Aktivitas Komunikasi Lintas Verbal dan Non Verbal dalam Ilmu ad-Dakwah.
Tulisan ini bertujuan untuk
mengetahui bagaimana mengelola komunikasi lintas budaya yang efektif sebagai
sarana dakwah pada masyarakat yang multikultur sehingga hambatan-hambatan
komunikasi dapat diminimalisir. Memahami komunikasi lintas budaya bagi seorang
komunikator (dai) merupakan suatu keniscayaan dalam proses penyampaian
pesan-pesan agama agar pesan yang disampaikan dapat dipahami dan dimengerti
oleh komunikan (mitra dakwah). Hasil studi ini menunjukkan bahwa komunikator
lintas budaya apabila pesan dakwahnya dapat dipahami oleh para mitra dakwah
harus bisa mengelola komunikasi secara efektif, pertama, pengembangan
sensitivitas kultural yaitu kemampuan komunikator memahami budayanya sendiri
dan budaya orang lain, kedua, encoding dengan berhati-hati yaitu keterampilan
komunikator dalam mengalihbahasakan suatu makna ke dalam simbol secara tepat,
ketiga, selektif transmisi yaitu kepiawaian komunikator menggunakan media yang
cocok, keempat, decoding berhati-hati, yaitu kecakapan komunikator (dai) dalam
memaknai simbol, kelima, tindak lanjut yang tepat yaitu keterampilan perilaku
verbal dan nonverbal komunikator secara personal. Selain itu agar komunikasi
lintas budaya dapat efektif, komunikator harus memiliki kemahiran untuk
mengungkapkan pesan secara maksimal, kesanggupan untuk menterjemahkan isi dari
pesan, kemampuan untuk menyesuaikan kebudayaan pribadinya dengan kebudayaan
orang lain serta mempunyai kepiawaian untuk memberi jaminan atas dari
kebudayaan lain.
A.
Pembahasan
Dalam kebanyakan peristiwa komunikasi yang berlangsung, hampir
selalu melibatkan penggunaan lambang-lambang verbal dan non verbal secara
bersama-sama. Dalam banyak tindakan komunikasi, bahasa nonverbal menjadi
komplemen atau pelengkap bahasa verbal. Lambanglambang nonverbal juga dapat
berfungsi kontradiktif, pengulangan, bahkan pengganti ungkapan-ungkapan verbal,
misalnya ketika seseorang mengatakan terima kasih (perilaku verbal) maka orang
tersebut akan melengkapinya dengan tersenyum (perilaku nonverbal). Maka
komunikasi tersebut merupakan contoh bahwa perilaku verbal dan perilaku
nonverbal bekerja bersama-sama dalam menciptakan makna suatu perilaku
komunikasi. Namun, keduanya baik perilaku verbal maupun perilaku nonverbal akan
membantu kita dalam menginterpretasi total makna dari pengalaman komunikasi
mahasiswa asing dengan mahasiswa lokal.
A. Perilaku Verbal dalam Komunikasi Proses komunikasi
verbal merupakan kegiatan interaksi penyampaian dan penerimaan
pesan-pesan yang dilakukan melalui percakapan dan sarana yang digunakan adalah
bahasa dan kata-kata. Bahasa dan kata-kata merupakan bagian penting dalam cara
pengemasan 39 pesan-pesan. Salah satu fenomena yang mempengaruhi proses
komunikasi antar budaya adalah proses komunikasi verbal. Pada dasarnya, bahasa
verbal dan nonverbal tidak terlepas dari konteks budaya. Tidak mungkin bahasa
terpisah dari budaya. Setiap budaya mempunyai system bahasa yang memungkinkan
orang untuk berkomunikasi dengan orang lain. Budaya dibentuk secara kultural,
dan karena itu dia merefleksikan nilainilai dari budaya. Bahasa verbal. Bahasa
menjadi alat utama yang digunakan manusia untuk berkomunikasi dalam kehidupan
sehari-hari. Bahkan bahasa dapat dikategorikan sebagai unsur kebudayaan yang
berbentuk nonmaterial selain nilai, norma, dan kepercayaan. Simbol atau pesan
verbal adalah semua jenis simbol yang menggunakan satu kata atau lebih. Bahasa
merupakan suatu bagian yang sangat esensial dari manusia untuk menyatakan
dirinya maupun tentang dunia yang nyata. Adalah keyakinan yang naif kalau kita
menyederhanakan fungsi bahasa yang seolah-olah hanya menjadi alat untuk
menggambarkan pikiran dan perasaan saja. Yang lebih penting dari bahasa adalah
bagaimana memaknakan symbol atau tanda yang telah diorganisasikan dalam system
kebahasaan. Bahasa merupakan medium atau sarana bagi manusia yang berpikir dan
berkata tentang suatu gagasan sehingga boleh dikatakan
B. Perilaku Non Verbal dalam Komunikasi Proses komunikasi
Proses-proses verbal merupakan alat utama untuk pertukaran pikiran
dan gagasan, namun proses-proses ini sering dapat diganti oleh proses-proses
nonverbal. Menurut Alo LIliweri (1994:139) komunikasi nonverbal meliputi ekspresi wajah, nada suara,
gerakan anggota tubuh, kontak mata, rancangan ruang, pola-pola perabaan,
gerakan ekspresif, perbedaan budaya dan tindakan-tindakan nonverbal lain yang
tidak menggunakan kata-kata. Dalam proses-proses nonverbal yang relevan dengan
komunikasi lintas budaya, terdapat tiga aspek yang sangat berkaitan: perilaku
nonverbal yang berfungsi sebagai bentuk bahasa diam, konsep waktu, dan pengaturan
ruang. Perilaku nonverbal seseorang adalah akar budaya seseorang tersebut. Oleh
karena itu, posisi komunikasi nonverbal memainkan bagian yang penting dan
sangat dibutuhkan dalam interaksi komunikatif di antara hubungan antara
komunikasi verbal dengan kebudayaan jelas adanya, apabila diingat bahwa
keduanya dipelajari, diwariskan dan melibatkan pengertian-pengertian yang harus
dimiliki bersama. Dilihat dari ini, dapat dimengerti mengapa komunikasi
nonverbal dan kebudayaan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Perilaku
nonverbal merefleksikan banyak polapola budaya yang kiat dibutuhkan melalui
proses sosialisasi. Jika perilaku verbal kita hampir secara keseluruhan
berbentuk eksplisit dan merupakan proses kognitif, maka perilaku nonverbal kita
merupakan spontanitas, ambigu, dan hal-hal lain dibawah control kesadaran dan
ketidaksadaran. Ketika skema Hall dan Mehrabian (dalam Gudykunst dan Kim,
1992:79) mengatakan bahwa budaya berbeda dalam hal dari budaya konteks tinggi
ke budaya konteks rendah.
C. Aktivitas
Komunikasi Lintas Budaya Verbal & Non Verbal dalam Ilmu ad-Dakwah
Aktivitas verbal adalah bagaimana komunikasi verbal yang biasa
dilakukan mahasiswa asing dan mahasiswa lokal sehari-hari. Simbol atau pesan
verbal adalah semua jenis symbol yang menggunakan katakata atau lebih untuk
berkomunikasi dan suatu system kode verbal disebut bahasa.
Aktivitas nonverbal
dilukiskan dalam frase. Lewat perilaku nonverbal, kita dapat mengetahui suasana
emosional seseorang, apakah ia bahagia, bingung atau sedih. Perilaku nonverbal
yang berfungsi sebagai bahasa diam, konsep waktu dan penggunaan dan pengaturan
ruang. Perilaku nonverbal yang berhubungan dengan komunikasi antar budaya ini biasanya adalah sentuhan. Sentuhan sebagai
bentuk komunikasi dapat menunjukkan bagaimana komunikasi nonverbal
Daftar Pustaka
Liliweri, Alo. 1994. Komunikasi Verbal dan Nonverbal. Bandung: PT
Citra Aditya Bakti.
Mulyana, Deddy, Komunikasi
Antar Budaya, Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2005.
Rakhmat, Jalaluddin, Psikologi
Komunikasi, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar