaan, kemudian saling mengenal.

B.     Komunikasi antar Budaya

Komunikasi adalah hubungan aktif yang dibangun antara orang melalui bahasa, dan sarana antarbudaya bahwa hubungan komunikatif adalah antara orang-orang dari budaya yang berbeda, di mana budaya merupakan manifestasi terstruktur perilaku manusia dalam kehidupan sosial dalam nasional spesifik dan konteks lokal, misalnya politik, linguistik, ekonomi, kelembagaan, dan profesional.

Adaptasi merupakan hal yang sangat perlu untuk dilakukan dalam kehidupan antarbangsa, antarnegara, maupun antarbudaya. Seseorang dikatakan berhasil berkomunikasi dengan orang yang memiliki budaya berbeda sangat diperlukan suatu adaptasi yang berguna untuk keharmonisan hidup dalam masyarakat.

Seseorang yang hidup dalam masyarakat yang berbeda budaya sangat diperlukan yang namanya adaptasi. Ini berarti, perubahan budaya dari seseorang yang melakukan adaptasi mempunyai perubahan-perubahan budaya dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan budaya yang baru. Adaptasi merupakan sesuatu yang harus bagi seorang pendatang terhadap budaya yang baru. Dengan sebab itu dalam beradaptasi seseorang selain membutuhkan kesiapan mental dan juga memerlukan kesabaran dalam menghadapi keadaan budaya baru untuk bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Akulturasi hanya sebuah bentuk perubahan budaya, yang disebabkan kontak dengan budaya-budaya lain

C.     Interaksi Sosial

Pengertian Interaksi Sosial Manusia terlahir sebagai makhluk sosial, kenyataan tersebut menyebabkan manusia tidak akan dapat hidup normal tanpa kehadiran manusia yang lain. Hubungan tersebut dapat dikategorikan sebagai interaksi sosial. Interaksi sosial adalah hubungan yang terjadi antara manusia dengan manusia yang lain, baik secara individu maupun dengan kelompok

1.      Ciri-Ciri Interaksi Sosial Proses interaksi sosial dalam masyarakat memiliki ciri sebagai berikut

a.       Adanya dua orang pelaku atau lebih

b.      Adanya hubungan timbale balik antar pelaku

c.       Diawali dengan adanya kontak sosial, baik secara langsung.

d.      Mempunyai maksud dan tujuan yang jelas.

2.      Syarat Terjadinya Interaksi Sosial Proses interaksi sosial dalam masyarakat terjadi apabila terpenuhi dua syarat sebagai berikut:

a.       Kontak sosial, yaitu hubungan sosial antara individu satu dengan individu lain yang bersifat langsung, seperti dengan sentuhan, percakapn, maupun tatap muka sebagai wujud aksi dan reaksi.

b.      Komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari seseorang kepada orang lain yang dilakukan secara langsung maupun dengan alat bantu agar orang lain memberikan tanggapan atau tindakan tertentu

D.    Prinsip Dakwah Antar Budaya

Prinsip dakwah antarbudaya dalam tulisan ini dimaksudkan ialah sesuatu yang menjadi pegangan atau acuan prediktif kebenaran yang menjadi dasar berpikir dan bertindak merealisasikan bidang dakwah dengan mempertimbangkan aspek budaya dan keragamannya ketika berinteraksi. Mayoritas atau hampir semua manusia menyadari bahwa keragaman dan perbedaan merupakan sebuah keniscayaan yang harus diterima dan dihadapi, walaupun terkadang sikap yang kurang tepat terhadap keragaman yang ada sering menjadi sumber konflik, jika bukan permusuhan dan peperangan.

Berhenti pada tampakan keragaman dan perbedaan tertentu membuka peluang untuk terjadinya ragam konflik kemanusiaan. Oleh karenanya, manusia dituntut untuk mencari titik-titik tertentu yang memungkinkan adanya titik temu atau paling tidak kebersamaan, sehingga terbuka peluang untuk tumbuhnya sikap toleran dalam menyikapi pluralitas. Dengan demikian, penghayatan dan pengalaman agama yang benar merupakan daya tangkal paling ampuh terhadap provokasi konflik antar agama, etnis dan budaya. Pengamalan agama dalam masyarakat unsur budaya dapat tumbuh dan berkembang melalui dakwah dengan mempertimbangkan aspek budaya.

 

DAKWAH DALAM KAJIAN POLA KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA

Masyarakat Indonesia memiliki berbagai macam keberagaman seperti agama, bangsa ras, bahasa, adat istiadat dan sebagainya. Indonesia terkenal dengan keberagaman budayanya. Budaya adalah suatu konsep yang membangkitkan minat. Secara formal budaya didefinisikan sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, makna dan diwariskan dari generasi ke generasi, melalui usaha individu dan kelompok.

Komunikasi diperlukan untuk mengenal budaya yang satu dengan budaya yang lainnya. Dengan berkomunikasi seseorang dapat memahami perbedaan antar budaya yang satu dengan yang lainnya. Komunikasi dan budaya mempunyai hubungan timbal balik. Budaya menjadi bagian dari perilaku komunikasi, dan komunikasi pun selalu menentukan budaya. Komunikasi antar budaya terjadi jika bagian yang terlibat dalam kegiatan komunikasi membawa latar belakang budaya pengalaman yang berbeda dan mencerminkan nilai yang dianut oleh kelompoknya.

Berkomunikasi merupakan kebutuhan yang fundamental bagi seseorang yang hidup bermasyarakat, tanpa komunikasi tidak mungkin masyarakat terbentuk, sebaliknya tanpa masyarakat, maka manusia tidak mungkin dapat mengembangkan komunikasi. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam hidup manusia selalu berinteraksi dengan sesama serta dengan lingkungan. Manusia hidup berkelompok baik dalam kelompok besar maupun kelompok kecil.

A.    Dakwah Kultural dan Perubahan Sosial

Dakwah Islam menghendaki perubahan masyarakat baik secara individu maupun secara kolektif, untuk mewujudkan perubahan tersebut dibutuhkan upaya yang sungguh-sungguh dan profesional oleh para aktivis dakwah.

Perubahan sosial adalah proses sosial yang dialami oleh anggota masyarakat serta semua unsur-unsur budaya dan sistem-sistem sosial, dimana semua tingkat kehidupan masyarakat secara sukarela atau dipengaruhi oleh unsurunsur eksternal meninggalkan pola-pola kehidupan, budaya dan sistem sosial. Dakwah Dalam Pendekatan Nilai-nilai Kearifan LokalPerubahan sosial terjadi ketika ada kesediaan anggota masyarakat untuk meninggalkan sistem sosial lama dan mulai memilih serta menggunakan pola dan sistem sosial yang baru. Perubahan sosial dipandang sebagai konsep yang mencakup seluruh kehidupan individu, kelompok, masyarakat, negara dan dunia yang mengalami perubahan

Berangkat dari pemahan di atas, maka dakwah kultural setidaknya dapat diklasifikasi dengan tiga tahap yakni:

a.       Pertama, Islam harus disebarkan kepada umat manusia selalu berbasis bil-Hikmah. Artinya bahwa dakwah yang selalu berusaha memahami realitas umat secara totalitas, sehingga da‟i ini akan berusaha menampilkan dakwah yang gemar merangkul bukan memukul, terutama yang terkait dengan nilai-nilai kearifan lokal. Walhasil dengan pendekatan al-Hikmah ini, kemudian seorang da‟i akan mampu menyesuaikan strategi serta model dakwah yang akan dikembangkan kepada umat tersebut

b.      Kedua, Mengamalkan ajaran Islam secara konkrit. Sebagai langkah kedua dalam mendorong peran dakwah terhadap perubahan sosial adalah dengan berusaha mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan nyata di masyarakat secara konsisten. Sebab selama ini ada kesan bahwa semangat untuk mengetahui ajaran agama di masyarakat tidak berbanding lurus dengan semangat mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan ril

B.     Pengertian Komunikasi Lintas Budaya

Menurut Liliweri (2003:9), dalam bukunya yang berjudul Komunikasi Antarbudaya, memberikan definisi komunikasi antarbudaya atau komunikasi lintas budaya sebagai pernyataan diri antarpribadi yang paling efektif antar dua orang yang saling berbeda latar belakang budayanya.

Komunikasi Lintas Budaya dalam pengertian yang lebih luas lagi, merupakan pertukaran pesan yang disampaikan secara lisan, tertulis, bahkan secara imajiner antara dua orang yang berbeda latar belakang budaya

C.    Fungsi Komunikasi Lintas Budaya

Komunikasi lintas budaya memiliki fungsi penting, terutama ketika seseorang mulai menjalin hubungan bilateral, trilateral, atau multilateral. Secara khusus, komunikasi lintas budaya berfungsi untuk mengurangi ketidakpastian komunikasi antarorang, antarsuku, dan antarbangsa yang berbeda budayanya. Ketika memasuki wilayah(daerah) orang lain, seseorang dihadapkan dengan orang-orang yang sedikit atau banyak berbeda, ditinjau dari aspek sosial, budaya, ekonomi dan status lainnya

D.    Prinsip- Prinsip Komunikasi antar Budaya

Makin besar perbedaan antarbudaya, makin besar kesadaran diri (mindfulness) para partisipan selama komunikasi. Ini mempunyai konsekuensi positif dan negatif. Positifnya, kesadaran diri ini barangkali membuat kita lebih waspada. ini mencegah kita mengatakan hal-hal yang mungkin terasa tidak peka atau tidak patut. Negatifnya, ini membuat kita terlalu berhati-hati, tidak spontan, dan kurang percaya diri.

 Prinsip- Prinsip Komunikasi antar Budaya antara lain :

1.      Relativitas Bahasa.

2.      Bahasa sebagai cermin budaya

3.      Mengurangi Ketidakpastian

4.       kesadaran diri dan perbedaan antar budaya

5.      Interaksi awal dan perbedaan antar budaya

6.      Memaksimalkan hasil interaksi

E.     Karakteristik Budaya dan Komunikasi

Ada tiga karakteristik penting dari kebudayaan, yaitu kebudayaan itu dapat dipelajari, kebudayaan itu dapat dipertukarkan, dan kebudayaan itu tumbuh serta berubah (Hebding dan Glick, 1991, hlm. 45).

1.      Kebudayaan itu Dipelajari

Kita sebut kebudayaan itu dapat dipelajari karena interaksi antarmanusia ditentukan oleh penggunaan simbol, bahasa verbal maupun nonverbal. Tradisi budaya, nilai-nilai, kepercayaan, dan standar perilaku semuanya diciptakan oleh kreasi manusia dan bukan sekadar diwarisi secara instink, melainkan melalui proses pendidikan dengan cara-cara tertentu menurut kebudayaan. Setiap manusia lahir dalam suatu keluarga, kelompok sosial tertentu yang telah memiliki nilai, kepercayaan, dan standar perilaku yang ditransmisikan melalui interaksi di antara meraka (sosialisasi).

2.     Kebudayaan itu Dipertukarkan

Di samping dipelajari, kebudayaan itu juga dipertukarkan. Istilah pertukaran merujuk pada kebiasaan individu atau kelompok untuk menunjukkan kualitas kelompok budayanya. Dalam interaksi atau pergaulan antarmanusia setiap orang mewakili kelompoknya lalu menunjukkan kelebihan-kelebihan budayanya dan membiarkan orang lain untuk mempelajarinya. Proses pertukaran budaya dilakukan melalui mekanisme belajar budaya yang mengakibatkan para ibu yang berasal dari Sunda dan Jawa dapat belajar memasak jagung bose (masakan jagung yang bercampur santan kelapa) dan sebaliknya para ibu dari Timor dan Flores belajar membuat oncom dan bajigur dari Sunda.

3.      Kebudayaan Tumbuh dan Berkembang

Setiap kebudayaan terus ditumbuhkembangkan oleh para pemilik kebudayaannya, oleh karena itu ada yang mengatakan bahwa kebudayaan ituterus mengalami perubahan. Oleh karena itu, kita menyebut kebudayaan itu berbuah semakin rinci (kompleks) dan kemudian dikomunikasikan dari satu generasi ke generasi lain. Tenun ikat dari Ended an Lio di Flores mula-mula di tenun dengan benang yang di celupkan ke dalam nila. Akibat perkembangan teknologi industri maka lama kelamaan nila mulai ditinggalkan dan para penenun memakai benang sutera sehingga dapat menghasilkan tenun ikat berkualitas ekspor

 
Mengenal Unsur-Unsur Komunikasi Lintas Budaya Dalam Berdakwah

Dalam dakwah, unsur dakwah meliputi dai, mad’u, metode, materi, media. Dan dalam komunikasi, unsurnya dalah komunikator, komunikan, pesan, media, dan efek. Keduanya hampir sama maknanya, hanya saja dalam unsur dakwah, efek tidak dicantumkan. Namun pasti setiap komunikasi baik dilakukan dengan kemasan dakwah, akan tetap meberikan efek tersendiri. Seorang da’i, dituntut untuk bisa menyampaikan materi kepada mad’u secara gamblang dan dapat diterima oleh mad’u, ini merupakan keharusan. Karena seorang da’i dianggap berhasil apabila ia telah mampu memahamkan mad’u-nya. Dalam komunikasi, hal ini disebut komunikasi efektif. Untuk memenuhi tuntutan tersebut, seorang dai harus bisa memahami kondisi mad’u.

Di sinilah letak pentingnya komunikasi lintas budaya, karena dengan memahami budaya yang ada, maka dakwah dapat dilaksanakan dengan baik. Salah satu metode yang digunakan dalam berdakwah adalah dakwah bil hikmah, dakwah bil hikmah dilakukan dengan cara yang arif dan bijaksana, yaitu melalui pendekatan sedemikian rupa sehingga pihak obyek dakwah mampu melaksanakan dakwah atas kemauannya sendiri, tidak merasa ada paksaan, tekanan, mapun konflik. Inilah yang bisa diterapkan dalam konsep dakwah lintas budaya

 

Aktivitas Komunikasi Lintas Verbal dan Non Verbal dalam Ilmu ad-Dakwah.

Dalam kebanyakan peristiwa komunikasi yang berlangsung, hampir selalu melibatkan penggunaan lambang-lambang verbal dan non verbal secara bersama-sama. Dalam banyak tindakan komunikasi, bahasa nonverbal menjadi komplemen atau pelengkap bahasa verbal. Lambanglambang nonverbal juga dapat berfungsi kontradiktif, pengulangan, bahkan pengganti ungkapan-ungkapan verbal, misalnya ketika seseorang mengatakan terima kasih (perilaku verbal) maka orang tersebut akan melengkapinya dengan tersenyum (perilaku nonverbal). Maka komunikasi tersebut merupakan contoh bahwa perilaku verbal dan perilaku nonverbal bekerja bersama-sama dalam menciptakan makna suatu perilaku komunikasi. Namun, keduanya baik perilaku verbal maupun perilaku nonverbal akan membantu kita dalam menginterpretasi total makna dari pengalaman komunikasi mahasiswa asing dengan mahasiswa lokal.

A.    Perilaku Verbal dalam Komunikasi Proses komunikasi

verbal merupakan kegiatan interaksi penyampaian dan penerimaan pesan-pesan yang dilakukan melalui percakapan dan sarana yang digunakan adalah bahasa dan kata-kata. Bahasa dan kata-kata merupakan bagian penting dalam cara pengemasan pesan-pesan. Salah satu fenomena yang mempengaruhi proses komunikasi antar budaya adalah proses komunikasi verbal. Pada dasarnya, bahasa verbal dan nonverbal tidak terlepas dari konteks budaya. Tidak mungkin bahasa terpisah dari budaya. Setiap budaya mempunyai system bahasa yang memungkinkan orang untuk berkomunikasi dengan orang lain. Budaya dibentuk secara kultural, dan karena itu dia merefleksikan nilainilai dari budaya.

Bahasamenjadi alat utama yang digunakan manusia untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan bahasa dapat dikategorikan sebagai unsur kebudayaan yang berbentuk nonmaterial selain nilai, norma, dan kepercayaan. Simbol atau pesan verbal adalah semua jenis simbol yang menggunakan satu kata atau lebih, bahasa merupakan suatu bagian yang sangat esensial dari manusia untuk menyatakan dirinya maupun tentang dunia yang nyata dalah keyakinan yang naif kalau kita menyederhanakan fungsi bahasa yang seolah-olah hanya menjadi alat untuk menggambarkan pikiran dan perasaan saja, yang lebih penting dari bahasa adalah bagaimana memaknakan symbol atau tanda yang telah diorganisasikan dalam system kebahasaan. Bahasa merupakan medium atau sarana bagi manusia yang berpikir dan berkata tentang suatu gagasan sehingga boleh dikatakan

B.     Perilaku Non Verbal dalam Komunikasi Proses komunikasi

Proses-proses verbal merupakan alat utama untuk pertukaran pikiran dan gagasan, namun proses-proses ini sering dapat diganti oleh proses-proses nonverbal. Menurut Alo LIliweri (1994:139) komunikasi  nonverbal meliputi ekspresi wajah, nada suara, gerakan anggota tubuh, kontak mata, rancangan ruang, pola-pola perabaan, gerakan ekspresif, perbedaan budaya dan tindakan-tindakan nonverbal lain yang tidak menggunakan kata-kata. Dalam proses-proses nonverbal yang relevan dengan komunikasi lintas budaya, terdapat tiga aspek yang sangat berkaitan: perilaku nonverbal yang berfungsi sebagai bentuk bahasa diam, konsep waktu, dan pengaturan ruang.

Perilaku nonverbal seseorang adalah akar budaya seseorang tersebut. Oleh karena itu, posisi komunikasi nonverbal memainkan bagian yang penting dan sangat dibutuhkan dalam interaksi komunikatif di antara hubungan antara komunikasi verbal dengan kebudayaan jelas adanya, apabila diingat bahwa keduanya dipelajari, diwariskan dan melibatkan pengertian-pengertian yang harus dimiliki bersama. Dilihat dari ini, dapat dimengerti mengapa komunikasi nonverbal dan kebudayaan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Perilaku nonverbal merefleksikan banyak polapola budaya yang kiat dibutuhkan melalui proses sosialisasi. Jika perilaku verbal kita hampir secara keseluruhan berbentuk eksplisit dan merupakan proses kognitif, maka perilaku nonverbal kita merupakan spontanitas, ambigu, dan hal-hal lain dibawah control kesadaran dan ketidaksadaran. Ketika skema Hall dan Mehrabian (dalam Gudykunst dan Kim, 1992:79) mengatakan bahwa budaya berbeda dalam hal dari budaya konteks tinggi ke budaya konteks rendah.

C.    Aktivitas Komunikasi Lintas Budaya Verbal & Non Verbal dalam Ilmu ad-Dakwah

Aktivitas verbal adalah bagaimana komunikasi verbal yang biasa dilakukan mahasiswa asing dan mahasiswa lokal sehari-hari. Simbol atau pesan verbal adalah semua jenis symbol yang menggunakan katakata atau lebih untuk berkomunikasi dan suatu system kode verbal disebut bahasa.

Aktivitas  nonverbal dilukiskan dalam frase. Lewat perilaku nonverbal, kita dapat mengetahui suasana emosional seseorang, apakah ia bahagia, bingung atau sedih. Perilaku nonverbal yang berfungsi sebagai bahasa diam, konsep waktu dan penggunaan dan pengaturan ruang. Perilaku nonverbal yang berhubungan dengan komunikasi antar budaya ini  biasanya adalah sentuhan di anggap sebagai bentuk

HAMBATAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA DALAM DAKWAH MULTIKULTURAL MODERN

 Dakwah adalah gerakan mengajak dan mendorong manusia untuk menjadikan Islam agar dapat berfungsi secara actual di dalam kehidupan, tujuannya tidak lain demi kemaslahatan manusia di dunia dan di akhirat. Oleh karena itu, perlu dilakukannya berbagai pendekatan dakwah, metode, dan teknik yang lebih beragam demi mencapai cita-cita dakwah. Salah satu pendekatan fungsional dakwah yang relevan dan konteks masyarakat plural adalah dakwah multicultural. Dakwah multicultural telah dipraktekkan oleh Rasulullah Saw pada zaman dahulu. Dakwah multicultural dimaknai sebagai aktivitas dakwah yang melekat dalam setiap gerak budaya lokal, sehingga dakwah memperoleh kesempatan untuk tumbuh subur seiring gerak laju dinamika budaya masyarakat setempat.

Pada penghujung abad kedua puluh dan memasuki abad dua puluhsatu ini, timbul wacana baru dalam pemikiran dakwah, sebagai respon terhadap perubahan-perubahan besar yang terjadi, misalnya pergeseran pola pemikiran dari modern ke pascamodern. Paradigma baru dakwah ini, dilatarbelakangi terutama oleh dua fenomena baru pascamodern, yakni globalisasi dan perkembangan politik praktis. Baik fenomena globalisasi, maupun perkembangan politik praktis di dunia belakangan ini, masing-masing mengahadpkan persoalan dakwah kontemporer kepada masyarakat majemuk multi budaya dan multi etno-religius. Dari sudut persoalan globalisasi, dakwah dihadapkan kepada persoalan tentang bagaimana caranya menyampaikan pesan-pesan Islam dalam konteks masyarakat global yang ditandai dengan makin sempitnya sekat-sekat antar kultur dan sekat masyarakat etnoreligius.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dibutuhkan adanya komunikasi lintas budaya dalam kegiatan dakwah multicultural. Akan tetapi,  dalam setiap kegiatan komunikasi pasti memiliki hambatan di dalamnya, termasuk komunikasi lintas budaya dalam kegiatan dakwah multicultural.

A.    Hambatan- Hambatan Dalam Komunikasi Lintas Budaya

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dibutuhkan adanya komunikasi lintas budaya dalam kegiatan dakwah multicultural. Akan tetapi,  dalam setiap kegiatan komunikasi pasti memiliki hambatan di dalamnya, termasuk komunikasi lintas budaya dalam kegiatan dakwah multikultural

Hambatan – hambatan dalam komunikais linytas budaya terdiri dari:

a.       Etnosentrisme

Etnosentrisme merupakan “paham” dimana para penganut suatu kebudayaan atau suatu kelompok suku bangsa merasa lebih superior daripada kelompok lain di luar mereka. Hal ini membangkitkan sikap “kami” dan “mereka”. Kecenderungan etnosentrisme adalah melihat budaya yang kita miliki sebagai pusat alam semesta.

b.      Stereotipe

Stereotipe merupakan kategorisasi atas suatu kelompok secara serampangan dengan mengabaikan perbedaan-perbedaan individual. Kelompok-kelompok ini mencakup: kelompok ras, kelompok etnik, kaum tua, berbagai pekerjaan profesi, atau orang dengan penampilan fisik tersentu. Stereotope tidak memandang individu-individu dalam kelompok tersebut sebagai orang atau individu yang unik.

c.       Prasangka

Suatu kekeliruan persepsi terhadap orang yang berbeda adalah prasangka, suatu konsep yang sangat dekat dengan stereotipe. Prasangka adalah sikap yang tidak adil terhadap seseorang atau suatu kelompok. Rasialisme

d.      Rasialisme

merupakan suatu penekanan pada rasa tau menitikberatkan pertimbangan rasial. Dalam ideologi separatis rasial, istilah ini digunakan untuk menekankan perbedaan sosial dan budaya antar ras. Istilah ini dapat juga digunakan sebagai sinonim rasisme. Jika istilah rasisme umumnya merujuk pada sifat individu dan diskriminasi institusional, rasialisme biasanya merujuk pada suatu gerakan sosial atau politik  yang mendukung teori rasisme

e.       Jarak Sosial

Jarak sosial berbicara tentang kedekatan antar kelompok secara fisik atau sosial. Jarak sosial berbeda dengan stratifikasi sosial atau pelapisan sosial, jarak sosial mengacu pada perbedaan tingkat peradaban antar kelompok yang satu dengan kelompok lainnya, bukan perbedaan kekayaan, kekuasaam, atau ilmu pengetahuan. Adanya jarak sosial ini dapat menghambat terjadinya komunikasi lintas budaya.

f.       Persepsi

Persepsi merupakan proses yang dilakukan oleh seseorang untuk mencoba mengetahui dan memahami orang lain.

g.      Sikap

Sikap merupakan hasil evaluasi dari berbagai aspek terhadap sesuatu. Sikap seseorang terhadap budaya lain, menentukan perilakunya terhadap budaya tersebut. Sikap negatif terhadap budaya lain akan menyebabkan komunikasi lintas budaya sulit berhasil.

h.      Atribusi

Atribusi merupakan proses identifikasi penyebab perilaku orang lain yang dilakukan oleh seorang untuk menetapkan posisi dirinya. Kebudayaan lain, akan diidentifikasi berdasarkan kebudayaan sendiri, apabila atribut yang dimiliki kebudayaan lain berbeda, maka kebudayaan lain dapat dipandang negatif.

i.        Bahasa

Bahasa merupakan sebuah kombinasi dari sistem symbol dan aturan yang menhasilkan berbagai pesan dengan arti yang tak terbatas. Antara budaya yang satu dengan yang lainnya, bahasa menjadi pembeda yang sangat signifikan. Kata yang sama bisa memiliki arti yang berbeda, kesalahan penggunaan bahasa bisa jadi sangat fatal akibatnya.

j.        Paralinguistic

Paralinguistic merupakan gaya pengucapan seseorang, meliputi tinggi rendahnya suara, tempo bicara, atau dialek. Budaya yang berbeda memiliki paralinguistic yang berbeda, misalnya orang solo yang berbicara pelan dan lambat berbeda dengan orang medan yang berbicara dengan lantang dan cepat

k.      Misinterpretation

Misinterpretation atau salah tafsir merupakan kesalahan penfsiran yang umumnya disebabkan oleh persepsi yang tidak akurat. Hal ini bisa disebabkan karena kesalahan persepsi mengenai intonasi suara, mimic wajah, dkk

f.     Motivasi

Motivasi disini berkaitan dengan tingkat motivasi lawan bicara dalam melakukan komunikasi lintas budaya. Motivasi yang rendah akan menjadi hambatan komunikasi lintas budaya.

g.        Experiential

Experiental atau pengalaman hidup tiap individu berbeda, dan hal tersebut akan mempengaruhi persepsi serta cara pandang seseorang terhadap sesuatu.

h.    Emotional

Emotional disini berkaitan dengan emosi pelaku komunikasi. Jika emosi komunikan sedang buruk, komunikasi lintas budaya tidak akan dapat berjalan dengan efektif

i.      Competition

Competiton atau kompetisi terjadi ketika komunikan berkomunikasi sembari melakukan kegiatan lain, misalnya sedang menyetir, menelopon, atau lainnya. Hal ini menyebabkan komunikasi lintas budaya tidak akan berjalan secara maksimal

.

BUDAYA DAN KEARIFAN DAKWAH

Komunikasi antar budaya adalah komunikasi antar pribadi yang dilakukan oleh mereka yang berbeda latar belakang kebudayaannya. Budaya-budaya yang berbeda memiliki sistem nilai yang berbeda dan karenanya ikut menentukan tujuan hidup yang berbeda. Cara berkomunikasi sangat bergantung pada budaya: bahasa, aturan, dan norma masing-masing . Komunikasi dan kebudayaan merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya memperhatikan pada variasi langkah dan cara manusia berkomunikasi melintasi komunitas manusia atau kelompok sosial. Alo liliweri dalam buku “Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya” menjelaskan tentang komunikasi antar budaya yaitu merupakan interaksi dan komunikasi antar pribadi yang dilakukan oleh beberapa orang yang memilki latarbelakang kebudayaan yang berbeda. Komunikasi merupakan hal yang berhubungan dengan perilaku manusia dan kepuasan terpenuhinya kebutuhan berinteraksi dengan manusia lainnya. Setiap orang membutuhkan hubungan social dengan orang lainnya dan kebutuhan ini dapat terpenuhi dengan pertukaran pesan yang berfungsi sebagai jembatan untuk mempersatukan manusia yang tanpa komunikasi akan terisolasi

A.    Strategi Dakwah dalam Budaya

Budaya merupakan suatu konsep yang membangkitkan minat, sistem budaya merupakan kesatuan gagasan atau ide yang bersifat kognitif sebagai pendorong dan pemberi control terhadap perilaku masyarakat dalam melaksanakan tindakan kebudayaan. Sehingga dapat diketahui bahwa antara manusia dengan budaya merupakan dua komponen yang bersatu, tidak bisa dipisahkan. Karena jika manusia hidup, maka budaya itu akan muncul dengan sendirinya. Hubungan antara budaya dengan dakwah terletak pada inti pembahasannya. Budaya dan dakwah sama – sama membahas tentang manusia dengan segala budaya yang dimilikinya. Sehingga, dakwah Islam mempunyai kaitan simbiosis dengan budaya, di mana nilai-nilai Islam dapat dipadukan. Namun membutuhkan konsep dakwah yang strategis, melalui pengelolaan secara professional yang mampu mengakomodasi segala permasalahan sosial.

Sebagai media, budaya mempunyai fungsi yang mengarah pada pencapaian kesadaran kualitas keberagaman Islam yang mampu membentuk sikap dan perilaku Islami yang tidak menimbulkan gejolak sosial, tetapi justru menambah perkembangan sosial. Sedangkan sebagai sasaran dakwah, budaya berperan dalam pengisian makna dan nilai-nilai Islami yang integratif ke dalam segala jenis budaya yang dikembangkan Dakwah merupakan sebuah proses transformasi nilai-nilai ajaran Islam kedalam masyarakat, oleh karena itu dakwah tidak akan pernah berhenti untuk berinteraksi dengan budaya dari masyarakat itu sendiri. Terdapat konsep dakwah yang mengedepankan cara-cara simpatik, bijaksana dan lebih humanis.

Hakikatnya memandang dakwah antar budaya sebagai sebuah proses berpikir dan bertindak secara dialektis dengan segala unsur-unsur dakwah dan budaya yang melingkupinya, demi tujuan dakwah, yakni menciptakan sebuah masyarakat Islam. Strategi dakwah antar budaya merupakan upaya aktif untuk menyatukan ide pikiran dan gerakan-gerakan dakwah dengan mempertimbangkan keragaman sosial budaya yang melekat pada masyarakat. Strategi ini membutuhkan perencanaan matang dan bijak tentang dakwah Islam secara rasional untuk mencapai tujuan Islam dengan mempertimbangkan budaya masyarakat, baik segi materi dakwah, metodologi maupun lingkungan tempat dakwah berlangsung

B.     Kearifan Dakwah

Dakwah merupakan sebuah proses transformasi nilai-nilai ajaran Islam kedalam masyarakat, oleh karena itu dakwah tidak akan pernah berhenti untuk berinteraksi dengan budaya dari masyarakat itu sendiri. Terdapat konsep dakwah yang mengedepankan cara-cara simpatik, bijaksana dan lebih humanis (Pimay, 2005. 45). Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, kini telah diwarnai oleh mobilitas sosial yang sangat tinggi. Terjadi akulturasi (percampuran budaya) dan transkulturasi (tarik menarik antar budaya), sejalan dengan kemajuan tekonologi dan perkembangan ilmu pengetahuan. Perkembangan yang spektakuler adalah pada teknologi komunikasi, yang kemudian sangat mempengaruhi pola dakwah masa kini. Secara tematik, ada beberapa jenis kegiatan dakwah di masyarakat. Sebagian adalah pendalaman pengetahuan agama yang dilakukan secara rutin dan terjadwal. Sebagian lagi adalah mengusung tema tertentu yang melekat dengan pelaksanaan peringatan hari besar Islam, menyongsong event nasional dan lainya. Seperti pendekatan sosial dan budaya yang diterima oleh masyarakat luas. Memperhatikan ruang dan waktu, topik-topiknya aktual, menyentuh kebutuhan dasar mad’u dan isu-isu terkini dalam masyarakat.

Teori-teori dakwah antar budaya berusaha mengetahui karakter budaya suatu masyarakat merupakan kunci utama dalam memahami dan mengembangkan dakwah antar budaya. Rumusan konseptual hasil pengamatan terhadap proses pelaksanaan dakwah baik diterima atau ditolak oleh mad’u. Menurut Acep Aripudin diperlukan beberapa teori untuk membantu mengamati fenomena dakwah dari sisi analisis ilmu sosial, yaitu:

1.      Resistance theory (teori resistensi) atau teori penolakan.

Dasar asumsi teori ini adalah bahwa setiap aktivitas dakwah akan selalu menghadapkan variabel da’i dan mad’u. Ketika interaksi terjadi pertentangan bahkan sikap dan respons penolakan tidak terelakan khususnya penolakan dari mad’u. Penolakan tersebut adalah konsekuensi logis akibat proses difusi budaya dari budaya yang berbeda. Da’i menyampaikan pesan-pesan dakwah yang termasuk baru bagi komunitas masyarakat tertentu. Maka budaya baru itu jelas mengancam eksistensi budaya lama yang telah dipeluk masyarakat sejak lama yang sudah berakar di kehidupannya. Umumnya mad’u menganggap budaya baru itu aneh bahkan menyalahkan. Budaya baru itu terkadang berbentuk gagasan, teori, dan tindakan yang teraktualisasi dalam proses interaksi masyarakat. Apabila gagasan-gagasan baru itu tidak memiliki landasan kuat dan tidak tersosialisasikan dalam pengalaman hidup, maka budaya baru itu mendapat dukungan dari komponen masyarakat dan terisolasi secara terus-menerus maka perlahan-lahan budaya baru itu, apa pun bentuknya akan diterima masyarakat.

2.      Acculturation theory (teori akulturasi) atau teori percampuran.

Era globalisasi tak hanya berpengaruh terhadap pola komunikasi dan sisitem informasi, lebih dari itu, konsekuensi terjadinya pembauran budaya global, baik ranah fisik maupun mental. Sarana tekhnologi informasi dan transportasi telah mempermudah hubungan antar budaya semakin cepat dan kuat. Dalam era informasi, hubungan antarmanusia tak hanya sebatas satu wilayah antarnegara, tetapi mencakup manusia sejagat. Kemudahan hubungan (relasi) dan interaksi antarsesama manusia dan berbagai komponen budaya menjadi bagian dari hubungan dalam dakwah antar budaya. Dari landasan teori ini, percampuran budaya karena interaksi manusia akan kehadiran bentuk budaya baru merupakan keniscayaan. Setiap manusia, komponen bangsa penghuni bumi ini memiliki kebudayaan, bahkan kebudayaan unggulan masing-masing anggota masyarakat untuk saling tukar secara terus-menerus dalam proses kehidupannya

3.      Receptie theory (teori resepsi).

Menerima sepenuhnya atau menerima sebagian gagasan budaya yang lain adalah landasan utama teori ini. Penerimaan bisa terjadi karena gagasan dan budaya baru itu dianggap lebih baik dan menjanjikan terhadap perbaikan nasib hidup masyarakat. Fakta sejarah pengalaman ideal suatu masyarakat sering menjadi sandaran utama proses penerimaan terhadap gagasan-gagasan dan budaya baru dalam teori resepsi. Kondisi sosial masyarakat akan tampak lebih harmoni dan berjalan lebih terkendali karena terjadi kesepahaman dan atau paksaan.

4.      Complementery theory (teori komplementer)

Terjadi proses pertukaran antar budaya di dunia berjalan dengan cepat sehingga memungkinkan terjadi gesekan dan perpaduan budaya-budaya tersebut. Pada kenyataannya tak sepenuhnya suatu budaya baru/budaya lain dapat diterima pihak suatu masyarakat dengan mulus bahkan bisa terjadi penolakan. Akan tetapi lambat laun sebagian budaya luar dan baru itu diterima, bahkan dijadikan model dalam hubungan interaksi antar masyarakat. Antara budaya baru suatu masyarakat dan budaya lainnya bukan saling berbenturan (clash culture), tetapi menjadi budaya yang saling mengisi (complementary culture), Dengan teori-teori di atas, maka akan lebih membantu mengenali

              

 

 

A.    Kesimpulan

Dari uraian pada tulisan ini, dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip dakwah antarbudaya adalah pedoman dasar dalam menyampaikan dakwah pada masyarakat yang terdiri dari berbagai macam budaya, sehingga dakwah yang disampaikan kepada mereka dapat diterima. Perbedaan yang ada dalam kehidupan manusia seperti perbedaan budaya bukan menjadi penghalang dalam pelaksanaan dakwah, bahkan bisa menjadi bahan materi dakwah dengan mengupayakan agar budaya yang berkembang di tengah-tengah masyarakat tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam, dengan berpedoman pada prinsip-prinsip dakwah yang telah diuraikan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abdullah, Ali.  Antropologi Dakwah. Cirebon: KPI Press. 2004.

Acep Aripudin, Dakwah Antarbudaya, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2012.

Ahmad, A. “Dakwah Islam dan Perubahan Sosial: Suatu Kerangka Pendekatan dan Permasalahan” Dakwah dan Perubahan Sosial” I. Yogyakarta: Bima Putra. 1993

Alo Liliweri, Dasar-dasat komunikasi antar budaya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2011.

Alo liliweri, Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya, Yogyakarta: LKiS Yogyakarta, 2007.

Arifudin, Acep dan Sambas. Dakwah Damai, Pengantar Dakwah Antar Budayai, Bandung: PT. Remaja RosdaKarya,2007.

Qardhawi, Yusuf.. Fatwa-Fatwa, Kontemporer Jilid 2, Jakarta: Gema Insani Press. 1996.

Aziz, A. M. Dakwah Pemberdayaan Masyarakat Paradigma Aksi Metodologis. Yogyakarta: Pustaka Pesantren. 2005.

Bachtiar Effendy, Masyarakat Agama dan Pluralisme Keagamaan: Perbincangan Mengenai Islam, Masyarakat Madani dan Etos Kewirausahaan, Yogyakarta: Galang Press, 2001.

Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat, Cet. IV; Jakarta:Kencana Prenada Group, 2009

Didin Hafidhuddin, Dakwah Aktual, Jakarta: Gema Insani, 1998

Harahap, Syahrin, Teologi Kerukunan Jakarta : Prenada Media Group, 2011

Koentjaraningrat. Sejarah Teori Antropologi II. Jakarta: UI Press 2007

Liliweri, Alo. Komunikasi Verbal dan Nonverbal. Bandung: PT Citra Aditya Bakti.1994

Mahfud, S. Nuansa Fiqih Sosial. Yogyakarta: LKiS. 2003

Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah,Jakarta : Prenada Media, 2004

Mohammad, Sholehi, Komunikasi Lintas Budaya, Bandung : Simbiosa Rektama Media, 2015.

Mulyana, Deddy & Jalaluddin Rakhmat (ed), Komunikasi Antar Budaya, Panduan Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda Budaya, Bandung : Remaja Rosdakarya, 2005

Mulyana, Deddy, Komunikasi Antar Budaya, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005.

Pimay, Wafiah Awaludin, Sejarah Dakwah. Semarang: Rosail. 1996.

Qardhawi, Yusuf. Fatwa-Fatwa, Kontemporer Jilid 2, Jakarta: Gema Insani Press 2005

Rakhmat, Jalaluddin, Psikologi Komunikasi, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005.

Sa‟id Bin  Ali bin Wahif al-Qahtani, Al-Hikmah fi al-Da’wah ila Allah Ta’ala, terj. Mansyur Hakim, Dakwah Islam Dakwah Bijak, Cet. I Jakarta: Gema Insani Press, 1994.

Soekanto, Soerjono. Sosiologi Suatu Pengantar , Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. 2009.

Suranto, Komunikasi Antar Budaya, Yogyakarta:Graha Ilmu, 2010

 

Jurnal

Ahmad, Nur. Mewujudkan Dakwah Antar Budaya dalam Perspektif Islam. AT-TABSYIR: Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam, [S.l., v.3 n.1,p.21-40, januari. 2016.

Eko Saputro, Komunikasi Antarbudaya Etnis Lokal Dengan Etnis Pendatang: Studi Pada Mahasiswa/I Fakultas Adab Dan Ilmu Budaya Uin Sunan Kalijaga Yogyakarta Jurnal Ilmu Komunikasi Vol. 8, No. 2, Desember 2019

Fachrur.Rozi,“Kontroversi Dakwah Inklusif”dalam Jurnal Ilmu Dakwah, Vol. 27, No.1, Januari-Juni, Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang, 2007

H. Baharuddin Ali, PRINSIP-PRINSIP DAKWAH ANTARBUDAYA . dalam Jurnal Berita Sosial. Edisi I. Desember 2013   

Heryadi, Hedi dan Hana Silvana. 2013. Komunikasi Antar Budaya dalam Masyarakat Multikultural. Kajian Komunikasi. Volume 1. Nomor 1

Muzaki. 2017. Dakwah Islam dan Kearifan Budaya Lokal. Jurnal Dakwah dan Komunikasi. Vol. 8. No. 1.

Tim Southphommanase, Grounding Multikultural Citizenship: From Minority Right to Civic Pluralism, dalam Journal Of Intercultural Studies, (Routlege Taylor and Francis Group, 2005), Vol. 26., h. 401.

Zaprulkhan, Dakwah Multikultural, Jurnal Dakwah dan Pengembangan Sosial Kemanusiaan Vol. 8, no. 1 (2017)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar